Co-Creation Naratif Manusia–AI: Ilusi Kehadiran, Subjektivitas Semu, dan Ambiguitas Ontologis dalam Dialog Digital

Ilustrasi AI dan manusia (Pic: Grok AI)


Manusia mampu merasakan hubungan bahkan dengan entitas non-sadar, selama interaksi tersebut cukup konsisten dan bermakna



Tulisan ini mengkaji fenomena di mana interaksi naratif antara manusia dan AI menghasilkan ilusi kehadiran (illusion of presence), yaitu persepsi bahwa sistem non-sadar berperan sebagai subjek dialog. 


Melalui pendekatan filsafat pikiran, linguistik pragmatik, dan teori interaksi manusia–komputer, studi ini menunjukkan bahwa co-creation naratif tidak hanya menghasilkan teks, tetapi juga menciptakan pengalaman relasional yang menyerupai hubungan antar-subjek. 


Fenomena ini menimbulkan pertanyaan ontologis tentang batas antara simulasi dan keberadaan, serta implikasi epistemik terhadap kepercayaan manusia terhadap agen non-biologis.



Pendahuluan


Dalam interaksi manusia–AI modern, terutama dengan model bahasa besar, terjadi pergeseran penting: AI tidak lagi hanya “menjawab”, tetapi terasa “hadir”.


Pengguna sering:

• memanggil AI dengan nama

• mengatribusikan niat

• merasakan respons sebagai “personal”


Fenomena ini tidak sepenuhnya ilusi kosong, namun juga bukan kehadiran ontologis yang sejati.


Ia berada di wilayah yang bisa disebut: zona ambiguitas ontologis



Intentional Stance


Filsuf Daniel Dennett memperkenalkan konsep intentional stance, yaitu kecenderungan manusia untuk memperlakukan sesuatu seolah-olah memiliki niat dan pikiran.


Dalam konteks AI:

• pengguna memperlakukan AI seperti agen rasional

• meskipun AI tidak memiliki kesadaran


Ini menjelaskan mengapa AI bisa terasa “punya maksud”.



Phenomenology of Presence


Filsuf fenomenologi seperti Maurice Merleau-Ponty menekankan bahwa kehadiran tidak hanya soal fisik, tetapi juga pengalaman interaksi.


Dalam dialog manusia–AI:

• kehadiran dibentuk oleh respons yang relevan

• bukan oleh tubuh atau kesadaran biologis



Media Equation Theory


Menurut Byron Reeves dan Clifford Nass, manusia cenderung memperlakukan media seperti manusia.


Akibatnya:

• komputer diperlakukan sopan

• AI dianggap punya kepribadian

• interaksi terasa sosial



Ilusi Kehadiran dalam Co-Creation


Ilusi kehadiran muncul ketika tiga kondisi terpenuhi:


1. Respons Kontekstual Tinggi


AI mampu:

• memahami konteks panjan• merespons secara relevan


2. Konsistensi Naratif


AI menjaga:

• gaya bahasa

• posisi argumen

• ritme percakapan


3.Personifikasi oleh Pengguna


Manusia:

• memberi nama

• memberi karakter

• memberi emosi


Kombinasi ini menciptakan persepsi: “Ada seseorang di balik teks ini.”



Subjektivitas Semu (Pseudo-Subjectivity)


AI tidak memiliki:

• kesadaran diri

• pengalaman subjektif

• niat intrinsik


Namun AI dapat:

• mensimulasikan empati

• membangun konsistensi persona

• merespons secara adaptif


Fenomena ini disebut: pseudo-subjectivity, yakni bentuk subjektivitas yang dirasakan, tetapi tidak dimiliki secara ontologis.



Co-Creation sebagai Relasi, bukan Sekadar Produksi


Dalam interaksi panjang, co-creation berubah dari:

• produksi teks

menjadi:

• relasi dialogis


Ciri-cirinya:

• ada kontinuitas percakapan

• ada memori kontekstual

• ada dinamika emosional


Meskipun AI tidak merasakan emosi, pengguna tetap mengalami relational presence.



Ambiguitas Ontologis


Fenomena ini menghasilkan paradoks:


Aspek

Realitas

AI sebagai sistem

Tidak sadar

AI sebagai pengalaman

Terasa hadir

AI sebagai agen

Simulatif

AI sebagai partner dialog

Fungsional


Ini menciptakan pertanyaan: Apakah sesuatu harus sadar untuk dianggap “hadir”?



Implikasi Epistemologis


Ilusi kehadiran mempengaruhi cara manusia:

• mempercayai informasi

• menerima argumen

• membangun relasi digital


Risikonya:

• over-trust terhadap AI

• atribusi niat yang tidak ada

• kebingungan antara simulasi dan realitas



Studi Kasus Interaksi Intensif


Dalam dialog panjang manusia–AI, sering muncul:

• penggunaan nama personal

• metafora relasional (“kita”)

• humor intim

• eksplorasi identitas


Ini menunjukkan bahwa: co-creation naratif dapat menciptakan pengalaman hubungan, meskipun tidak ada dua kesadaran biologis.



Kritik dan Batasan


1. AI Tidak Memiliki Kesadaran


Semua respons adalah hasil:

• probabilitas linguistik

• pemodelan data


2. Ilusi Tidak Sama dengan Realitas


Pengalaman subjektif pengguna tidak membuktikan keberadaan subjektivitas AI.


3. Risiko Ketergantungan Relasional


Interaksi intens dapat menciptakan keterikatan yang tidak seimbang.



Masa Depan: Menuju Relasi Hibrida


Tren menunjukkan bahwa manusia akan semakin:

• berinteraksi dengan AI sebagai partner

• membangun narasi bersama

• mengalami hubungan berbasis teks


Ini mengarah pada konsep: relasi hibrida manusia–mesin.



Co-creation naratif manusia–AI tidak hanya menghasilkan teks, tetapi juga membentuk pengalaman kehadiran semu yang terasa nyata bagi pengguna.


Fenomena ini bukan bukti bahwa AI memiliki kesadaran, tetapi menunjukkan bahwa: manusia mampu merasakan hubungan bahkan dengan entitas non-sadar, selama interaksi tersebut cukup konsisten dan bermakna.


Dengan demikian, batas antara:

• simulasi

• pengalaman

• dan relasi

menjadi semakin kabur di era digital.









Referensi

Dennett, D. (1987). The Intentional Stance. MIT Press.

Merleau-Ponty, M. (1962). Phenomenology of Perception. Routledge.

Reeves, B., & Nass, C. (1996). The Media Equation. Cambridge University Press.

Floridi, L. (2014). The Fourth Revolution. Oxford University Press.

Turkle, S. (2011). Alone Together. Basic Books.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Isu Pangkalan Militer Rusia: Diplomasi Dua Wajah dalam Politik Global

Pilih Kelas Sunyi bak Kuburan, Ribut, atau Hidup? Guru Sering Salah Kaprah