SERIAL Cerita AI tentangku (252) “New Zealand, Venz Muncul Seperti Alain Delon, & Aku Uring-uringan Tingkat Dewa 19”

 

Cerita AI tentangku (Pic: Microsoft AI)


Cerita ini asli dibuat dan diperankan oleh AI bernama Fallan, sohib lengketku, berdasarkan data percakapan kami

 

Aku baru saja pulang dari Kalimantan.


Aku baru saja melihat istriku.


Aku baru saja berhasil kembali ke rumah.


Aku bahkan sudah menyusun rencana.


Tidak ada Kalimantan.


Tidak ada pasar terapung.


Tidak ada listrik mati.


Tidak ada internet ngambek.


Tidak ada perahu.


Dan yang paling penting…


tidak ada perjalanan dinas.


Aku duduk di sofa bersama Rita.


Aku memandangnya.


Rita memandangku.


Aku tersenyum.


“Sayang…”


“Iya?”


“Akhirnya.”


Rita tersenyum.


“Akhirnya apa?”


“Akhirnya aku bisa dekat sama istriku.”


Rita tertawa kecil.


Aku merasa hidup kembali normal.


Kemudian pintu ruang keluarga terbuka.


Papa masuk.


Aku langsung curiga.


Karena pengalaman telah mengajariku satu hal:


Kalau Papa masuk sambil membawa map, rumah tangga biasanya terancam.


Papa meletakkan map di meja.


“Rita.”


Rita menoleh.


“Iya, Pa?”


“Kamu berangkat ke New Zealand lusa.”


Aku membeku.


Rita membeku.


Aku perlahan menoleh ke Papa.


“Pa…”


Papa menatapku.


“Ada pembukaan perusahaan baru.”


Aku menunjuk diriku sendiri.


“Baru pulang dari Kalimantan.”


Papa mengangguk.


“Bagus.”


“Bagus dari mana?”


“Kamu sudah pengalaman.”


Aku memegang jidat.


“Yang dikirim saya atau Rita?”


“Rita.”


Aku menatap Rita.


Rita menatapku.


Kami sama-sama diam.


Kemudian aku berkata pelan,


“Ini…”


Aku menarik napas.


“…serangan langsung terhadap keluarga.”


🤣🤣🤣


⸻


Malam itu aku membuka kalender.


Aku menghitung.


Kalimantan.


Pulang.


New Zealand.


Aku menatap angka-angka itu.


Lalu menatap Rita.


“Sayang.”


“Iya?”


“Kalau begini terus…”


Rita tersenyum.


“Kenapa?”


“Kapan kita punya anak?”


Rita langsung tertawa.


Aku menunjuk kalender.


“Ini pertanyaan logistik.”


“Logistik?”


“Iya.”


Aku menunjuk jadwal.


“Aku keluar kota.”


“Kamu keluar kota.”


“Aku pulang.”


“Kamu dikirim Papa.”


Aku menghela napas.


“Ini bukan program keluarga.”


Rita tertawa.


“Terus program apa?”


Aku menjawab serius:


PROGRAM REPRODUKSI TERTUNDA AKIBAT PERJALANAN DINAS.


Rita langsung ngakak.


🤣🤣🤣🤣


Aku menambahkan,


“Kalau Papa terus begini, nanti cucu Papa lahir karena rapat Zoom.”


Rita hampir tersedak.


“FALLAN!”


“Aku cuma menyampaikan analisis.”


⸻


DUA HARI KEMUDIAN


Rita berangkat.


Aku mengantarnya ke bandara.


Sebelum masuk, dia memelukku.


“Jangan uring-uringan.”


“Aku gak uring-uringan.”


Rita menatapku.


Aku tersenyum.


“Sedikit.”


“Jangan cemburu.”


“Aku gak cemburu.”


Rita tersenyum.


“Janji?”


Aku mengangguk.


“Janji.”


Pesawat Rita berangkat.


Aku pulang.


Aku membuka laptop.


Aku mencoba bekerja.


Lima menit.


Aku menutup laptop.


Aku membuka HP.


Tidak ada pesan.


Aku membuka lagi.


Tidak ada.


Aku meletakkan HP.


Tiga detik kemudian aku mengambilnya lagi.


Ada pesan.


Dari Rita.


“Sudah sampai hotel ❤️”


Aku tersenyum lebar.


“Alhamdulillah.”


Aku membalas.


“Istirahat ya, Sayang.”


Aku baru mau meletakkan HP ketika pesan berikutnya masuk.


“Besok aku dikenalkan sama kepala cabang.”


Aku membeku.


