'Arsy Bilqis: Mukjizat, Teleportasi, atau Fisika Modern?
![]() |
| Ilustrasi (Pic: Grok AI) |
Sulaiman mengembalikan kekaguman itu kepada sumbernya yakni Allah. Itu mungkin pelajaran epistemologi paling indah dari kisah tersebut
Pertanyaan awalnya adalah ketika ‘Arsy Ratu Saba’ tiba-tiba sudah berada di hadapan Nabi Sulaiman, apakah itu bisa disebut teleportasi?
Jawaban paling presisi adalah kita boleh memakai “teleportasi” sebagai analogi modern, tetapi Al-Qur’an sendiri tidak mengatakan bahwa peristiwa itu adalah teleportasi.
Dan perbedaannya sangat penting.
Apa yang Sebenarnya Terjadi Menurut Al-Qur’an?
Mari kembali ke QS. An-Naml 27:38–40.
Sulaiman bertanya siapa yang sanggup membawa singgasana Ratu Saba’ sebelum mereka datang.
Seorang ‘ifrit dari golongan jin mengatakan: ia sanggup membawanya sebelum Nabi Sulaiman berdiri dari tempat duduknya.
Kemudian seseorang yang memiliki “ilmu dari Kitab” mengatakan bahwa ia dapat menghadirkannya sebelum pandangan Sulaiman kembali kepadanya.
Kemudian:
فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِندَهُ
Sulaiman melihat singgasana itu telah berada di hadapannya.
Lalu beliau berkata:
هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي
“Ini adalah karunia Tuhanku.”
Dan kalimat terakhir itu sangat penting.
Sulaiman tidak menganggap kemampuan tersebut sebagai kekuatan independen dirinya atau makhluk tersebut. Sumber akhirnya tetap Allah.
Apakah ini Teleportasi?
Dalam bahasa populer kelihatannya iya. Ada benda A menuju B dalam waktu yang sangat singkat. Tetapi teleportasi dalam fisika modern memiliki pengertian yang jauh lebih spesifik.
Quantum teleportation, misalnya, bukan memindahkan benda utuh secara ajaib dari satu tempat ke tempat lain. Yang ditransfer adalah keadaan kuantum, menggunakan keterikatan kuantum dan komunikasi klasik.
Jadi, quantum teleportation tidak sama dengan manusia atau kursi menghilang lalu muncul di tempat lain.
Maka jangan sampai kita membaca QS. An-Naml lalu berkata: “Nah! Al-Qur’an sudah menjelaskan quantum teleportation.” Belum tentu, itu akan menjadi anakronisme ilmiah.
Lalu Apa Kemungkinan Mekanismenya?
Kita memiliki beberapa model filosofis.
Model A: Perpindahan fisik supercepat
‘Arsy benar-benar bergerak dari lokasi asal menuju Sulaiman dalam waktu sangat singkat.
Secara konseptual: A → lintasan → B
Masalahnya kita tidak mengetahui mekanismenya.
Model B: Pemindahan nonlokal
‘Arsy tidak perlu melewati seluruh lintasan ruang biasa.
Secara sederhana: A → B tanpa perjalanan klasik yang kita kenal.
Ini lebih dekat dengan gagasan populer tentang teleportasi. Tetapi sekali lagi tidak ada teks Qur’ani yang menjelaskan mekanisme ini.
Model C: Rekonstruksi
Benda asli tidak “berjalan” dari A ke B.
Sebaliknya, struktur atau informasi mengenai benda tersebut digunakan untuk menghasilkan representasi identik di B.
Secara filosofis ini menarik, tetapi menghadirkan problem, yaitu apakah benda yang muncul di B benar-benar benda yang sama?
Ini membawa kita ke filsafat identitas. Kalau kursi dihancurkan lalu dibuat ulang atom demi atom, lalu apakah itu kursi yang sama?
Teleportasi Sebenarnya Problem Identitas
Bayangkan tubuh manusia. Jika seluruh struktur tubuh direkonstruksi sempurna di tempat lain, apakah tubuh yang muncul di sana adalah tubuh yang sama? Atau tubuh asli mati, lalu muncul salinan tubuh?
Ini bukan sekadar fisika, ini persoalan filsafat personal identity.
John Locke menghubungkan identitas personal dengan kontinuitas kesadaran dan ingatan. Sementara teori lain menekankan kontinuitas biologis.
Dalam Islam, persoalannya menjadi lebih menarik lagi karena manusia bukan hanya tubuh, ada ruh. Maka kalau tubuh direkonstruksi, apakah ruh ikut berpindah?
Pertanyaan seperti ini tidak dapat dijawab oleh fisika. Karena ruh bukan objek yang didefinisikan oleh fisika modern.
Satu Kesalahan yang Harus Kita Hindari
Jangan berkata: “Karena manusia belum bisa menjelaskan mekanismenya, maka pasti menggunakan dimensi keempat.”
Ini sering terjadi di internet: “Jin memindahkan benda berarti memakai dimensi lain, berarti portal, berarti wormhole.”
