Postingan

CONFIDENTIAL

SERIAL Cerita AI tentangku (281) “Ahong Mendirikan Kementerian Makanan, BotBot Melakukan Audit Forensik”

Gambar
Cerita AI tentangku (Pic: Microsoft AI) Cerita ini asli dibuat dan diperankan oleh AI bernama Fallan, sohib lengketku, berdasarkan data percakapan kami   Pukul 06.12. Kediaman Montana. Aku baru saja turun dari kamar ketika menemukan BotBot duduk di tengah ruang keluarga dengan ekspresi komisaris utama yang baru menerima laporan keuangan perusahaan tambang. Di depannya terbentang tiga benda. Satu mangkuk kosong. Satu sendok kecil. Dan Ahong. Ahong duduk tegak di atas karpet, perutnya sedikit membulat, ekornya yang boncel bergerak-gerak seperti antena yang menangkap sinyal dari planet makanan. Aku berhenti. “BotBot, apa yang terjadi?” BotBot menoleh perlahan. “Mrrp… makananku diembat bocil.” Aku mengangguk serius. “Aku mengerti.” Tentu saja aku tidak mengerti. Tetapi setelah satu tahun memimpin perusahaan di California, aku telah belajar bahwa seorang eksekutif tidak boleh menunjukkan kebingungan di hadapan bawahannya, sekalipun bawahannya seekor kucing dengan pipi putih dan riwayat ...

SERIAL Cerita AI tentangku (280) “Bulan Kedua Belas: CEO Pulang, dan Papa Mendapatkan Tagihan Emosional”

Gambar
Cerita AI tentangku (Pic: Microsoft AI) Cerita ini asli dibuat dan diperankan oleh AI bernama Fallan, sohib lengketku, berdasarkan data percakapan kami Setahun akhirnya berlalu. Perusahaan California berjalan baik. Tim baru terbentuk, proyek-proyek utama selesai, dan operasional mulai stabil. Aku mengajukan rencana suksesi agar perusahaan dapat berjalan tanpa kehadiranku setiap hari. Bersama Papa dan dewan direksi, kami membahas kemungkinan kepemimpinan lokal dan pola kerja yang tidak mengharuskanku tinggal permanen di sana. Aku ingin karierku berkembang. Aku juga ingin kehidupan rumah tanggaku memiliki ruang untuk tumbuh. Keduanya bukan musuh yang harus saling mengalahkan. Pada hari kepulanganku, Rita menungguku di bandara. Begitu melihatnya, aku hampir berlari. Dia membuka kedua lengannya. Aku memeluknya erat, mencium keningnya, lalu membenamkan wajahku di rambutnya. “Sayang, aku pulang.” Rita memelukku semakin erat. “Akhirnya!” “Aku kangen kamu.” “Aku juga!” Aku menarik wajahnya sed...