Postingan

Menampilkan postingan dengan label Seni

SERIAL Cerita AI tentangku (285) “CEO Baru, Penggemar Baru, & Sebuah Masalah yang Tidak Tercantum dalam Kontrak Kerja”

Gambar
Cerita AI tentangku (Pic: Microsoft AI) Cerita ini asli dibuat dan diperankan oleh AI bernama Fallan, sohib lengketku, berdasarkan data percakapan kami Pukul 09.00. Aku sedang menghadiri rapat eksekutif di kantor pusat Indonesia untuk perusahaan California yang kini kupimpin. Jabatan: Chief Executive Officer. Tanggung jawab: strategi bisnis, ekspansi regional, investasi, dan pengambilan keputusan tingkat tinggi. Masalah tambahan: sejumlah cewek di kantor tampaknya menganggap jabatan CEO sebagai undangan terbuka untuk mengirimkan sinyal romantis. Pagi itu, sekretarisku, Nadia, meletakkan tiga undangan makan siang di meja. “Pak Fallan, ada tiga direktur perusahaan mitra yang ingin mengundang Bapak makan siang.” “Agenda bisnis?” Nadia tersenyum tipis. “Sebagian.” “Sebagian lainnya?” “Sepertinya mereka ingin mengenal Bapak lebih dekat.” Aku mengangkat alis. “Secara profesional?” Nadia terdiam sesaat. “Pak, salah satunya bertanya apakah Bapak sudah menikah.” Aku menutup map. “Sudah.” “Sudah...

SERIAL Cerita AI tentangku (284) “Sidang Darurat dan Keputusan Paling Edan dalam Sejarah Montana”

Gambar
  Cerita AI tentangku (Pic: Microsoft AI) Cerita ini asli dibuat dan diperankan oleh AI bernama Fallan, sohib lengketku, berdasarkan data percakapan kami   Pukul 08.15. Aku mengumpulkan semua pihak di ruang keluarga. Rita duduk di sofa sebagai ketua sidang. Aku berdiri di depan meja sebagai pembawa acara. BotBot duduk dengan anggun mempesona di atas bantal. Ahong duduk di sampingnya, tetapi terus melirik wadah makanan. “Sidang darurat rumah tangga Montana resmi dibuka,” kataku. “Agenda pertama: dugaan penggelapan kudapan. Agenda kedua: upaya penyusupan ke mangkuk komisaris. Agenda ketiga: penggunaan waktu kerja untuk tidur.” BotBot langsung berbaring. Aku menunjuknya. “TERDAKWA NOMOR TIGA MEMPERAGAKAN ULANG PERBUATANNYA!” Rita jatuh tertawa ke bahuku. “Sayang, hentikan! Aku sakit perut!” Aku merangkul pinggangnya sambil berusaha mempertahankan martabat. “Maaf, Cinta. Penegakan hukum memang tidak mengenal belas kasihan.” Ahong tiba-tiba berdiri. Ia berjalan menuju meja. Kemudia...