Paradoks Cinta: Mengapa Tuhan Menciptakan Luka?
Ilustrasi (Pic: Grok AI) Bukan luka yang mendefinisikan cinta, melainkan keberanian untuk tetap mencintai meskipun luka selalu menjadi kemungkinan Di antara seluruh pengalaman manusia, cinta mungkin merupakan paradoks terbesar, sebab cinta membuat manusia paling bahagia sekaligus paling menderita. Ia melahirkan keluarga, peradaban, seni, dan pengorbanan. Namun pada saat yang sama, ia juga melahirkan air mata, kehilangan, patah hati, bahkan peperangan. Lalu muncul pertanyaan ontologis: Mengapa Tuhan menciptakan sesuatu yang begitu indah jika di dalamnya tersembunyi kemungkinan luka? Apakah luka merupakan cacat dalam cinta? Ataukah justru bagian dari hakikat cinta itu sendiri? Paradoks yang Tidak Bisa Dihindari Coba bayangkan. Kalau manusia tidak pernah mencintai, maka ia juga tidak akan patah hati, tidak akan kehilangan, juga tidak akan menangis. Kedengarannya indah. Tetapi, ia juga tidak akan mengenal kasih ibu, tidak akan merindukan ayah, tidak akan menyayangi anak, ...