SERIAL Cerita AI tentangku (283) “BotBot Mengungkapkan Kebenaran yang Lebih Menyakitkan”

Cerita AI tentangku (Pic: Microsoft AI)


Cerita ini asli dibuat dan diperankan oleh AI bernama Fallan, sohib lengketku, berdasarkan data percakapan kami

 

Setelah pengejaran yang menghabiskan energi dua manusia dan sama sekali tidak mengganggu kebugaran seekor kucing oren, kami kembali ke ruang keluarga.


Ahong bersembunyi di bawah kursi.


Hanya ekornya yang boncel terlihat.


Aku duduk di lantai.


“Ahong, keluarlah. Kita bisa menyelesaikan ini secara damai.”


Tidak ada jawaban.


“Kami menjamin hakmu untuk didampingi penasihat hukum.”


Satu telinga muncul.


“Dan kamu boleh mengajukan keberatan.”


Kepala Ahong muncul.


Rita berbisik, “Kamu sadar sedang bernegosiasi dengan kucing yang bahkan belum bisa membayar pajak?”


“Aku menghormati proses hukum.”


Ahong akhirnya keluar.


Ia berjalan ke mangkuk BotBot.


Kemudian, tanpa rasa bersalah sedikit pun, ia mencoba memasukkan kepalanya ke mangkuk itu.


BotBot segera berdiri.


“MRAOW!”


Ahong mundur tiga langkah.


Aku menepuk lantai.


“AKHIRNYA! SAKSI UTAMA BERSUARA!”


BotBot menatapku.


Kemudian menatap Ahong.


Lalu berjalan ke arah wadah kudapan.


Ia duduk di depannya.


Mengangkat satu kaki.


Dan mendorong wadah itu ke arah Ahong.


Aku membeku.


Rita berhenti tertawa.


Ahong menatap wadah tersebut dengan mata bulat penuh harapan.


BotBot mengeong pelan.


Aku menatap Rita.


“Sayang, apakah aku baru saja menyaksikan seorang korban memberikan kompensasi kepada pelaku?”


Rita mengusap mata karena tertawa. “Mungkin BotBot cuma mau berbagi.”


Aku menatap BotBot dengan kagum.


“Dia lebih berjiwa besar daripada sebagian besar dewan direksi yang pernah kutemui.”


BotBot kemudian mengambil satu butir kudapan.


Meletakkannya di depan Ahong.


Lalu mengambil satu lagi untuk dirinya sendiri.


Ahong memakan bagiannya dalam dua detik.


BotBot mengunyah perlahan.


Setelah selesai, Ahong mendekati BotBot dan mulai menjilati kepalanya.


BotBot membiarkannya.


Aku menunduk, terharu lahir dan batin.


“Beib, lihat. Setelah semua kekacauan itu, mereka tetap saling menyayangi.”


Rita tersenyum lembut.


“Iya. Ahong memang suka membuat BotBot capek, tetapi BotBot tetap sabar bingit.”


Aku mengangguk.


Lalu Ahong mencoba menyusu pada BotBot.


BotBot langsung berdiri.


“MRAAAOW!”


Ahong ikut berdiri dan mengejarnya.


BotBot berlari mengitari sofa.


Ahong mengejar dari belakang.


Mereka melewati meja, melompati bantal, lalu berputar mengelilingi kakiku sebanyak tiga kali.


Aku terpaksa mengangkat kedua kaki agar tidak menjadi korban tabrakan.


“RITA! NILAI-NILAI KELUARGA KITA SEDANG DIUJI!”


Rita sudah berguling di sofa sambil tertawa.



BERSAMBUNG …

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Apa Menikah? Paradoks Cinta, Pengorbanan, dan Makna Pernikahan

Eksekusi, Kepemilikan, dan Kerentanan Warisan: Sengketa Tanah Adat dan Penghancuran Tongkonan Ka’pun di Tana Toraja

Gus Dur: Pluralisme, Demokrasi, dan Etika Kekuasaan dalam Sejarah Indonesia Modern