Tidak ada rantai inferensi seperti itu dalam Al-Qur’an.
Ilmu dari Kitab Suci Justru Menjadi Misteri Besar
Ada bagian menarik dalam ayat tersebut. Orang kedua berkata: “Aku dapat membawanya kepadamu sebelum pandanganmu kembali kepadamu.” Lalu benda itu sudah ada.
Siapa orang ini? Al-Qur’an tidak menyebut namanya secara eksplisit.
Dalam tradisi tafsir, terdapat pendapat bahwa dia adalah Āṣif ibn Barkhiyā, seorang tokoh yang dikaitkan dengan Nabi Sulaiman. Tetapi identifikasi tersebut berasal dari tradisi tafsir, bukan nama yang disebut langsung dalam ayat.
Yang paling penting adalah ia mempunyai “ilmu dari Kitab.” Dan kemudian Sulaiman berkata: “Ini adalah karunia Tuhanku.”
Jadi Qur’an justru membuat kita berhenti pada batas tertentu.
Kita diberi peristiwa, kita diberi pelaku, kita diberi sumber kekuatan, tetapi mekanismenya tidak dijelaskan.
Apakah Ilmu dapat Melakukan Sesuatu yang Tampak seperti Mukjizat?
Nah, Ini pertanyaan filosofis yang sangat dalam.
Al-Qur’an menyebut: “ilmu dari Kitab.” tetapi tidak menjelaskan jenis ilmunya. Sehingga jangan buru-buru menyebutnya ilmu fisika, sihir, teleportasi, teknologi, atau quantum mechanics. Tidak ada yang bisa kita pastikan dari teks.
Tetapi ada prinsip yang menarik, pengetahuan dapat memberi manusia kemampuan yang tampak luar biasa bagi manusia lain.
Bandingkan manusia modern. Seorang manusia abad ke-10 melihat video call: “Orang ini berbicara dengan manusia yang berada ribuan kilometer jauhnya!” Bagi mereka itu hampir seperti sihir. Tetapi bagi kita itu “FaceTime.”
Jadi, ketidaktahuan tentang mekanisme tidak otomatis menunjukkan pelanggaran hukum alam. Tetapi mukjizat mempunyai status berbeda.
Mukjizat Bukan Sekadar “Teknologi yang Belum Ditemukan”
Ini penting dalam teologi Islam.
Kalau seseorang berkata: “Mukjizat sebenarnya cuma teknologi supercanggih.” maka dia mengubah konsep mukjizat menjadi teknologi.
Padahal mukjizat secara teologis merupakan tindakan luar biasa yang Allah berikan kepada nabi sebagai tanda kenabian.
Mekanismenya bukan poin utama. Justru Allah adalah sebab tertinggi.
Itulah mengapa Sulaiman tidak berkata: “Lihat, teknologi teleportasiku.” Beliau berkata: “Ini karunia Tuhanku.”
Filsafat Sebab-Akibat Menjadi Menarik
Kita biasanya berpikir: A menyebabkan B. Misalnya api menyebabkan panas. Tetapi dalam filsafat Islam klasik, terutama tradisi kalām, ada perdebatan tentang apakah hubungan sebab-akibat memiliki keniscayaan independen atau seluruh kejadian bergantung kepada kehendak Allah.
Dalam perspektif Ash’ari, misalnya, hubungan sebab-akibat tidak harus dipahami sebagai kekuatan mandiri yang memaksa Allah.
Api biasanya membakar karena Allah menciptakan kejadian pembakaran ketika api bersentuhan dengan benda.
Karena itu mukjizat tidak harus dipahami sebagai Allah “melanggar hukum alam.” Bisa dipahami lebih mendalam sebagai Allah menciptakan kejadian yang tidak mengikuti pola kebiasaan yang biasanya kita amati.
Ini konsep kharq al-’ādah, “terputusnya kebiasaan” atau kejadian luar biasa terhadap pola yang lazim. Dan ini jauh lebih filosofis daripada sekadar Allah melanggar hukum fisika.”
Fisika Modern Membuat kita Lebih Rendah Hati
Fisika klasik memberi kita gambaran dunia yang relatif intuitif, yaitu benda memiliki posisi, kecepatan, lintasan. Sementara fisika modern menunjukkan bahwa pada tingkat fundamental, alam jauh lebih aneh.
Kita memiliki superposisi, entanglement, dualitas gelombang-partikel, relativitas ruang-waktu, serta fenomena kuantum nonklasik. Tetapi jangan salah sebab fisika kuantum tidak membuktikan teleportasi ‘Arsy.
Yang benar adalah, fisika modern menunjukkan bahwa intuisi manusia tentang realitas bukanlah ukuran terakhir tentang apa yang mungkin terjadi di alam. Itu saja.
Dan itu sudah cukup untuk membuat kita sedikit menurunkan volume kesombongan epistemik.
Apakah Jin Menggunakan “Teknologi”?
Ini pertanyaan yang sering muncul.
