Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kriminal

Ketika Nyawa Lebih Murah dari Sandal: Krisis Moral Anak Bangsa di Era Kemarahan Instan

Gambar
Ilustrasi (Pic: Meta AI) Yang lebih menakutkan adalah bagaimana sebuah masyarakat perlahan terbiasa melihat kemarahan lebih penting daripada kemanusiaan Indonesia kembali diguncang kasus kekerasan antarremaja yang berujung kematian. Di Surabaya, seorang remaja tewas diduga akibat pengeroyokan yang dipicu perselisihan soal sandal Crocs yang hilang.  Di kasus lain, seorang anak dikabarkan koma setelah dipalak dan berusaha menghindari pelaku hingga tersengat listrik.  Peristiwa semacam ini menimbulkan pertanyaan yang mengusik:  Apa yang sedang terjadi pada moral masyarakat Indonesia?  Apakah ini sekadar kriminalitas biasa? Atau gejala yang lebih dalam berupa krisis empati, kegagalan pendidikan karakter, dan budaya kekerasan yang makin dinormalisasi? Kronologi yang Membuat Orang Waras Geleng Kepala Kasus Surabaya bermula dari hilangnya sandal Crocs yang diklaim bernilai sekitar Rp1,5 juta.  Perselisihan itu kemudian berkembang menjadi pengeroyokan yang menyebabkan s...

Ketaatan yang Tersesat: Otoritas Religius, Koersi Psikologis & Distorsi Ajaran dalam Kasus Kekerasan Seksual di Lembaga Keagamaan

Gambar
  Ilustrasi (Pic: Grok AI) Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Sang Pencipta Kasus pelecehan oleh figur otoritas di lingkungan pesantren menyingkap persilangan berbahaya antara  kharisma religius ,  relasi kuasa yang timpang , dan  kerentanan psikologis santri .  Tulisan ini menganalisis mengapa korban bisa “tampak patuh”, bagaimana ajaran tentang ketaatan disalahpahami, dan apa koreksi normatif dalam Islam serta standar hukum modern untuk mencegah dan menindak pelanggaran. Mengapa Korban Bisa “Patuh”? (Bukan Karena Mereka Setuju) Dalam psikologi sosial, perilaku itu dijelaskan oleh beberapa mekanisme: a. Authority Bias Manusia cenderung mematuhi figur berotoritas, terlebih bila dibungkus simbol religius. b. Coercive Control (Koersi terselubung) Ancaman implisit: “kalau melawan, berdosa” takut dikeluarkan, dipermalukan, atau disanksi sosial  c. Grooming Pelaku membangun kepercayaan bertahap: memberi perhatian khusus mengisolasi korban...