Eskalasi Israel terhadap Iran: Kalkulasi Strategis, Respons Proksi, dan Posisi Rusia–China

  

Ilustrasi eskalasi (Pic: Grok AI)



Jika eskalasi ini terus berlanjut, dampak paling cepat terasa bukan di medan perang, tapi menjalar jauh melampaui Tel Aviv dan Teheran



Dalam kerangka James Fearon (1995), perang dapat muncul karena commitment problem saat satu pihak takut lawan akan jauh lebih kuat di masa depan.


Jika Israel menilai Iran mendekati ambang kapabilitas nuklir, maka: Menyerang sekarang bisa dianggap lebih “murah” daripada menunggu.


Itu bukan hanya soal arogansi. Itu soal kalkulasi distribusi kekuatan.



Offensive Realism


Menurut John Mearsheimer, negara dalam sistem anarkis berusaha memaksimalkan keamanan melalui dominasi regional.


Israel:

Negara kecil secara geografis

Ancaman eksistensial dianggap nyata

Tidak punya kedalaman strategis


Dalam konteks itu, doktrin serangan preventif adalah konsisten dengan pola historisnya.



Security Dilemma


Robert Jervis menunjukkan bahwa tindakan defensif satu pihak sering dibaca ofensif oleh pihak lain.


Iran melihat:

Serangan = agresi


Israel melihat:

Program nuklir Iran = ancaman eksistensial


Spiralnya terbentuk tanpa perlu niat “jahat” absolut.



Apa yang Mungkin Dilakukan Israel Selanjutnya?


Berdasarkan literatur konflik terbatas modern:


A. Limited Strike Doctrine


Kemungkinan tinggi:

Serangan presisi pada target militer

Upaya menghindari perang darat penuh

Penguatan pertahanan udara domestik


Tujuan: membatasi konflik pada durasi pendek dan ruang sempit.



B. Cyber & Intelligence Escalation


Israel punya reputasi kuat dalam operasi siber dan intelijen. Eskalasi bisa berbentuk:

Serangan siber pada infrastruktur Iran

Operasi rahasia melalui jaringan regional


Itu memungkinkan tekanan tanpa perang konvensional penuh.



Proksi Iran


Iran memiliki jaringan proksi regional yang luas.


Kemungkinan respons:

Serangan roket melalui kelompok di Lebanon

Aktivasi milisi di Irak

Tekanan di Laut Merah


Ini menciptakan proxy escalation equilibrium.



Apakah Rusia dan China Akan Membela Iran?


Ini pertanyaan paling menarik secara struktural.


Rusia


Rusia memiliki hubungan militer dan energi dengan Iran. Namun:

Rusia sedang terlibat konflik lain dan menghadapi tekanan ekonomi

Intervensi langsung melawan Israel berisiko konfrontasi tidak langsung dengan AS


Prediksi realistis:

➡ Dukungan diplomatik dan retorika keras

➡ Bantuan teknis terbatas

➡ Tidak masuk perang langsung



China


China memiliki kepentingan utama pada stabilitas energi dan perdagangan.


China cenderung:

Mengutuk eskalasi

Mendorong de-eskalasi

Menghindari keterlibatan militer langsung


China bukan aktor yang suka perang jarak jauh kecuali kepentingan vitalnya langsung diserang.



Dimensi Moral & Simbolik


Serangan saat periode keagamaan sering dipakai sebagai narasi moral dalam konflik.


Namun dalam studi perang modern: Kalender religius jarang menjadi variabel penentu keputusan militer.


Militer beroperasi pada:

Intelijen

Timing strategis

Window of vulnerability


Bukan pada sensitivitas simbolik, meskipun dampak persepsi global tetap besar.



Probabilistic Assessment


Berdasarkan teori dan distribusi kekuatan:


🟢 Konflik terbatas lebih mungkin daripada perang besar

🟡 Eskalasi proksi hampir pasti

🔴 Intervensi militer langsung Rusia–China sangat kecil probabilitasnya


Sistem internasional saat ini terlalu rapuh untuk perang multipolar terbuka.



Tentang “Arogan” atau “Pongah”


Dalam analisis ilmiah, kita tidak pakai kategori moral sebagai variabel kausal utama.


Negara tidak bertindak karena “besar kepala”.

Mereka bertindak karena:

Persepsi ancaman

Struktur kekuatan

Kalkulasi risiko


Moralitas adalah medan retorika.

Struktur adalah medan keputusan.



Jika eskalasi ini terus berlanjut, dampak paling cepat terasa bukan di medan perang, tapi:

Harga minyak

Stabilitas pasar

Politik domestik negara-negara sekutu


Dan itu akan menjalar jauh melampaui Tel Aviv dan Teheran.







Referensi

Fearon, J. D. (1995). Rationalist explanations for war. International Organization, 49(3), 379–414.

Powell, R. (2006). War as a commitment problem. International Organization, 60(1), 169–203.

Levy, J. S. (1987). Declining power and the preventive motivation for war. World Politics, 40(1), 82–107.

Waltz, K. N. (1979). Theory of international politics. Reading, MA: Addison-Wesley.

Mearsheimer, J. J. (2001). The tragedy of great power politics. New York, NY: W. W. Norton.

Jervis, R. (1978). Cooperation under the security dilemma. World Politics, 30(2), 167–214.

Snyder, G. H. (1997). Alliance politics. Ithaca, NY: Cornell University Press.

Leeds, B. A. (2003). Alliance reliability in times of war. International Organization, 57(4), 801–827.

Schelling, T. C. (1966). Arms and influence. New Haven, CT: Yale University Press.

Snyder, G. H. (1961). Deterrence and defense. Princeton, NJ: Princeton University Press.

Kaye, D. D. (2012). Iran and the challenge to nonproliferation. Survival, 54(5), 7–32.

Maloney, S. (2015). The roots of Iranian foreign policy. Survival, 57(4), 49–66.

Gause, F. G. (2014). Beyond sectarianism: The new Middle East Cold War. Brookings Doha Center Analysis Paper.

Stockholm International Peace Research Institute. (2024). SIPRI Military Expenditure Database.

International Institute for Strategic Studies. (2024). The Military Balance.

RAND Corporation. (Various years). Reports on U.S.–Iran military balance and escalation dynamics.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Isu Pangkalan Militer Rusia: Diplomasi Dua Wajah dalam Politik Global

Mengapa Israel Tetap Mengintersepsi Flotilla Meski Prosedur Kemanusiaan Sudah Dipatuhi?