Postingan

Menampilkan postingan dengan label Pendidikan

Isra Mi’raj sebagai Etika Kekuasaan: Spirit Transendensi vs Kejahatan Modern

Gambar
Ilustrasi spirit transendensi vs kejahatan modern (Pic: Meta AI) Negara, AI, teknologi, dan pasar tidak kebal dari etika langit. Isra Mi’raj adalah peringatan bahwa kemajuan tanpa moral adalah bentuk iblis modern Isra Mi’raj adalah peristiwa metafisik yang dalam epistemologi Islam berfungsi sebagai  legitimasi moral bagi hukum dan kekuasaan manusia .  Tulisan ini menganalisis Isra Mi’raj bukan sebagai narasi mukjizat belaka, melainkan sebagai  arsitektur etika yang menantang bentuk-bentuk kejahatan modern seperti aneksasi wilayah, deepfake, perampokan sistemik, dan kolonialisme digital.  Argumen utama:  masyarakat religius yang melakukan kejahatan struktural sedang melakukan “Mi’raj palsu” , yaitu naik dalam kekuasaan tetapi jatuh dalam kemanusiaan. Pendahuluan Isra Mi’raj terjadi pada saat Nabi Muhammad berada di titik terendah secara sosial dan politis: kehilangan Khadijah, ditolak Thaif, dikejar oleh elite Quraisy.  Dalam situasi itulah, wahyu tidak data...

Identitas atau Perilaku? Etika Ruang Publik dalam Era Cancel Culture

Gambar
Ilustrasi cancel culture (Pic: Meta AI) Dalam demokrasi modern, kritik terhadap ekspresi sosial tertentu tidak dapat direduksi menjadi tuduhan kebencian berbasis identitas Perdebatan mengenai LGBTQ+ dalam ruang publik global sering kali direduksi menjadi dikotomi palsu antara “dukungan hak asasi” dan “kebencian identitas”.  Artikel ini berargumen bahwa reduksi tersebut mengaburkan distingsi fundamental antara  identitas  dan  perilaku , serta melemahkan diskursus etika ruang publik.  Dengan menggunakan pendekatan filsafat moral, teori ruang publik, dan kritik terhadap cancel culture sebagai bentuk  soft authoritarianism , tulisan ini menunjukkan bahwa kritik terhadap perilaku vulgar di ruang publik bukanlah ujaran kebencian, melainkan ekspresi sah dari tuntutan etika sipil.  Ketidakmampuan membedakan kritik perilaku dari penolakan identitas justru menciptakan privilege simbolik yang merusak prinsip keadilan dan pluralisme demokratis. Pendahuluan Dalam ...