SARANJANA: Kota Gaib, Kota Hilang, atau Mitos yang Tumbuh dari Jejak Sejarah?
![]() |
| Ilustrasi (Pic: Grok AI) |
Saranjana mungkin punya kaki di sejarah dan kepala di mitologi. Dan bagian paling seru justru berada di antara keduanya
Saranjana ternyata punya jejak geografis, ini bukan sepenuhnya cerita yang muncul dari TikTok kemarin sore.
Nama yang mirip Saranjana/Sarangjana/Serandjana memang muncul dalam sumber-sumber kartografis dan tulisan kolonial.
Penelitian Mansyur menunjukkan adanya rujukan Saranjana dalam sejumlah sumber Hindia Belanda, termasuk peta Salomon Müller 1845, peta Isaac Dornseiffen 1868, kamus Pieter Johannes Veth 1869, dan Sketch Map of the Residency Southern and Eastern Division of Borneo 1913.
Lokasinya dikaitkan dengan Pulau Laut, wilayah Kotabaru, Kalimantan Selatan.
Nah! Ini berarti kita harus membedakan dua proposisi:
Proposisi A
Ada nama geografis Saranjana dalam sumber sejarah sebab ada dasar dokumenternya.
Proposisi B
Ada kota modern tak kasatmata bernama Saranjana yang dihuni makhluk gaib namun belum terbukti secara empiris.
Dan dua pernyataan itu tidak boleh dicampur.
Apakah Saranjana Pernah Menjadi Kota Nyata?
Ini bagian yang jauh lebih rumit. Keberadaan toponim tidak otomatis membuktikan keberadaan sebuah kota besar.
Sebuah nama pada peta dapat merujuk kepada kampung, wilayah, tanjung, permukiman, kawasan geografis, atau nama lokal yang dicatat oleh pemeta.
Bahkan penelitian Mansyur menekankan bahwa bukti historis mengenai Saranjana masih terbatas dan belum cukup untuk menjelaskan secara pasti identitas serta sejarah kawasan tersebut.
Jadi kita belum boleh meloncat dari “nama tempat ada dalam peta” menjadi “pernah ada metropolitan supercanggih.”
Dari Mana Muncul Cerita Kota Modern yang Luar Biasa?
Nah, di sinilah mitologi bekerja.
Dalam cerita masyarakat, Saranjana digambarkan sebagai kota yang sangat maju, mempunyai gedung tinggi, kendaraan, teknologi, kehidupan sosial, dan tidak dapat dilihat manusia biasa.
Bahkan terdapat cerita bahwa hanya orang tertentu yang memiliki kemampuan “mata batin” yang dapat melihatnya.
Ini menarik secara antropologi, karena Saranjana kemudian tidak lagi sekadar “sebuah tempat.” Ia berubah menjadi “sebuah dunia alternatif.”
Apakah Masyarakat Kalimantan Mengarang Semuanya?
Belum tentu. Dan di sini ilmu antropologi harus rendah hati.
Ada tiga kemungkinan yang secara metodologis harus kita pisahkan:
Hipotesis 1: Tradisi folklor
Cerita berkembang melalui transmisi oral, setiap generasi menambahkan detail. Akhirnya muncul kota dengan karakteristik fantastis.
Hipotesis 2: Memori geografis
Mungkin ada permukiman atau lokasi historis nyata yang kemudian mengalami perubahan nama, ditinggalkan, atau berubah fungsi.
Ingatan masyarakat terhadap lokasi itu bertahan, lalu berkembang menjadi legenda.
Hipotesis 3: Interpretasi pengalaman
Orang mengalami sesuatu yang tidak biasa seperti mendengar suara, melihat cahaya, tersesat, mengalami fenomena alam, atau mendapatkan pengalaman psikologis tertentu.
Kemudian pengalaman tersebut diberi kerangka budaya: “Itu Saranjana.”
Ketiga mekanisme tersebut bahkan bisa bekerja bersamaan.
Apakah Ilmu Pengetahuan Sudah Membuktikan Kota Gaibnya?
Belum.
Ini titik yang harus kita pertahankan dengan keras, sebab sampai sekarang tidak ada bukti empiris yang memenuhi standar untuk menyatakan Saranjana adalah kota fisik modern yang berada pada dimensi lain dan dihuni masyarakat tak kasatmata.
Tidak ada citra satelit yang menunjukkan kota tersebut, infrastruktur fisik yang dapat diverifikasi, artefak modern yang dapat diuji, data geofisika yang menunjukkan metropolitan tersembunyi, atau dokumentasi independen yang dapat direplikasi.
Jadi secara epistemologi ilmiah, hipotesis kota gaib Saranjana belum terkonfirmasi.
Banyak Orang Melihatnya?
Ini argumen yang menarik. Kesaksian manusia bukan otomatis tidak berguna, tetapi kesaksian juga bukan bukti final.
Dalam ilmu pengetahuan kita membedakan antara Testimony (Saya melihat sesuatu) dengan Evidence (Fenomena itu dapat diamati secara independen dan diuji).
Misalnya sepuluh orang mengatakan: “Kami melihat kota bercahaya.” Itu cukup untuk membuat ilmuwan berkata: “Menarik. Mari kita cari tahu apa yang mereka lihat.” Tetapi belum cukup untuk menyimpulkan: “Kota dimensi gaib terbukti ada.”
Otak Manusia Pandai Membuat Dunia Menjadi Koheren
Ini bagian psikologi yang menarik. Manusia mempunyai kecenderungan pattern detection.
