Sisi “Liar” Kekuasaan: Dimensi Tersembunyi dalam Kepemimpinan Donald Trump & Benjamin Netanyahu


Ilustrasi Benjamin Netanyahu dan Donald Trump (Pic: Grok AI)


Memahami politik tidak cukup hanya melalui institusi dan struktur, tetapi juga melalui keberanian untuk melihat sisi paling manusiawi—dan terkadang paling “liar”



Dalam kajian politik kontemporer, kekuasaan kerap dipresentasikan sebagai hasil kalkulasi rasional negara. 


Namun, di balik konstruksi institusional tersebut, terdapat dimensi yang lebih sunyi dan jarang diungkap: dorongan psikologis, naluri bertahan, serta ambisi personal yang membentuk arah kebijakan. 


Artikel ini berangkat dari premis bahwa kepemimpinan tidak pernah sepenuhnya impersonal. 


Melalui analisis terhadap figur Donald Trump dan Benjamin Netanyahu, tulisan ini mengupas bagaimana sisi “liar” kekuasaan—yang beroperasi di antara rasionalitas dan insting—turut memengaruhi dinamika politik domestik maupun global.



1. Politik sebagai Perpanjangan Ego (Ego-Driven Statecraft)


Intinya: Bukan negara yang membentuk keputusan… tapi ego pemimpin yang membentuk arah negara.


Pada Donald Trump:

kebutuhan akan pengakuan ekstrem

obsesi terhadap citra “pemenang”

reaksi emosional terhadap kritik


Kebijakan bisa jadi: respons terhadap luka ego, bukan kebutuhan strategis.


Pada Benjamin Netanyahu:

dorongan legacy (warisan sejarah)

keinginan tercatat sebagai “penyelamat Israel”

sensitivitas tinggi terhadap ancaman politik.


Keputusan keamanan bisa bercampur dengan: ambisi personal untuk dikenang.



2. “Permanent Campaign Mode”


Konsep: Pemimpin tidak pernah benar-benar “memerintah”… mereka selalu berkampanye, bahkan saat berkuasa.


Trump:

retorika konflik terus-menerus

membelah publik → strategi mobilisasi


Netanyahu:

menjaga atmosfer ancaman

memanfaatkan konflik untuk konsolidasi politik


Negara berubah menjadi: arena kampanye tanpa henti.



3. Eksploitasi Ketakutan Kolektif


Ini bagian yang jarang diucapkan terang: ketakutan publik adalah sumber energi politik.


Polanya:

1. Identifikasi ancaman (nyata / diperbesar)

2. Amplifikasi melalui retorika

3. Tawarkan diri sebagai solusi.


Hasilnya:

publik lebih patuh

oposisi melemah

kebijakan ekstrem lebih diterima.



4. Grey Zone Politics (Zona Abu-Abu Kekuasaan)


Ini yang paling “liar”


Bukan ilegal terang-terangan…

tapi juga tidak sepenuhnya bersih.


Contoh pola:

penggunaan celah hukum

tekanan terhadap institusi

manipulasi prosedur demokrasi


Dalam teori: legal tidak sama dengan legitimate.



5. Survival Instinct Over State Interest


Ini inti terdalamnya.

Ketika terdesak: pemimpin bisa memprioritaskan bertahan secara pribadi dibanding kepentingan negara jangka panjang.


Trump:

narasi delegitimasi sistem hukum

konflik dengan institusi demokrasi


Netanyahu:

reformasi peradilan kontroversial

potensi konflik kepentingan dengan kasus pribadi



6. Distraksi sebagai Strategi Tingkat Tinggi


Ini bukan teori konspirasi.


Ini teori klasik: Diversionary Politics.


Saat tekanan naik:

➡️ konflik eksternal meningkat

➡️ isu domestik “menghilang”



7. Ilusi Tak Tergantikan


Kedua figur ini menunjukkan pola: “negara akan runtuh tanpa saya”.


Menghasilkan:

personalisasi kekuasaan

delegitimasi pengganti

ketergantungan publik


Kekuasaan tingkat tinggi sering tidak lagi rasional sepenuhnya tapi campuran antara strategi, ketakutan, dan ego manusia.


Liar itu sebenarnya bukan karena aneh… tapi karena itu versi telanjang dari kekuasaan manusia.


Pada akhirnya, kekuasaan bukan sekadar instrumen negara, melainkan refleksi dari manusia yang mengendalikannya—dengan segala ambisi, ketakutan, dan kebutuhan untuk bertahan. 


Analisis terhadap  Donald Trump dan Benjamin Netanyahu menunjukkan bahwa batas antara kepentingan publik dan kepentingan personal kerap menjadi kabur dalam praktik kekuasaan modern. 


Dalam ruang abu-abu inilah, kebijakan yang tampak rasional dapat menyimpan motif yang lebih dalam. 


Oleh karena itu, memahami politik tidak cukup hanya melalui institusi dan struktur, tetapi juga melalui keberanian untuk melihat sisi paling manusiawi—dan terkadang paling “liar”—dari para pemegang kekuasaan.








Referensi

Winter, D. G. (2013). “Personality and Political Behavior.”

Post, J. M. (2003). The Psychological Assessment of Political Leaders.

Blumenthal, S. (1980). The Permanent Campaign.

Cas Mudde (2004). “The Populist Zeitgeist.”

Wodak, R. (2015). The Politics of Fear.

Robin, C. (2004). Fear: The History of a Political Idea.

Levitsky, S., & Daniel Ziblatt (2018). How Democracies Die.

Bermeo, N. (2016). “On Democratic Backsliding.” Journal of Democracy

Bueno de Mesquita, B., et al. (2003). The Logic of Political Survival.

Levy, J. S. (1989). “The Diversionary Theory of War.”

DeRouen, K. (2000). ➝ studi empiris hubungan konflik eksternal & tekanan domestik

McAllister, I. (2007). “The Personalization of Politics.”

Brookings Institution

International Crisis Group

Council on Foreign Relations

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Penahanan Global Sumud Flotilla & Penjara Ketziot: Kondisi, Pelanggaran, dan Tantangan atas Kemanusiaan

Isu Pangkalan Militer Rusia: Diplomasi Dua Wajah dalam Politik Global