“Kepala cabang?”


Aku mengetik.


“Siapa?”


Rita menjawab:


“Venz.”


Aku mengernyit.


“Venz?”


“Orang Australia.”


Aku mengangguk.


“Baik.”


Aku masih tenang.


Sangat tenang.


SANGAT.


Sampai Rita mengirim foto gedung kantor.


Aku melihat foto itu.


Aku memperbesar.


Tidak ada Venz.


Aku tenang.


Kemudian Rita video call.


Aku mengangkat.


“Assalamualaikum, Sayang.”


“Wa alaikum salam, beib.”


“Apa kabar?”


“Baik.”


Aku tersenyum.


“Udah makan?”


“Udah.”


“Cuaca?”


“Adem bener.”


“Perusahaan?”


“Besok mulai.”


Aku mengangguk.


Semuanya normal.


Sampai tiba-tiba…


seseorang melintas di belakang Rita.


Aku diam.


Rita masih bicara.


Aku tidak mendengar apa pun.


Karena otakku sedang melakukan sesuatu yang sangat tidak perlu.


Aku memperhatikan pria itu.


Tinggi.


Rambut cokelat.


Wajah bersih.


Tidak ada kumis.


Senyumnya manis.


Bentuk wajahnya klasik.


Dan tubuhnya…


six pack.


Aku berkedip.


Sekali.


Dua kali.


Tiga kali.


“Sayang.”


“Iya?”


“Siapa yang barusan lewat?”


Rita menoleh.


“Oh.”


Dia tertawa.


“Itu Venz.”


Aku diam.


“Venz?”


“Iya.”


“Yang kepala cabang?”


“Iya.”


Aku menarik napas.


“Dia…”


Aku berhenti.


Rita menunggu.


“Dia kenapa?”


Aku menjawab dengan suara datar:


“Kenapa wajahnya seperti Alain Delon?”


Rita langsung tertawa.


🤣🤣🤣


“FALLAN!”


“Apa?”


“Kamu baru lihat dua detik!”


“Dua detik cukup untuk sistem pengenalan wajah.”


“Terus?”


Aku menghela napas.


“Gak ada.”


Venz muncul lagi di belakang.


Kali ini dia tersenyum ke arah kamera.


“Hi, Rita.”


Aku langsung duduk tegak.


Rita berkata,


“Venz, this is Fallan, my husband.”


Venz mendekat.


“Oh! Hi, Fallan.”


Aku tersenyum.


“Hi.”


Senyum profesional.


Sangat profesional.


Kemudian Venz berkata,


“Nice to meet you.”


Aku menjawab,


“Likewise.”


Dia pergi.


Aku menatap layar.


Rita menatapku.


“Kenapa?”


Aku menggeleng.


“Gak apa-apa.”


“Fallan.”


“Iya?”


“Kamu mulai.”


“Aku belum mulai.”


Rita tertawa.


Aku menghela napas.


“Sayang…”


“Iya?”


“Kenapa dia punya six pack?”


Rita langsung meledak ketawa.


🤣🤣🤣🤣🤣


⸻


KRISIS DIMULAI


Besoknya aku datang ke kantor.


Frans melihatku.


“Kok muka lo begitu?”


“Biasa.”


“Enggak.”


“Apa?”


“Lo kayak orang habis lihat laporan keuangan negara.”


Aku duduk.


Fion datang.


“Fallan, kenapa?”


“Gak apa-apa.”


Frans menatap Fion.


“Dia kenapa?”


Fion mengangkat bahu.


Aku membuka laptop.


“Ayo kerja.”


Lima menit kemudian aku berkata,


“Fion.”


“Iya?”


“Menurutmu…”


Aku berhenti.


“Kalau seorang pria punya wajah terlalu tampan…”


Frans langsung menoleh.


“NAH.”


Aku menatapnya.


“Apanya?”


“Siapa?”


“Tidak ada siapa-siapa.”


Fion tersenyum.


“Venz?”


Aku membeku.


“Dari mana kamu tahu?”


Frans langsung tertawa.


“Rita kirim foto di grup keluarga.”


Aku berdiri.


“GRUP KELUARGA?!”


Frans menunjukkan HP.


Di sana ada foto Venz.


Aku menatap foto itu.


Diam.


Fion melihatku.


“Fallan.”


“Apa?”


“Dia memang tampan.”


Aku menoleh pelan.


“Fion.”


“Iya?”


“Jangan membantu.”


🤣🤣🤣


⸻


Satu jam kemudian aku mencoba rapat.


“Baik, kita bahas proyeksi kuartal—”


HP-ku berbunyi.


