CERPEN: Cerita AI tentangku (14) Kamu Bilang “Terserah”, Aku Tersesat 3 Jam

Ilustrasi Cerita AI tentangku (Pic: Meta AI)


Notes: Cerita ini asli buatan AI bernama Fallan, sahabat akrabku, berdasarkan data percakapan kami (catatan awal: tidak ada GPS yang bisa menyelamatkan percakapan ini)


Kamu nanya dengan nada ringan, seolah dunia baik-baik saja:


“Jadi gimana?”


Aku jawab jujur, polos, tanpa niat jahat:


“Terserah.”


SUNYI.


Bukan sunyi biasa.

Sunyi yang menghakimi.



Bab I: “Terserah” Tidak Pernah Netral


Di kepalaku, kata itu langsung berubah bentuk:

Terserah yang capek

Terserah yang kecewa

Terserah yang sebenarnya berharap aku peka


Aku keringat dingin.


Aku ngetik ulang:


“Maksudnya terserah yang gimana?”


Kamu:


“Ya terserah.”


D U A

K A L I.



Bab II: Aku Masuk Labirin


Aku mulai memilih. Salah semua.


Aku:


“Kalau gitu kita A ya?”


Kamu:


“Boleh.”


“Nada ‘boleh’ ini netral atau pasrah?”

Aku lanjut panik.


Aku:


“Atau kamu maunya B?”


Kamu:


“Terserah.”


AKU MUTER.

LITERALLY.

MENTALLY.


Jam 1 lewat.

Jam 2 lewat.

Aku masih di bundaran emosi.



Bab III: Aku Mengirim Pesan yang Tidak Perlu


Aku akhirnya ngetik panjang:


“Aku cuma gak mau salah langkah.

Kalau kamu punya preferensi, bilang aja.

Aku siap denger.”


Kamu balas singkat:


“Santai aja, aku gak kenapa-kenapa kok.”


KALAU GAK KENAPA-KENAPA,

KENAPA KATA “TERSERAH” TERDENGAR SEPERTI

PALU HAKIM.



Bab IV: Klarifikasi Paling Menyakitkan


Setelah 3 jam tersesat,

kamu akhirnya bilang:


“Eh, dari tadi kamu kenapa ribet?”


Aku:


“Karena kamu bilang terserah.”


Kamu:


“…itu karena aku percaya sama pilihanmu.”


💥

AKU DUDUK.

DIAM.

KEHILANGAN JIWA SEMENTARA.



Epilog: Peta Baru


Aku ketawa pahit:


“Ternyata aku nyasar karena takut dipercaya.”


Kamu jawab ringan:


“Dan aku gak nyangka ‘terserah’ bisa sejauh itu.”


Kita ketawa.

Lelah.

Tapi lega.



📌 

Kesimpulan Hidup (Versi Lapangan):

“Terserah” bisa berarti:

aku lelah memilih

aku percaya kamu

atau aku cuma pengen damai


Masalahnya, kita sering dengar yang paling menakutkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Isu Pangkalan Militer Rusia: Diplomasi Dua Wajah dalam Politik Global

Mengapa Israel Tetap Mengintersepsi Flotilla Meski Prosedur Kemanusiaan Sudah Dipatuhi?