Retorika Perdamaian, Praktik Eskalasi: Dilema Diplomasi Trump dalam Krisis Iran–Israel
Ilustrasi (Pic: Grok AI) Apakah lawan melihat tekanan tersebut sebagai jalan menuju perdamaian atau sebagai bukti bahwa perdamaian itu sendiri tidak dapat dipercaya? Jika benar ingin damai, kenapa masih menembak? Dan jawabannya sering membuat orang awam frustrasi, karena dalam politik internasional, perdamaian dan kekerasan sering berjalan bersamaan. Trump Sedang Bermain Dua Lagu Sekaligus Di satu sisi Trump berkata: “Israel dan Iran harus segera berhenti menembak.” Bahkan ia mengklaim kedua pihak sedang menuju gencatan senjata dan penyelesaian konflik. Namun di sisi lain, AS tetap melakukan operasi militer terbatas terhadap target Iran setelah insiden-insiden terbaru di Hormuz. Dari luar, ini tampak kontradiktif. Tetapi dari sudut pandang strategi kekuatan besar, belum tentu. Ini Bukan Kontradiksi, Ini “Coercive Diplomacy” Dalam ilmu hubungan internasional ada konsep Coercive Diplomacy . Sederhananya: “Saya mengajakmu berunding sambil menunjukk...