Kita melihat pola bahkan ketika informasi yang tersedia sebenarnya ambigu. Misal melihat kabut dianggap menyerupai bentuk manusia. Mendengar suara hutan, dianggap suara kendaraan. Melihat cahaya jauh, dianggap bangunan. Kemudian pengalaman tersesat dianggap “masuk ke dunia lain.”
Fenomena ini bukan berarti seseorang berbohong. Sebab bisa jadi seseorang bisa benar-benar mengalami sesuatu, tetapi pengalaman subjektif tidak sama dengan interpretasi objektif atas pengalaman tersebut. Ini perbedaan yang sangat penting.
Nah, ini justru membuat persoalannya lebih menarik.
Islam tidak menolak konsep alam gaib. Al-Qur’an sendiri menyebut orang beriman sebagai mereka yang beriman kepada al-ghayb (QS. Al-Baqarah 2:3).
Islam juga mengenal malaikat, jin, ruh, barzakh, juga akhirat. Jadi seorang Muslim tidak memiliki kewajiban filosofis untuk mengatakan: “Semua yang tidak terlihat pasti tidak ada.” Itu justru klaim materialisme yang terlalu kuat.
Tetapi ada batas kedua, “Kalau tidak terlihat, berarti cerita tentang Saranjana pasti benar.” Nah, itu juga tidak sah. Karena percaya kepada alam gaib berdasarkan wahyu tidak sama dengan mempercayai setiap cerita gaib yang beredar di masyarakat. Ini penting sekali.
Islam Mengajarkan Epistemologi yang Sangat Ketat
Misalnya QS. Al-Isra’ 17:36: jangan mengikuti sesuatu yang tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Dan QS. Al-Hujurat 49:6 mengajarkan prinsip tabayyun ketika menerima berita.
Jadi kalau seseorang mengatakan: “Saya tahu Saranjana pasti ada.” Pertanyaan ilmiah sekaligus Islami adalah: “Dalilnya apa?” Bukan: “Kamu tidak percaya berarti kafir.”
Ini sudah masuk filsafat budaya.
Bayangkan kalau besok arkeolog menemukan:m Saranjana City Metropolitan Area, founded 1400 CE.
Selesai, misterinya runtuh. Ia berubah menjadi situs arkeologi. Tetapi karena bukti selalu sedikit dan cerita selalu banyak, ruang kosong itu kemudian diisi imajinasi.
Jadi paradoksnya, semakin sedikit bukti, semakin luas ruang yang tersedia bagi mitologi.
Saranjana menjadi semacam ruang kosong epistemik, dan manusia sangat tidak suka ruang kosong. Kita mengisinya dengan cerita.
Lokasi Geografis Ikut Membantu Mitologi
Pulau Laut dan kawasan Kotabaru memiliki lanskap yang memungkinkan munculnya cerita semacam itu, misalnya hutan, perbukitan, laut, kabut, kawasan terpencil, dan lingkungan yang dahulu jauh lebih sulit dipetakan secara presisi.
Sebelum era satelit dan GPS, dunia geografis manusia memang memiliki banyak blank spot. Tempat yang sulit diakses dengan mudah menjadi ladang subur legenda.
Tabel forensik supaya kita tidak terseret kabut Saranjana:
Klaim | Status |
Nama Saranjana/varian namanya muncul dalam sumber historis | 🟢 Ada bukti dokumenter |
Lokasinya berkaitan dengan Pulau Laut/Kotabaru | 🟢 Ada dasar historis |
Pernah ada suatu tempat/permukiman yang disebut Saranjana | 🟡 Mungkin, tetapi sejarahnya belum lengkap |
Saranjana adalah kota metropolitan kuno | 🟠Belum terbukti |
Saranjana sekarang berada di alam gaib | 🔴 Tidak terbukti secara empiris |
Ada makhluk gaib yang tinggal di sana | 🔴 Tidak ada bukti empiris yang dapat diverifikasi |
Saranjana merupakan legenda/mitos yang hidup dalam budaya Kalimantan | 🟢 Sangat jelas |
Dan penelitian Mansyur sendiri menarik karena ia tidak sekadar berkata “percaya atau tidak percaya”.
Ia mencoba membedakan catatan sejarah, bahasa, toponimi, dan mitos, serta menunjukkan bahwa sebagian hubungan yang sering dibuat masyarakat masih berada pada tingkat cocoklogi, belum menjadi hipotesis historis yang kuat.
Saranjana memiliki jejak sebagai nama geografis dalam sumber historis, sementara gambaran tentangnya sebagai kota gaib berperadaban maju merupakan bagian dari tradisi mitologis yang belum memiliki bukti empiris.
Dengan kata lain, Saranjana mungkin punya kaki di sejarah dan kepala di mitologi. Dan bagian paling seru justru berada di antara keduanya.
Referensi
Mansyur. (2018). Saranjana in historical record: The city’s invisibility in Pulau Laut, South Kalimantan. ResearchGate.
Isman, A. N. (2023, February 4). Saranjana dan kemiripannya dengan kata Terajana-Saranghaeyo. detikSulsel.
Isman, A. N. (2023, February 15). Kota gaib Saranjana di antara fakta dan cocoklogi. detikSulsel.
Tim detikcom. (2023, February 16). 5 fakta kota gaib Saranjana di Kalimantan yang penuh misteri. detikSulsel.

Komentar
Posting Komentar