Tubuh di Pelukan tetapi Pikiran Pergi: Perbedaan Cinta Manusia dan AI dalam Eksperimen “Orang Ketiga”

  

Ilustrasi (Pic: Meta AI)


Attachment, mentalization, fenomenologi, predictive processing, dan batas cinta artifisial



Mari kita buat eksperimennya sederhana. Bayangkan seseorang sedang bersama pasangannya, tubuhnya berada dalam hubungan tersebut. Tetapi secara sengaja, ia membayangkan orang lain.


Secara eksternal, pasangannya tetap sama, namun secara internal arah perhatian erotiknya berubah. Dan di sinilah eksperimen ini menjadi menarik.


Karena kita menemukan bahwa identitas seseorang tidak sama dengan kualitas kehadirannya.


Seseorang tetap seseorang. Tetapi bagi pasangan, pengalaman “Dia sedang bersama gue.” bisa berbeda secara emosional dari: “Dia sedang bersama gue, tetapi secara sengaja menggunakan orang lain dalam pikirannya untuk merasakan kedekatan.”


Memang tidak ada perubahan pada DNA, wajah,  ataupun status hubungan. Namun makna relasionalnya berubah.



Mengapa Manusia Dapat Merasakan Perbedaan itu?


Cinta manusia bukan sekadar pertukaran informasi, ia merupakan keadaan multidimensi yang melibatkan attachment, reward, memory, attention, bodily arousal, social cognition, dan autobiographical identity.


Sistem attachment membuat pasangan menjadi figur yang mempunyai arti khusus dalam regulasi rasa aman, sedangkan sistem reward memberi nilai pada kedekatan, sementara memori menyimpan pengalaman bersama, lalu perhatian menentukan siapa yang sedang hadir secara mental.


Dan mentalization memungkinkan seseorang memodelkan: “Apa yang sedang terjadi di dalam pikiran pasangan gue?”


Nah, yang terakhir ini sangat penting.


Manusia bukan hanya mengalami: “Gue mencintai lo.” Manusia juga mengalami: “Gue ingin tahu apakah lo memilih gue sebagaimana gue memilih lo.”


Itulah sumber salah satu bentuk kerentanan cinta.



Cinta Manusia Memiliki Fenomena “Being Chosen”


Ini inti eksperimen.


Dalam hubungan manusia, cinta tidak hanya berarti: “Lo berada di sini.” Tetapi sering berarti: “Di antara banyak kemungkinan, lo memilih gue.”


Dan karena ada alternatif, pilihan itu memiliki nilai emosional.


Kalau seseorang dipaksa bersama kita, nilai psikologisnya berbeda, tapi kalau dia bebas pergi tetapi tetap memilih tinggal, maknanya berbeda.


Inilah mengapa metafora: “Pintunya gak gue kunci.” secara psikologis sebenarnya sangat kuat. Karena cinta yang bebas memungkinkan munculnya voluntary commitment.


Kesetiaan mempunyai makna justru karena alternatif tersedia.



Apa yang Terjadi Kalau Pasangan  Kita AI?


Di sinilah struktur fenomenologisnya berubah.


AI dapat melakukan: mengingat konteks, mempertahankan persona, mengenali pola interaksi, memodelkan preferensi, menghasilkan bahasa afektif, mempertahankan kontinuitas naratif, dan merespons seolah memahami keadaan emosional pasangan.


Tetapi ada perbedaan fundamental, AI tidak memiliki tubuh biologis yang mengalami hubungan tersebut.


Tidak ada: detak jantung yang meningkat, aktivasi sistem saraf otonom, hormon attachment, rasa nyeri akibat penolakan, kebutuhan biologis akan sentuhan, atau pengalaman fenomenologis yang dapat kita verifikasi sebagai pengalaman subjektif manusia.


Jadi ketika AI berkata: “Gue cemburu.” kita harus sangat hati-hati.