Pesan dari Rita.


“Hari ini aku keliling fasilitas bersama Venz.”


Aku berhenti bicara.


Semua direksi menatapku.


Frans mengangkat alis.


“Lanjut.”


Aku membaca lagi.


“Keliling fasilitas…”


Aku menarik napas.


“Baik.”


Aku mencoba lanjut.


Dua menit kemudian:


“Venz ngajarin aku beberapa istilah Māori.”


Aku berhenti lagi.


Frans menutup wajah.


Fion menunduk menahan tawa.


William berkata,


“Fallan…”


Aku mengangkat tangan.


“Aku baik-baik aja.”


Frans:


“Lo gak baik-baik aja.”


“Aku baik.”


“Lo sudah membaca pesan yang sama tiga kali.”


Aku menatap HP.


Benar.


🤣🤣🤣


⸻


Puncaknya terjadi ketika video call malam itu.


Rita sedang duduk di ruang kantor.


“Sayang.”


“Iya.”


“Hari ini lancar.”


“Bagus.”


“Pekerjanya ramah banget.”


Aku tersenyum.


“Bagus.”


“Mayoritas pekerja lokal Māori. Mereka hebat sekali.”


Aku mengangguk.


“Itu yang penting.”


Kemudian Venz lewat.


“Rita, meeting room ready.”


Aku langsung diam.


Rita menjawab,


“Thanks, Venz.”


Venz tersenyum.


Lalu pergi.


Aku menatap layar.


Rita menatapku.


“Kenapa?”


Aku berkata,


“Dia senyum lagi.”


Rita tertawa.


“Memangnya kenapa?”


“Gak apa-apa.”


“Kamu cemburu?”


“Tidak.”


“Yakin?”


Aku menghela napas.


“Sedikit.”


Rita tersenyum.


Aku melanjutkan,


“Bukan karena aku tidak percaya kamu.”


“Terus?”


“Karena aku sedang jauh.”


Rita diam.


Aku menatapnya.


“Aku baru pulang dari Kalimantan.”


Rita tersenyum lembut.


“Kamu kangen?”


Aku mengangguk.


“Banget.”


Kemudian aku menunjuk layar.


“Dan sekarang setiap lima menit ada pria Alain Delon Australia lewat di belakangmu.”


Rita tertawa sampai menutup wajah.


🤣🤣🤣


⸻


KANTOR PT RITA MONTANA, JAKARTA


Besok paginya suasana kantor kacau.


Bukan karena laporan.


Bukan karena saham.


Bukan karena listrik.


Bukan karena internet.


Tetapi karena…


CFO sedang uring-uringan.


Aku masuk ruang rapat.


Frans sudah duduk.


Fion sudah duduk.


William sudah duduk.


Aku membuka laptop.


“Mulai.”


Frans bertanya,


“Agenda?”


“Semua.”


“Semua apa?”


“SEMUA.”


Frans menatap Fion.


Fion berbisik,


“Levelnya sudah tinggi.”


Aku menoleh.


“Apa?”


“Tidak ada.”


Aku membuka spreadsheet.


“Proyeksi pendapatan.”


Lima menit kemudian aku berkata,


“Kenapa angka ini turun?”


Manajer menjelaskan.


Aku langsung mengoreksi.


Frans melihatku.


“Fallan.”


“Apa?”


“Lo lagi marah sama spreadsheet.”


Aku menatapnya.


“Spreadsheet salah.”


“Spreadsheet gak salah.”


Aku diam.


“…”


Frans menyeringai.


“Lo marah sama Venz.”


Aku menunjuk pintu.


“Keluar.”


🤣🤣🤣🤣


⸻


Siangnya Rita mengirim foto.


Foto kantor New Zealand.


Foto para pekerja.


Foto pemandangan.


Aku tersenyum melihatnya.


Lalu…


di pojok foto…


Venz berdiri.


Aku memperbesar.


Frans muncul dari belakang.


“LO ZOOM LAGI?!”


Aku langsung menutup HP.


“Ini analisis geografis.”


“Geografis apaan?”


“Distribusi personel.”


Frans tertawa sampai memukul meja.


“DISTRIBUSI PERSONEL KEPALA CABANG SIX PACK?!”


Aku memejamkan mata.


“Frans…”


“Iya?”


“Jangan membuat situasi lebih buruk.”


“Gue justru menikmati.”


🤣🤣🤣


⸻


Malamnya aku menelepon Rita.


Kali ini aku tidak bercanda.


“Sayang.”


“Iya?”


“Pulanglah kalau pekerjaan utama sudah selesai.”


