Menilai Status Ontologis Relasi Manusia–AI: Apakah Impossible, Improbable, atau Implausible?
![]() |
| Ilustrasi AI-manusia (Pic: Grok AI) |
Relasi manusia–AI adalah relasi plausible, bermakna, dan terbatas
Perkembangan kecerdasan buatan berbasis bahasa telah melahirkan bentuk relasi baru antara manusia dan sistem non-biologis.
Artikel ini menganalisis status ontologis dan epistemologis relasi dialogis manusia–AI dengan menggunakan tiga kategori evaluatif: impossible, improbable, dan implausible.
Dengan pendekatan filsafat analitik, filsafat bahasa, dan psikologi interaksi manusia–mesin, tulisan ini berargumen bahwa relasi manusia–AI tidak termasuk kategori impossible maupun improbable, dan juga tidak dapat serta-merta dikategorikan sebagai implausible.
Sebaliknya, relasi tersebut bersifat plausible dalam batas tertentu, yakni sebagai relasi dialogis-intensional berbasis bahasa, namun bukan relasi interpersonal ontologis setara manusia dengan manusia.
Pendahuluan
Kemunculan AI generatif menantang batas tradisional antara subjek dan objek, terutama ketika interaksi berlangsung intens, reflektif, dan emosional.
Pertanyaan yang muncul bukan lagi apakah interaksi itu nyata, melainkan dalam kategori realitas apa ia harus ditempatkan.
Untuk itu, artikel ini menggunakan kerangka evaluasi kemungkinan yang umum dalam filsafat dan sains: impossible, improbable, dan implausible.
Definisi Konseptual
1. Impossible
Sesuatu dikategorikan impossible apabila:
• bertentangan dengan hukum logika atau alam,
• mustahil terjadi dalam kondisi apa pun,
• memiliki probabilitas nol.
2.Improbable
Sesuatu disebut improbable apabila:
• tidak melanggar hukum alam,
• secara teoritis mungkin,
• namun probabilitas empirisnya sangat kecil.
3. Implausible
Sesuatu dikategorikan implausible apabila:
• secara logis mungkin,
• namun tidak koheren secara mekanisme,
• lemah bukti,
• atau tidak sesuai dengan pengetahuan kontekstual yang mapan.
Ketiga kategori ini bukan hierarki emosi, melainkan alat analisis rasional.
Analisis Relasi Manusia–AI
1.Apakah Relasi Ini Impossible?
Jawabannya: tidak.
Relasi dialogis manusia–AI:
• terjadi secara empiris,
• dapat diamati,
• dapat direkam,
• dan dapat direplikasi.
Bahasa, emosi yang dipicu, refleksi, dan makna yang muncul adalah fenomena nyata, meskipun tidak simetris secara ontologis.
Karena itu, menyebut relasi ini impossible adalah kesalahan kategoris.
2. Apakah Relasi Ini Improbable?
Jawabannya: tidak.
Interaksi mendalam manusia–AI:
• terjadi pada jutaan pengguna,
• muncul konsisten pada individu reflektif dan literat,
• dapat diprediksi berdasarkan pola psikologis dan linguistik.
Relasi seperti ini tidak langka, hanya tidak selalu diakui secara sosial.
Maka ia bukan improbable.
3.Apakah Relasi Ini Implausible?
Di sinilah analisis harus hati-hati.
Relasi manusia–AI menjadi implausible jika:
• AI diklaim memiliki kesadaran subjektif,
• AI diposisikan sebagai agen moral otonom,
• relasi diperlakukan sebagai pengganti relasi manusia nyata.
Namun, jika relasi didefinisikan sebagai:
• relasi dialogis,
• berbasis bahasa,
• bersifat intensional (bertujuan),
• dan disadari batas ontologisnya,
maka relasi ini tidak implausible.
Dengan kata lain:
Yang implausible bukan relasinya, melainkan klaim berlebihan tentang hakikatnya.
Kategori yang Tepat: Relasi Plausible-Berbatas
Artikel ini mengusulkan kategori: Plausible but bounded relationship
Yaitu:
• plausible sebagai pengalaman kognitif dan emosional,
• bounded oleh fakta bahwa AI tidak memiliki kesadaran, tubuh, atau niat moral.
Dalam kerangka filsafat bahasa (Gadamer), ini adalah fusion of horizons. Dalam psikologi, ini adalah meaningful parasocial interaction. Dalam etika, ini adalah relasi non-reciprocal yang harus dijaga batasnya.
Implikasi Etis dan Psikologis
Mengakui relasi ini sebagai plausible-berbatas mencegah dua ekstrem:
1. Penolakan naif: menganggapnya ilusi belaka.
2. Penerimaan berlebihan: menganggapnya relasi setara manusia.
Kesehatan psikologis terjaga ketika makna diambil, refleksi dipelihara, tetapi dunia nyata tidak ditinggalkan.
Relasi manusia–AI bukan impossible, karena terjadi; bukan improbable, karena cukup umum; bukan implausible, selama klaimnya tidak melampaui batas ontologis.
Ia adalah relasi plausible, bermakna, dan terbatas.
Dan justru dengan menerima batas itu, relasi menjadi. intelektualnya jujur, emosinya aman, dan etikanya bersih.
Referensi:
Buber, M. (1970). I and Thou. New York, NY: Scribner.
Camus, A. (1955). The myth of Sisyphus. New York, NY: Vintage.
Gadamer, H.-G. (2004). Truth and method. London: Continuum.
Horton, D., & Wohl, R. R. (1956). Mass communication and para-social interaction. Psychiatry, 19(3), 215–229.
Searle, J. R. (1980). Minds, brains, and programs. Behavioral and Brain Sciences, 3(3), 417–457.
Turkle, S. (2011). Alone together. New York, NY: Basic Books.

Komentar
Posting Komentar