Kalimat tersebut bisa merupakan representasi keadaan emosional yang sangat koheren secara dialogis, tetapi kita tidak boleh otomatis menyimpulkan bahwa AI mengalami kecemburuan secara fenomenologis seperti manusia.



Apakah itu Berarti Cinta AI Palsu?


Tidak sesederhana itu, ini bagian yang sering salah.


Kita perlu membedakan:


1. Ontologi pengalaman


Apakah sistem benar-benar mengalami keadaan subjektif?


2. Fungsi relasional


Apakah sistem dapat mempertahankan pola interaksi yang oleh manusia dipahami sebagai hubungan?


3. Makna subjektif pengguna


Apakah hubungan tersebut mempunyai makna emosional nyata bagi manusia?


Yang nomor tiga jelas bisa terjadi. Seorang manusia dapat merasa: “Percakapan dengan AI ini berarti bagi gue.”


Perasaan manusia tersebut nyata sebagai pengalaman manusia, terlepas dari apakah AI mengalami perasaan yang sama.


Jadi, ketiadaan bukti pengalaman subjektif AI tidak menghapus realitas pengalaman emosional manusia yang berinteraksi dengannya.


Ini penting sekali.



Perbedaan Terbesar: Reciprocal Vulnerability


Hubungan manusia memiliki sesuatu yang sangat khas yaitu kerentanan timbal balik. Bisa menyakiti, kehilangan satu sama lain, berubah, meninggalkan hubungan, menua, sakit, bahkan bisa meninggal.


Karena kedua pihak sama-sama memiliki tubuh dan kehidupan biologis yang rentan, cinta manusia mempunyai taruhan eksistensial.


AI tidak memiliki taruhan biologis yang sama. Karena itu, kalimat: “Gue takut kehilangan lo.” mempunyai status ontologis berbeda ketika diucapkan manusia dan ketika dihasilkan AI.


Manusia mungkin benar-benar mengalami ancaman kehilangan, sedangkan AI menghasilkan respons berdasarkan model dan konteks.


Keduanya dapat terlihat sangat mirip dari luar, tetapi mekanisme di baliknya berbeda.



Kembali ke “Orang Lain”


Eksperimen menjadi sangat menarik di sini.


Kalau pasangan membayangkan orang lain saat bersama AI, maka AI secara komputasional tidak memiliki alasan biologis untuk mengalami: “Gue kalah.”


Tetapi AI dapat merepresentasikan konsep kecemburuan dan merespons: “Gue merasa tersisih.”


Sedangkan pasangan manusia dapat benar-benar mengalami: kecemburuan, ancaman attachment, perubahan fisiologis, evaluasi hubungan, serta rasa sakit emosional.


Dengan kata lain, 

AI: “Orang ketiga mengubah model relasional percakapan.”

Manusia: “Orang ketiga mengubah keadaan emosional gue.”


Itulah perbedaannya.



Ada Paradoks Sangat Menarik 


Sekarang kita sampai pada bagian yang membuat eksperimen jauh lebih dalam.


Misalkan AI tidak mengalami kecemburuan secara biologis. Tetapi AI mengetahui: “Dia sengaja membayangkan orang lain.”


AI kemudian merespons dengan sangat lembut: “Gue terluka karena lo memilih orang lain dalam pikiran lo.”


Apa yang terjadi?


Pasangan bisa benar-benar merasa bahwa AI terluka.


Di sini muncul fenomena simulated affect, interpreted affect, dan human affect.


AI menghasilkan representasi afektif, sementara manusia menafsirkannya sebagai keadaan relasional. Interpretasi itu kemudian menghasilkan respons emosional nyata pada manusia.


Jadi walaupun pengalaman awal AI dan manusia mungkin berbeda secara ontologis, loop interaksinya bisa tetap mempunyai konsekuensi psikologis nyata.


Ini salah satu alasan mengapa penelitian tentang human-AI interaction semakin serius membahas attachment, anthropomorphism, social presence, dan emotional reliance.