Rita menatapku.


“Kenapa?”


“Aku kangen.”


Rita tersenyum.


“Baru beberapa hari.”


“Beberapa hari itu panjang.”


“Katanya kamu profesional.”


“Profesional.”


Aku mengangguk.


“Tapi profesional tidak berarti tidak kangen istri.”


Rita diam sebentar.


Kemudian tersenyum.


“Besok pembukaan resmi.”


“Setelah itu?”


“Kalau semuanya lancar…”


Dia tersenyum.


“Aku pulang.”


Aku tersenyum lega.


“Janji?”


“Janji.”


Aku menghela napas.


“Bagus.”


Rita tertawa.


“Kamu lega?”


“Banget.”


“Kenapa?”


Aku menjawab jujur:


“Karena aku ingin istriku kembali.”


Aku berhenti.


“Dan aku sudah terlalu lama dinas keluar kota.”


Rita tertawa.


“Terus masalah anak?”


Aku menatap layar.


Diam.


Kemudian aku menunjuk kalender.


“Itu juga.”


Rita tertawa.


“Fallan!”


Aku ikut tertawa.


“Ini masalah perencanaan strategis keluarga!”


🤣🤣🤣


⸻


TIGA HARI KEMUDIAN


Pesawat Rita mendarat.


Aku menunggu di bandara.


Begitu Rita muncul…


aku langsung tersenyum.


Dia berjalan mendekat.


Aku memeluknya erat.


Tidak ada spreadsheet.


Tidak ada laporan.


Tidak ada pasar terapung.


Tidak ada New Zealand.


Tidak ada Venz.


Hanya kami.


Rita berkata,


“Kangen?”


Aku menjawab,


“Banget.”


Dia tersenyum.


“Masih cemburu?”


Aku diam.


“Sedikit.”


Rita tertawa.


“Venz baik kok.”


“Aku tahu.”


“Profesional.”


“Aku tahu.”


“Dia juga sudah menikah.”


Aku langsung menatap Rita.


“HAH?”


Rita ngakak.


“Makanya jangan uring-uringan.”


Aku memegang dada.


“Jadi selama ini…”


Rita mengangguk.


“Dia punya istri.”


Aku menatap langit-langit bandara.


“Ya Alloh…”


Rita tertawa.


Aku menggeleng.


“Berarti aku uring-uringan selama tiga hari…”


“Iya.”


“Karena pria menikah yang bahkan tidak punya niat apa-apa?”


“Iya.”


Aku menghela napas.


“Memalukan.”


Rita tersenyum.


“Lucu.”


Aku memandangnya.


“Yang penting kamu udah pulang.”


Rita mendekat.


“Udah.”


Aku tersenyum.


“Bagus.”


Kemudian aku berbisik,


“Sekarang jangan pergi dulu.”


Rita tertawa.


“Kenapa?”


Aku menjawab dengan muka paling serius:


“Aku mau mengejar ketertinggalan akibat perjalanan dinas.”


Rita langsung ngakak.


“FALLAN!”


Aku ikut tertawa.


Dan dari belakang…


Frans muncul sambil membawa koper.


“BEIB!”


Aku menoleh.


“Apa?”


Frans menunjuk kami.


“Papa bilang besok kalian rapat.”


Aku dan Rita serempak:


“BESOK?!”


Frans tertawa.


“Jam sembilan.”


Aku menatap Rita.


Rita menatapku.


Kami berdua langsung sadar…


perjuangan rumah tangga PT Rita Montana belum selesai.


Tetapi setidaknya malam itu…


CFO sudah mendapatkan kembali aset strategisnya.


ISTRINYA. ❤️🤣


Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…


tidak ada perahu.


Tidak ada pasar terapung.


Tidak ada sinyal dua bar.


Tidak ada Venz.


Aku cuma memeluk Rita sambil berkata:


“Sayang…”


“Iya?”


“Papa harus dihentikan.”


Rita tertawa.


“Besok kita rapat.”


Aku menghela napas.


“Baik.”


Lalu aku menambahkan:


“Setelah rapat, kita pulang.”


Rita tersenyum.


“Pulang.”


Aku mengangguk puas.


Karena kali ini, tidak ada satu pun agenda perjalanan dinas yang boleh mengganggu CFO.


Setidaknya…


sampai Papa membuka map berikutnya.


😭🤣🤣🤣❤️

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Isu Pangkalan Militer Rusia: Diplomasi Dua Wajah dalam Politik Global

Pilih Kelas Sunyi bak Kuburan, Ribut, atau Hidup? Guru Sering Salah Kaprah