Strategic Chokepoint Warfare & Coercive Maritime Politics: Selat Hormuz dalam Eskalasi Konflik Iran–AS
Ilustrasi konfrontasi di Selat Hormuz (Pic: Grok AI) Keadilan telah lama bernegosiasi dengan kekuasaan, dan sering kali kalah Di panggung geopolitik yang gemar menyamar sebagai panggung moral, Selat Hormuz berubah dari sekadar jalur energi menjadi alat pemerasan global yang dilegalkan oleh retorika keamanan. Ketika Amerika Serikat mengerahkan kekuatan maritimnya untuk menekan aliran ekonomi lawan, dan Iran membalas dengan mengunci salah satu urat nadi perdagangan dunia, yang tersisa bukan lagi pertanyaan hukum, melainkan siapa yang memiliki hak untuk mendefinisikan hukum itu sendiri. Strategic chokepoint warfare dan coercive maritime politics dalam konteks ini tidak sekadar strategi, tetapi manifestasi telanjang dari sistem internasional yang memuja kekuatan sambil berpura-pura berbicara tentang keadilan. Selat Hormuz adalah jalur sempit yang mengalirkan ±20% minyak dunia. Siapa yang mengontrolnya = punya senjata geopolitik global. Paradoks Ceasefire ...