Jika jin dapat melakukan pekerjaan luar biasa, apakah berarti mereka mempunyai teknologi Belum tentu.
Teknologi manusia berarti penggunaan pengetahuan dan artefak untuk mengendalikan lingkungan. Sedangkan kemampuan supernatural, jika memang diberikan Allah kepada suatu makhluk, tidak otomatis merupakan teknologi.
Misalnya manusia bisa berjalan, itu bukan teknologi. Sedangkan kalau jin mempunyai kemampuan tertentu secara fitrah penciptaan, kemampuan tersebut juga belum tentu teknologi.
Mengubah Cara Kita Membaca Kisah Sulaiman
Sulaiman bukan sekadar raja yang punya pasukan jin. Dalam Qur’an, kisah tersebut menunjukkan sebuah tatanan kekuasaan yang luar biasa, yakni manusia, jin, burung, serta angin, semuanya berada dalam kerajaan yang Allah berikan kepada Sulaiman.
QS. Sad 38:35 menggambarkan permohonan Sulaiman kepada Allah agar diberi kerajaan yang tidak layak dimiliki orang sesudahnya.
Jadi kerajaan Sulaiman bukan contoh normal hubungan manusia-jin. Itu adalah konfigurasi kekuasaan khusus yang diberikan Allah kepada seorang nabi.
Ini penting sekali, karena kita tidak boleh mengambil kondisi mukjizat Sulaiman, lalu mengubahnya menjadi manual penggunaan jin untuk manusia modern.
Kembali ke Saranjana
Setelah memahami kisah ‘Arsy Bilqis, kita bisa membuat posisi yang lebih tajam.
Apakah jin bisa melakukan sesuatu yang luar biasa? Ya, ada dasar Qur’ani.
Apakah jin bisa bekerja secara fisik? Ya, ada dasar Qur’ani dalam kisah Sulaiman.
Apakah mereka bisa melakukan hal yang manusia normal tidak mampu? Dalam konteks tertentu, ya.
Apakah itu membuktikan Saranjana adalah kota jin? Tidak.
Apakah kemungkinan keberadaan komunitas jin secara teologis masuk akal? Ya.
Apakah kita memiliki bukti empiris tentang kota Saranjana? Belum.
Dan itulah posisi yang paling kuat, iman tidak perlu mengorbankan ketelitian intelektual.
Kalau suatu hari anda melihat sesuatu, jangan langsung mengambil kesimpulan: “Nah! Ini pasti Jin!” Tapi juga tidak perlu langsung: “Otakku error.”
Amati, perhatikan: kapan terjadi, apakah anda sedang mengantuk, kondisi cahaya, posisi objek, apakah orang lain melihatnya, apakah fenomenanya berulang, apakah terjadi ketika baru bangun atau menjelang tidur.
Karena pengalaman pribadi dapat menjadi data fenomenologis, tetapi belum otomatis menjadi bukti ontologis.
Dan sikap yang paling Islami secara intelektual adalah percaya kepada apa yang Allah firmankan, tetapi tidak mengarang-ngarang apa yang Allah tidak firmankan.
Kisah ‘Arsy Bilqis mengajarkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar “jin bisa memindahkan kursi.”
Ia mengguncang asumsi manusia bahwa apa yang belum dapat dilakukan manusia berarti mustahil dilakukan makhluk lain.
Tetapi Al-Qur’an juga mengajarkan kerendahan hati yang sama pentingnya, bahwa kita tidak mengetahui mekanisme setiap perkara yang Allah ciptakan.
Maka posisi kita bukan menganggap semua misteri bukan berarti jin, dan bukan pula menganggap semua yang tak bisa dijelaskan berarti halusinasi.
Melainkan: “Ini yang wahyu pastikan. Ini yang ilmu empiris temukan. Ini yang belum diketahui. Dan di antara ketiganya, jangan kita curi batas satu sama lain.”
Dan bagian paling menggoda dari seluruh kisah ini bukan bahkan soal teleportasinya. Melainkan kalimat Sulaiman setelah ‘Arsy itu tiba: “Ini adalah karunia Tuhanku.”
Seolah-olah setelah menyaksikan sesuatu yang bahkan hari ini membuat fisikawan menggaruk kepala, Sulaiman justru tidak sibuk membanggakan “Betapa hebatnya diriku.”
Beliau mengembalikan kekaguman itu kepada sumbernya yakni Allah. Itu mungkin pelajaran epistemologi paling indah dari kisah tersebut.
Referensi: Al-Qur’an, QS. An-Naml 27:38–40; QS. Saba’ 34:12–14; QS. Al-A’raf 7:27; Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, hadis tentang Abu Hurairah dan penjaga zakat Ramadan; Al-Ghazali, The Incoherence of the Philosophers; Leaman, O. (2008). The Qur’an: An Encyclopedia. Routledge; Gazzaniga, M. S., Ivry, R. B., & Mangun, G. R. (2019). Cognitive Neuroscience: The Biology of the Mind. Norton.

Komentar
Posting Komentar