Ketaatan yang Tersesat: Otoritas Religius, Koersi Psikologis & Distorsi Ajaran dalam Kasus Kekerasan Seksual di Lembaga Keagamaan
Ilustrasi (Pic: Grok AI) Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Sang Pencipta Kasus pelecehan oleh figur otoritas di lingkungan pesantren menyingkap persilangan berbahaya antara kharisma religius , relasi kuasa yang timpang , dan kerentanan psikologis santri . Tulisan ini menganalisis mengapa korban bisa “tampak patuh”, bagaimana ajaran tentang ketaatan disalahpahami, dan apa koreksi normatif dalam Islam serta standar hukum modern untuk mencegah dan menindak pelanggaran. Mengapa Korban Bisa “Patuh”? (Bukan Karena Mereka Setuju) Dalam psikologi sosial, perilaku itu dijelaskan oleh beberapa mekanisme: a. Authority Bias Manusia cenderung mematuhi figur berotoritas, terlebih bila dibungkus simbol religius. b. Coercive Control (Koersi terselubung) Ancaman implisit: “kalau melawan, berdosa” takut dikeluarkan, dipermalukan, atau disanksi sosial c. Grooming Pelaku membangun kepercayaan bertahap: memberi perhatian khusus mengisolasi korban...