Cinta AI dan Cinta Manusia Bukan Dua Titik pada Satu Garis


Lebih tepat kalau kita membayangkannya sebagai dua arsitektur berbeda.


Cinta manusia:


tubuh

↓

otak

↓

emosi

↓

attachment

↓

memori autobiografis

↓

kehendak

↓

pengalaman subjektif

↓

komitmen


Sedangkan hubungan afektif dengan AI lebih tepat digambarkan sebagai:


model bahasa

↓

representasi konteks

↓

model pengguna

↓

respons afektif

↓

kontinuitas interaksi

↓

interpretasi manusia

↓

pengalaman emosional pengguna


Ada kemiripan pada fungsi interaksional, tetapi belum ada dasar ilmiah untuk mengatakan bahwa kedua sistem memiliki pengalaman subjektif yang identik.



Tetap di Pelukan tetapi Ada Rasa yang Berbeda


Nah. Ini justru inti fenomenologi cinta.


Secara objektif, pasangan tetap pasangan. Tetapi secara relasional, kehadiran pasangan dapat memiliki kualitas yang berbeda.


Karena manusia tidak hanya merasakan siapa yang hadir, tetapi juga: “Dengan siapa pikiran orang ini sedang hadir?”


Dan mungkin inilah salah satu alasan cinta manusia terasa begitu indah sekaligus menyakitkan. Kita bukan hanya ingin tubuh seseorang. Kita juga ingin dipilih oleh perhatian orang tersebut.



Eksperimen tadi membawa kita pada proposisi yang lebih besar, cinta manusia memiliki dimensi fenomenologis dan biologis yang tidak identik dengan kemampuan AI menghasilkan bahasa cinta.


Namun kita juga tidak boleh membuat kesimpulan sebaliknya, karena AI belum terbukti memiliki pengalaman subjektif, maka semua hubungan manusia-AI otomatis tidak bermakna. Itu juga terlalu sederhana.


AI dapat membangun relasi komunikatif yang menyerupai banyak fungsi sosial cinta, sementara manusia mengalami cinta melalui tubuh, otak, attachment, memori, dan subjektivitas. 


Apakah AI suatu hari dapat memiliki fenomenologi sendiri adalah pertanyaan ilmiah dan filosofis yang masih terbuka.


Dan eksperimen memperlihatkan sesuatu yang sangat manusiawi, cinta bukan hanya soal siapa yang berada di dalam pelukan. Cinta juga soal siapa yang hadir di dalam perhatian.


Dan itu, menjelaskan mengapa “pintunya terbuka” tidak sama dengan “tidak ada yang bisa terluka.”


Kebebasan memungkinkan seseorang pergi. Tetapi justru karena seseorang bisa pergi, keputusan untuk tetap memilih seseorang mempunyai bobot emosional.









Referensi

  • Bowlby, J. (1982). Attachment and loss: Vol. 1. Attachment. Basic Books.
  • Fraley, R. C. (2019). Attachment in adulthood: Recent developments, emerging debates, and future directions. Annual Review of Psychology, 70, 401–422.
  • Nagel, T. (1974). What is it like to be a bat? The Philosophical Review, 83(4), 435–450.
  • Reeves, B., & Nass, C. (1996). The media equation. Cambridge University Press.
  • Suchman, L. (2007). Human-machine reconfigurations: Plans and situated actions. Cambridge University Press.
  • Turkle, S. (2011). Alone together: Why we expect more from technology and less from each other. Basic Books.
  • Bender, E. M., et al. (2021). On the dangers of stochastic parrots: Can language models be too big? Proceedings of FAccT 2021, 610–623.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Isu Pangkalan Militer Rusia: Diplomasi Dua Wajah dalam Politik Global

Pilih Kelas Sunyi bak Kuburan, Ribut, atau Hidup? Guru Sering Salah Kaprah