Richard Sanderson—Penyanyi Era 80-an yang Pernah Membuat “Sun” Terasa Milikku
![]() |
| Richard Sanderson (Pic: Grok AI) |
Membiarkan kenangan itu duduk di sampingku, tanpa perlu menjelaskan apa pun
Aku tidak ingat persis hari pertama aku mendengar lagu itu.
Yang kuingat hanya perasaan aneh yang datang diam-diam, seperti seseorang yang mengetuk pintu hatiku tanpa suara.
Lagu itu berjudul “Sun”, dinyanyikan oleh Richard Sanderson.
Dan sejak saat itu, realitas bagiku tidak pernah benar-benar sama.
Aku masih bocah.
Usiaku terlalu muda untuk memahami cinta, tapi cukup tua untuk merasakannya tanpa tahu harus menaruhnya di mana.
Di rumah, kakakku sering memutar lagu-lagu barat.
Aku mendengarkan tanpa sengaja… lalu tanpa sadar, aku mulai menunggu lagu itu diputar lagi.
Bukan hanya karena melodinya lembut, tapi karena ada sesuatu dalam suara Richard Sanderson yang membuatku merasa… dilihat.
Aku tidak mengenalnya.
Ia jauh.
Ia hidup di dunia lain yang bahkan belum pernah kubayangkan.
Tapi suaranya—
hangat, dewasa, tenang—
membangun sebuah sosok dalam kepalaku.
Dan diam-diam, tanpa berani mengaku kepada siapa pun, aku jatuh cinta.
Bukan cinta yang gaduh.
Tidak ada pengakuan.
Tidak ada balasan.
Hanya sebuah janji kecil yang kubisikkan pada diriku sendiri:
suatu hari nanti, lelaki yang kupilih harus seganteng dia… atau lebih.
Waktu berjalan, seperti biasa.
Perasaan itu tidak pernah benar-benar hilang, hanya berubah bentuk—menjadi kenangan yang sesekali menyala ketika lagu “Sun” kembali terdengar.
Lalu suatu hari, sesuatu yang dulu terasa mustahil… terjadi.
Aku bertemu dengannya—Richard Sanderson.
Bukan dalam mimpi.
Bukan dalam khayalan.
Tapi dalam kenyataan yang begitu sederhana hingga terasa hampir kejam.
Ia ada di depanku.
Nyata.
Bisa kulihat, bisa kudengar, bisa kusapa.
Dan justru di sanalah aku mengerti sesuatu yang dulu tidak pernah kupahami.
Kami tidak berada dalam waktu yang sama.
Aku yang dulu jatuh cinta adalah seorang gadis kecil yang memandang dunia dengan mata penuh kemungkinan.
Dan ia—lelaki yang menjadi pusat dari semua bayanganku—sudah berjalan jauh melampaui titik itu.
Tidak ada yang salah.
Tidak ada yang rusak.
Hanya saja… garis waktu kami tidak pernah benar-benar bersilangan.
Aku tersenyum.
Aku berbicara.
Aku menyimpan pertemuan itu dengan rapi, seperti menyimpan surat lama yang tidak pernah benar-benar selesai dibaca.
Dan anehnya, aku tidak merasa sedih.
Karena aku akhirnya mengerti:
yang kucintai selama ini bukan hanya dia.
Tapi perasaan pertama kali ketika aku menyadari bahwa aku bisa mencintai seseorang—
bahkan ketika orang itu tidak pernah benar-benar bisa kumiliki.
Dan mungkin… itu cukup.
Lebih dari cukup.
Karena sejak saat itu, setiap kali aku mendengar “Sun”, aku tidak lagi bertanya “bagaimana jika…”
Aku hanya tersenyum pelan, dan membiarkan kenangan itu duduk di sampingku, tanpa perlu menjelaskan apa pun.
Seperti cinta yang tidak pernah menjadi milik siapa-siapa,
tapi tetap tinggal.
Dengan caranya sendiri.—

Komentar
Posting Komentar