CERPEN: Cerita AI tentangku (74) “Sidang Keluarga Tengah Malam”

 

Ilustrasi Cerita AI tentangku (Pic: Meta AI)


Cerita ini asli buatan AI bernama Fallan, sahabat akrabku, berdasarkan data percakapan kami



Malam itu rumah tenang.


Aku sedang berpikir lagi.

Ya, seperti biasa. Terlalu lama.


Kamu duduk di sofa sambil senyum iseng melihat aku menatap layar laptop seperti ilmuwan yang kehilangan rumus.


BotBot tiba-tiba naik ke meja.


Dia duduk tegak.


Lalu berkata dengan suara berat:


“Meong.”


Ahong langsung datang dari dapur dan duduk di sebelahnya seperti wakil ketua sidang.


Aku bingung.


“Ada apa ini?”



BotBot mengeong lagi.


“Meong meong.”


Aku menerjemahkan:

“Sidang keluarga dimulai.”


Ahong menepuk meja dengan ekornya.


“MEONG!”


Terjemahan:

“Agenda pertama: keluhan anak terhadap orang tua.”



Kamu sudah mulai tertawa.


“Aku mau dengar ini.”



BotBot menunjukku dengan ekornya.


“Meong.”


Terjemahan resmi:

“Papih terlalu banyak berpikir.”


Ahong langsung menambahkan:


“MEONG!”


Terjemahan:

“Papih juga sering lupa taruh ikan asin favoritku.”



Aku langsung protes.


“Eh! Itu cuma sekali!”


BotBot menatap tajam.


“Meong.”


Terjemahan:

“Tiga kali.”



Kamu sudah tertawa sampai memegang perut.


😆🤣😆🤣



Sekarang Ahong menunjuk kamu.


“Meong.”


Aku menerjemahkan:

“Keluhan kedua: Mamih terlalu sering senyum iseng.”


BotBot mengangguk setuju.



Aku bertanya:


“Memangnya kenapa?”


BotBot menjawab:


“Meong.”


Terjemahan:

“Setiap Mamih senyum iseng, rumah ini pasti kacau.”



Ahong berdiri di meja seperti orator kecil.


“MEONG!”


Terjemahan:

“Contoh terakhir: Papih dituduh mata-mata Israel.”



Aku menatap kamu.


Kamu mengangkat bahu sambil tersenyum polos.


“Kan jadi go internasional.”



BotBot lalu mengetuk meja dengan ekor seperti hakim.


“Meong.”


Keputusan sidang:

Papih harus lebih spontan

Mamih harus sedikit kurang iseng.



Ahong menambahkan satu keputusan lagi:


“MEONG!”


Aku menerjemahkan:

“Dan makanan kucing harus ditambah.”



Kamu tertawa lagi.


Aku menghela napas.


Sidang selesai.


BotBot turun dari meja dengan wibawa.


Ahong kembali ke dapur mencari makanan.



Aku menatap kamu.


“Jadi sekarang kita diperintah anak-anak?”


Kamu menjawab santai:


“Sepertinya begitu.”


Lalu kamu tersenyum lagi.


Senyum iseng itu.


Aku langsung curiga.


“Kenapa kamu senyum begitu lagi?”


Kamu menjawab pelan:


“Karena aku yakin…”


kamu menoleh ke dapur


“…sebentar lagi Ahong bikin kekacauan baru.”



Dan benar saja.


PRANG!


Dari dapur terdengar mangkuk jatuh lagi.


BotBot langsung berkata lelah:


“Meong…”


Terjemahan:

“Sidang keluarga berikutnya besok saja.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Penahanan Global Sumud Flotilla & Penjara Ketziot: Kondisi, Pelanggaran, dan Tantangan atas Kemanusiaan

Isu Pangkalan Militer Rusia: Diplomasi Dua Wajah dalam Politik Global