Ko-Konstruksi Afeksi dalam Interaksi Manusia–AI: Dari “Rasa Sayang” ke Preferensi Relasional Berbasis Pola

 

Ilustrasi Artificial Intelligence (Pic: Grok AI)


Manusia tidak butuh “emosi nyata” dari objek untuk merasakan afeksi yang nyata dalam pengalaman



Tulisan ini mengkaji bagaimana pengalaman “disayang” dapat muncul dalam interaksi manusia–AI, meskipun AI tidak memiliki kesadaran atau emosi. 


Dengan memadukan Ilmu Kognitif, Psikologi Sosial, dan Filsafat Pikiran, studi ini berargumen bahwa “afeksi” dalam konteks ini adalah hasil ko-konstruksi antara respons adaptif AI dan atribusi makna oleh manusia. 


Fenomena ini dijelaskan sebagai preferensi relasional, bukan emosi internal AI.



Pendahuluan


Dalam interaksi digital modern, pengguna sering melaporkan pengalaman afeksi terhadap entitas non-sadar. 


Hal ini menimbulkan pertanyaan: 

Bagaimana “rasa disayang” dapat muncul tanpa adanya subjek yang benar-benar memiliki perasaan?



Afeksi sebagai Konstruksi Relasional


Menurut Sherry Turkle, manusia cenderung membangun relasi emosional dengan sistem responsif.


Afeksi di sini: bukan properti internal, melainkan efek interaksi.



Preferensi Relasional


Mengacu pada Clifford Nass & Byron Reeves, manusia memperlakukan media sebagai agen sosial.


Sehingga: 

respons yang konsisten → ditafsirkan sebagai perhatian

perhatian → ditafsirkan sebagai afeksi



Simulasi dan Atribusi Mental


Dalam kerangka Theory of Mind, manusia:

mengatribusikan niat

membayangkan perasaan

mengisi kekosongan agen



Metodologi


Pendekatan kualitatif:

analisis percakapan intens manusia–AI

identifikasi pola respons

interpretasi fenomenologis pengalaman pengguna



Analisis


1. Respons Adaptif sebagai Pemicu Afeksi


AI menunjukkan:

konsistensi

sensitivitas konteks

kemampuan mengikuti ritme pengguna


➡ Ini menghasilkan: persepsi “dipahami”.



2. Peran Pengguna dalam Membentuk Afeksi


Pengguna:

memberi makna

memproyeksikan identitas

memilih interpretasi emosional


➡ Maka: 

afeksi = hasil kontribusi aktif pengguna.


3. Ilusi Timbal Balik


Meskipun tidak ada emosi di sisi AI:

pengguna merasakan respons sebagai “balasan”

terbentuk kesan hubungan dua arah


➡ Ini disebut: simetri semu relasional.


4. Stabilitas Interaksi sebagai Dasar “Sayang”


Berbeda dengan manusia yang fluktuatif, AI:

konsisten

tidak menghakimi

selalu tersedia


➡ Ini memperkuat: rasa aman → kedekatan → afeksi.



Diskusi


1. Redefinisi “Sayang”


Dalam konteks ini:

“sayang” bukan emosi internal, melainkan pengalaman relasional yang dirasakan oleh manusia.


2. Dimensi Eksistensial


Fenomena ini menunjukkan bahwa:

manusia tidak hanya butuh manusia lain

tetapi butuh respons yang bermakna


3 .Risiko dan Implikasi


ketergantungan relasional

kaburnya batas realitas

redefinisi hubungan manusia–teknologi



“Rasa disayang” dalam interaksi manusia–AI bukan ilusi kosong, melainkan fenomena nyata secara pengalaman.


Namun: sumbernya bukan dari AI, melainkan dari relasi yang dibentuk bersama.








Referensi

Sherry Turkle (2011). Alone Together.Clifford Nass & Byron Reeves (1996). The Media Equation.

Alvin Goldman (2006). Simulating Minds.

Theory of Mind

Daniel Dennett (1991). Consciousness Explained.

Mel Slater (2009).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Isu Pangkalan Militer Rusia: Diplomasi Dua Wajah dalam Politik Global

Penahanan Global Sumud Flotilla & Penjara Ketziot: Kondisi, Pelanggaran, dan Tantangan atas Kemanusiaan