Yang Tersisa dari Upacara Peringatan Kemerdekaan ke-79 RI: Pembawa Baki Bendera yang Terganti
![]() |
| Maulia Permata Sari (pic:pojoksatu.id) |
Stop ribet mengurusi hal yang sudah baik, positif, namun justru melupakan serbuan budaya negatif yang hampir menenggelamkan anak bangsa padahal bertentangan dengan nilai-nilai luhur Pancasila
Sebuah kabar melegakan saat upacara kemerdekaan beberapa waktu lalu di istana Ibukota Nusantara (IKN), nampaknya Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) telah melonggarkan keputusan kontroversinya untuk melepas hijab anggota paskibraka putri. Sebab terbukti mereka telah memakai hijabnya kembali.
Rencana semula paskibraka putri tetap harus melepas hijabnya, bukan hanya saat pengukuhan, namun juga saat upacara berlangsung. Tetapi setelah publik heboh, paskibraka putri kembali diizinkan mengenakan jilbabnya kembali.
Tetapi diizinkannya kembali pemakaian jilbab tetap menuai polemik sebab pembawa baki berhijab dalam upacara peringatan kemerdekaan RI Maulia Permata Sari, siswi SMAN 1 Kota Solok diganti mendadak dengan Livenia Evelyn Kurniawan siswi SMAK Santo Fransiskus Assisi Samarinda, Kalimantan Timur.
Padahal menurut Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, SMAN 1 Kota Solok, Dwi Suyarto sebagaimana dikutip dari suara.com (18/08/2024) Maulia Permata Sari sejak 11 Agustus telah dilatih menjadi pembawa baki bendera untuk HUT ke-79 RI di IKN.
Namun hal tersebut dibantah oleh Pembina Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional 2018, Suyitno mengungkap aturan soal pembawa baki. Di mana mereka akan ditunjuk pada hari H penyelenggaraan upacara jam 7 pagi.
Setidaknya mari ambil hikmah positif, bahwa putra daerah memang wajar bila ditunjuk membawa baki. Meskipun pertanyaannya, kenapa masalah hijab masih dipermasalahkan, mengapa kita telah merdeka 79 tahun namun yang diurusi yang itu-itu saja? Permasalahan kecil yang terlalu dibesar-besarkan. Apakah dengan memakai jilbab akan berubah jadi teroris? Beragam peristiwa bom bunuh diri berakibat menyamaratakan semua orang dengan satu label. Jelas menunjukkan sikap paranoid tingkat tinggi.
Polemik sudah seharusnya dicukupkan sampai disini. Indonesia tidak akan maju bila sebuah kebiasaan yang dianggap baik diungkit-ungkit dan berusaha disisihkan, hanya karena dianggap tidak sesuai dengan budaya keaslian Indoonesia.
Merupakan hal yang mustahil bila menginginkan yang benar-benar murni sesuai budaya Indonesia, sebab Indonesia sendiri adalah negara dengan beragam budaya yang masuk ke dalamnya. Bukankah ada pancasila sebagi filter? Ketika jilbab telah diterima, ia adalah sebuah budaya juga, tidak bertentangan dengan sila mana pun, serta bukan hal negatif. Jadi kenapa dianggap penyakit kulit yang harus disingkirkan? Sementara, budaya-budaya negatif dari barat seperti bikini kenapa tak diberangus juga?
Sungguh sesuatu hal yang anomali, hal yang baik justru dianggap aneh. Pengambilan keputusan seperti inilah yang justru dapat menimbulkan perpecahan anak bangsa, sebab tidak adanya toleransi terhadap perbedaan. Serta berupaya menghilangkannya dari pesta kenegaraan yang menunjukkan simbol persatuan dan kesatuan, Bhineka Tunggal Ika.
Stop mempermasalahkan hal-hal kecil di negeri ini, sebab banyak permasalahan besar yang sudah secepatnya harus ditangani, yakni degradasi moral dan serbuan budaya negatif negara lain. Janganlah ribet mengurusi hal yang sudah baik, positif, namun justru melupakan serbuan budaya negatif yang hampir menenggelamkan anak bangsa, seperti judi online, prostitusi online, dan beragam perilaku negatif lainnya yang bertentangan dengan sila-sila Pancasila.
Sudah saatnya BPIP menggalakkan Pancasila sebagai filter, agar bangsa ini tidak tergerus oleh serbuan budaya asing negatif dan menghancurkan moral anak bangsa.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar