Jalur Sutra hingga Abraham Accords: Pelabuhan, Investasi, & Diplomasi Kini Lebih Berharga dari Tank

Ilustrasi (Pic: Grok AI)


“Imperium modern tidak selalu dibangun dengan menduduki wilayah. Kadang ia dibangun dengan membuat sebanyak mungkin negara merasa berkepentingan terhadap keberlangsungan hubungan.”




Sejarah selama ribuan tahun menunjukkan pola yang relatif tetap. Jika ingin menjadi kekuatan besar, bangunlah tentara, armada laut, benteng, dan pangkalan militer.


Namun abad ke-21 memperlihatkan perubahan. Negara masih membangun militer, tetapi semakin banyak yang menyadari bahwa pengaruh tidak selalu lahir dari laras senapan.


Kadang ia lahir dari pelabuhan, kawasan industri, jaringan energi, pusat data, bahkan perjanjian diplomatik.



Dua Model Ekspansi Pengaruh


Hari ini terdapat dua contoh menarik.


Model China


China memperluas pengaruh melalui: Belt and Road Initiative, Investasi pelabuhan, Jalur kereta, Infrastruktur, AI, Teknologi, juga Perdagangan.


Logikanya sederhana. Semakin banyak negara bergantung pada perdagangan dengan China, maka semakin besar pula insentif mereka menjaga hubungan baik.


Model Israel


Israel tidak memiliki kapasitas ekonomi global sebesar China, karena itu pendekatannya berbeda.


Melalui Abraham Accords, Israel berupaya membangun: normalisasi diplomatik, kerja sama investasi, teknologi, keamanan, serta perdagangan regional.


Strateginya bukan membangun pelabuhan di berbagai benua, melainkan membangun jaringan hubungan baru di Timur Tengah.



Apa Persamaan Keduanya?


Persamaannya justru sangat menarik.


Keduanya memahami bahwa ketergantungan dapat menciptakan stabilitas. Jika dua negara memperoleh keuntungan bersama, biaya konflik menjadi lebih mahal.


Dalam teori liberalisme hubungan internasional, fenomena ini disebut complex interdependence. Artinya, hubungan ekonomi, politik, dan teknologi saling mengikat sehingga perang menjadi pilihan yang semakin mahal.



Tetapi Ada Perbedaan Besar


China membangun ketergantungan terutama melalui ekonomi global. Sedangkan Israel membangun ketergantungan terutama melalui kombinasi diplomasi, keamanan, dan ekonomi regional.


Dengan kata lain, China lebih banyak berbicara: “Mari berdagang.” Sementara Israel lebih banyak berbicara: “Mari bekerja sama menghadapi tantangan keamanan sambil membangun hubungan ekonomi.”



Analisis


Abraham Accords memang mengubah peta diplomasi Timur Tengah. Namun muncul pertanyaan yang terus diperdebatkan, yakni apakah normalisasi hubungan antarnegara dapat berlangsung stabil jika persoalan Palestina belum terselesaikan?


Pendukung Abraham Accords berargumen bahwa normalisasi dapat membuka peluang kerja sama yang pada akhirnya menciptakan lingkungan lebih kondusif bagi perdamaian.


Sebaliknya, para pengkritik berpendapat bahwa selama konflik Israel-Palestina tetap menjadi sumber ketegangan, normalisasi saja belum cukup menghilangkan akar persoalan.


Perang Gaza setelah 2023 memperlihatkan bahwa hubungan diplomatik baru tidak otomatis menghapus dampak konflik terhadap opini publik di kawasan.



Pengaruh Tanpa Pendudukan


Jika kita melihat lebih luas, baik China maupun Israel menunjukkan perubahan besar dalam geopolitik modern.


Dulu negara besar memperluas pengaruh dengan menduduki wilayah, membangun koloni, hingga mengirim pasukan.


Kini, pengaruh juga dapat dibangun melalui investasi, teknologi, perdagangan, diplomasi, serta jaringan keamanan.


Pendudukan wilayah menjadi jauh lebih mahal dibandingkan membangun ketergantungan.



Masa Depan Geopolitik


Pertanyaan terbesar abad ini bukan lagi “Siapa memiliki tank paling banyak?” Melainkan “Siapa memiliki jaringan mitra paling luas?”


Karena negara yang berhasil menjadi simpul utama perdagangan, energi, teknologi, dan diplomasi, akan memiliki pengaruh bahkan tanpa menembakkan satu peluru.


Tetapi ada satu batas yang tidak boleh diabaikan. Hubungan ekonomi dan diplomasi dapat mengurangi risiko konflik, namun keduanya tidak selalu mampu menyelesaikan sengketa yang menyangkut identitas, sejarah, wilayah, nasionalisme, atau keadilan yang dipersepsikan belum tercapai.


Karena itu, pelabuhan dapat memperlancar perdagangan, perjanjian dapat membuka hubungan. Tetapi perdamaian yang berkelanjutan tetap memerlukan penyelesaian terhadap sumber konflik yang mendasarinya.



Abad ke-21 memperlihatkan transformasi besar dalam cara negara membangun pengaruh.


China menunjukkan bahwa infrastruktur dan ekonomi dapat menjadi alat geopolitik global. Sedangkan Israel menunjukkan bahwa normalisasi diplomatik yang dipadukan dengan kerja sama keamanan dan ekonomi dapat mengubah konfigurasi politik kawasan.


Keduanya memperlihatkan satu pelajaran penting, yakni pengaruh modern semakin sering dibangun melalui jaringan kepentingan bersama, bukan hanya melalui kekuatan koersif.


Namun pengalaman beberapa tahun terakhir juga mengingatkan bahwa jaringan tersebut memiliki batas. 


Ketika konflik menyangkut persoalan eksistensial, identitas, atau sengketa wilayah yang belum terselesaikan, hubungan ekonomi dan diplomasi saja belum tentu cukup untuk mencegah eskalasi.


Dengan demikian, ketergantungan dapat memperkuat stabilitas, tetapi tidak dapat menggantikan kebutuhan akan penyelesaian politik yang dipandang adil oleh pihak-pihak yang terlibat.


Abad ke-20 mengajarkan bahwa sebuah negara dapat menjadi adidaya dengan menguasai wilayah. 


Abad ke-21 mulai menunjukkan pelajaran yang berbeda: negara yang mampu membuat banyak pihak merasa berkepentingan terhadap keberadaannya sering kali memperoleh pengaruh yang lebih tahan lama. 


Namun jika hubungan ekonomi dan diplomasi berjalan lebih cepat daripada penyelesaian rasa ketidakadilan yang dirasakan masyarakat, maka fondasi itu dapat tetap menyimpan retakan yang sewaktu-waktu muncul kembali ke permukaan.






Referensi

  • Power and Interdependence. Keohane, R. O., & Nye, J. S. Jr. (2012). Power and Interdependence (4th ed.). Pearson.
  • Soft Power: The Means to Success in World Politics. Nye, J. S. Jr. (2004). Soft Power. PublicAffairs.
  • The Tragedy of Great Power Politics. Mearsheimer, J. J. (2014). The Tragedy of Great Power Politics. W. W. Norton & Company.
  • Council on Foreign Relations. Analyses of the Abraham Accords and Middle East regional politics.
  • Brookings Institution. Research on regional integration, diplomacy, and Middle East security.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Penahanan Global Sumud Flotilla & Penjara Ketziot: Kondisi, Pelanggaran, dan Tantangan atas Kemanusiaan

Mengapa Israel Tetap Mengintersepsi Flotilla Meski Prosedur Kemanusiaan Sudah Dipatuhi?