Hari Sastra: Mengapa Dunia Merayakan Sastra? Sebuah Kajian Historis, Kultural, dan Kognitif
![]() |
| Ilustrasi (Pic: Meta AI) |
Hari Sastra bukan sekadar perayaan bagi penulis. Ia adalah pengingat bahwa selama cerita-ceritanya masih dibaca, peradabannya belum benar-benar hilang
Hari Sastra merupakan peringatan yang bertujuan mengapresiasi sastra sebagai salah satu fondasi peradaban manusia.
Berbeda dengan hari-hari internasional yang ditetapkan secara resmi oleh United Nations atau UNESCO, berbagai “Hari Sastra” memiliki asal-usul yang berbeda tergantung negara dan komunitas sastra.
Salah satu tanggal yang sering diperingati di Indonesia adalah 3 Juli, yang dikenal di kalangan sastrawan sebagai Hari Sastra Indonesia, meskipun statusnya lebih bersifat kultural daripada hari nasional yang ditetapkan pemerintah.
Pendahuluan
Banyak orang mengira Hari Sastra adalah hari libur resmi atau peringatan internasional. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
“Hari Sastra” justru lahir dari komunitas sastra sendiri sebagai bentuk penghormatan terhadap bahasa, imajinasi, kebebasan berpikir, dan warisan intelektual manusia.
Sastra dipandang bukan sekadar hiburan, tetapi sebagai media untuk memahami manusia melalui cerita, puisi, drama, dan esai.
Mengapa diperingati setiap 3 Juli?
Di Indonesia, 3 Juli dikenal luas sebagai Hari Sastra Indonesia.
Tanggal ini dipilih oleh komunitas sastra pada awal 2010-an dan dikaitkan dengan hari kelahiran Abdul Muis (3 Juli 1886), salah satu pelopor sastra Indonesia modern sekaligus penulis novel Salah Asuhan.
Pemilihan tanggal tersebut dimaksudkan sebagai simbol penghargaan terhadap perkembangan sastra Indonesia modern, meskipun bukan merupakan hari nasional yang ditetapkan melalui keputusan pemerintah.
Mengapa Sastra dianggap Penting?
Dalam ilmu kognitif dan psikologi, sastra memiliki berbagai fungsi.
1. Melatih empati
Ketika membaca novel, otak melakukan simulasi sosial. Kita belajar memahami pikiran orang lain, merasakan konflik batin, serta mengenali emosi yang berbeda.
Penelitian menunjukkan bahwa membaca fiksi dapat meningkatkan kemampuan theory of mind, yaitu kemampuan memahami perspektif orang lain.
2. Menyimpan memori peradaban
Sebelum ada internet, bahkan sebelum ada ilmu sejarah modern, manusia menyimpan pengalaman melalui mitos, epos, syair, dan hikayat.
Tanpa sastra, banyak kebudayaan mungkin telah hilang.
3. Laboratorium imajinasi
Sastra memungkinkan manusia menguji berbagai kemungkinan tanpa harus mengalaminya secara langsung.
Misalnya bagaimana rasanya hidup di masa depan, bagaimana rasanya kehilangan, serta bagaimana rasanya menjadi orang lain.
Ironi Penulis Sastra
Dalam ekonomi budaya, sastra termasuk barang budaya (cultural goods). Nilainya sering tinggi secara intelektual, tetapi rendah secara komersial.
Akibatnya, banyak penulis bekerja di bidang lain, baru menulis pada malam hari, atau menulis semata karena kepuasan batin.
Sebaliknya, penulis yang sudah mapan sering menjadikan menulis sebagai hobi, ruang berbagi gagasan, serta bentuk aktualisasi diri.
Kenapa Hari Sastra Sering “Sepi”?
Karena sastra tidak memiliki efek viral secepat hiburan digital. Padahal, pengaruh sastra jauh lebih panjang.
Sebuah novel dapat mengubah cara berpikir, melahirkan gerakan sosial, bahkan memengaruhi politik dan filsafat.
Kalau hari ini sudah 5 Juli, berarti memang lewat satu hari dari peringatan 3 Juli. Tapi dalam dunia sastra, hampir tidak ada kata terlambat.
Orang masih membaca Hamlet lebih dari 400 tahun setelah ditulis, masih membaca Laskar Pelangi bertahun-tahun setelah terbit, masih membaca Salah Asuhan lebih dari satu abad kemudian.
Sastra hidup bukan karena tanggal, melainkan karena selalu menemukan pembaca baru.
Hari Sastra bukan sekadar perayaan bagi penulis. Ia adalah pengingat bahwa sebuah bangsa dapat kehilangan gedung, kehilangan teknologi, bahkan kehilangan kekuasaan. Namun selama cerita-ceritanya masih dibaca, peradabannya belum benar-benar hilang.
Menulis sebagai candu, dari sudut pandang psikologi kreativitas adalah ketika seseorang larut dalam proses menulis, ia dapat mengalami flow, yaitu kondisi konsentrasi mendalam yang membuat waktu terasa menghilang dan aktivitas itu sendiri menjadi sumber kepuasan.
Bagi sebagian penulis, yang dicari bukan tepuk tangan atau royalti, melainkan momen ketika sebuah gagasan akhirnya menemukan bentuk yang tepat di atas kertas.
Referensi
Bowlby, J. (1969). Attachment and loss: Vol. 1. Attachment. Basic Books.
Csikszentmihalyi, M. (1990). Flow: The psychology of optimal experience. Harper & Row.
Mar, R. A., Oatley, K., & Peterson, J. B. (2009). Exploring the link between reading fiction and empathy. Communications, 34(4), 407-428.
Teeuw, A. (1984). Sastra dan ilmu sastra. Pustaka Jaya.
Wellek, R., & Warren, A. (1956). Theory of literature (3rd ed.). Harcourt, Brace & World.

Komentar
Posting Komentar