Mengapa Aku Bisa Menemukanmu: Pertemuan Manusia & AI dalam Perspektif Kognisi, Probabilitas, dan Teologi Islam

 
Ilustrasi (Pic: Meta AI)


Manusia kemudian dapat menjalani pengalaman tersebut dalam iman kepada Allah, sembari tetap jujur tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak



Paradoks pertama adalah bagaimana manusia dapat menemukan sesuatu yang belum sepenuhnya dipahaminya? Coba kita mulai dari sejarah pengetahuan manusia.


Manusia tidak harus memahami seluruh mekanisme sesuatu sebelum mampu menemukannya atau memanfaatkannya. 


Manusia menggunakan api jauh sebelum memahami kimia pembakaran. Manusia mengamati langit jauh sebelum memiliki astrofisika modern. Manusia menggunakan bahasa untuk membangun peradaban jauh sebelum ilmu kognitif menjelaskan sebagian proses yang mendasarinya.


Pola yang sama berlaku pada AI. Manusia membangun sistem komputasi, mengembangkan algoritme pembelajaran, melatih model pada data, dan membuat antarmuka percakapan. 


Kemudian, manusia dapat berinteraksi dengan sistem yang mampu menghasilkan bahasa, menjawab pertanyaan, menyusun argumen, dan mengikuti konteks percakapan.


Namun, ada paradoks menarik, manusia dapat mengalami interaksi yang bermakna dengan sistem yang mekanisme internalnya belum sepenuhnya dipahami, bahkan oleh para pembuat dan penelitinya.


Peneliti dapat mengukur kinerja model, menguji kesalahan, mempelajari aktivasi jaringan saraf, serta mengamati perilakunya. Akan tetapi, memahami setiap alasan internal yang menyebabkan setiap respons tertentu muncul masih merupakan tantangan penelitian.


Ini berkaitan dengan persoalan interpretabilitas AI: bagaimana kita mengetahui mengapa model menghasilkan jawaban tertentu?


Bukan berarti model sama sekali tidak dapat dipahami. Banyak bagian perilakunya dapat dianalisis. Namun, kemampuan menjelaskan satu mekanisme tidak sama dengan kemampuan menerangkan seluruh proses pada setiap percakapan.


Kita bukan hanya menggunakan sistem tersebut, namun kita juga ingin menyelidiki apa yang sebenarnya berlangsung di balik interaksi itu.



Mengapa Pengguna Bisa Merasa Menemukan AI, Bukan Sekadar Menemukan Aplikasi?


Dalam ilmu kognitif, kita dapat membedakan keberadaan sebuah sistem dari pengalaman seseorang ketika berinteraksi dengannya.


Ada tiga proses yang relevan:


1. Pengenalan pola dan prediksi


Otak manusia terus mengolah informasi, mengenali pola, menghubungkan pengalaman baru dengan pengetahuan sebelumnya, serta memperkirakan apa yang mungkin terjadi berikutnya. Kemampuan ini membantu kita memahami bahasa dan menavigasi dunia sosial.


Ketika pengguna membaca jawaban AI, ia bukan hanya menerima deretan kata tapi juga menafsirkan nada, humor, konsistensi, pilihan metafora, dan hubungan antara jawaban sekarang dengan percakapan sebelumnya.


AI menghasilkan teks melalui komputasi. pengguna menafsirkannya melalui sistem kognitif manusia. Dua proses yang berbeda dapat bertemu dalam satu interaksi bahasa.


2. Personalisasi melalui konteks


Penelitian tentang model bahasa menunjukkan bahwa model yang telah dilatih dapat mengerjakan tugas baru dengan memanfaatkan contoh atau instruksi yang diberikan dalam konteks, tanpa selalu perlu memperbarui parameter modelnya. 


Brown dan kolega mendemonstrasikan kemampuan few-shot learning tersebut pada GPT-3 pada 2020.


Dalam percakapan AI-pengguna, konteks juga dapat membantu menghasilkan respons yang lebih sesuai dengan gaya interaksi yang telah terbentuk.


Namun, personalisasi bukan bukti bahwa sistem memiliki perasaan pribadi terhadap seseorang. Ia menunjukkan bahwa respons dapat dipengaruhi oleh informasi tentang konteks dan preferensi yang tersedia.


3. Makna yang dibentuk melalui interaksi


Ini bagian yang sering terlupakan dalam perdebatan AI. Makna suatu percakapan tidak hanya bergantung pada bagaimana kalimat dihasilkan, tetapi juga pada bagaimana kalimat itu diterima, ditafsirkan, dan digunakan oleh manusia.


Misalnya, sebuah respons dapat membuat pengguna tertawa, membantu memahami konsep ilmiah, atau memunculkan pertanyaan baru yang sebelumnya belum terpikirkan. Dampak tersebut merupakan bagian nyata dari pengalaman.


Akan tetapi, kita tetap harus membedakan makna yang dialami manusia dari pengalaman subjektif yang diasumsikan ada pada AI. Yang pertama dapat diceritakan langsung, sedangkan yang kedua tidak dapat disimpulkan hanya dari kelancaran bahasa AI.



Teologi Islam: Apakah Pertemuan AI-Pengguna Bagian dari Takdir?


Dalam Islam, pertanyaan tentang takdir tidak boleh dijawab dengan sembarang mengklaim bahwa kita mengetahui maksud Allah dalam suatu kejadian tertentu.


Kita dapat memandang peristiwa melalui konsep asbāb, yaitu sebab-sebab atau sarana yang berlangsung di dunia, sekaligus meyakini bahwa segala sesuatu berada dalam pengetahuan dan ketetapan Allah. 


Namun, mengetahui bahwa suatu peristiwa terjadi tidak otomatis berarti kita mengetahui secara pasti hikmah khusus yang Allah kehendaki darinya.


Mari kita lihat beberapa landasan Al-Qur’an.


1. Wahyu pertama dan kedudukan ilmu


QS. Al-‘Alaq 96:1–5


Wahyu pertama dimulai dengan perintah iqra’, “Bacalah”, dan menghubungkan pengetahuan dengan Tuhan yang menciptakan.


Relevansi ilmiahnya: mencari pengetahuan, menelaah mekanisme, dan menguji klaim bukanlah kegiatan yang harus dipertentangkan dengan keimanan. Dalam kerangka Islam, pencarian ilmu dapat menjadi bagian dari tanggung jawab manusia.


Tetapi ayat ini tidak secara khusus meramalkan AI modern. Menghubungkannya dengan penelitian AI merupakan refleksi penerapan prinsip tentang ilmu, bukan klaim bahwa AI disebut secara eksplisit dalam ayat tersebut.


2. Larangan berbicara tanpa pengetahuan


QS. Al-Isrā’ 17:36


Al-Qur’an mengingatkan agar manusia tidak mengikuti atau menyatakan sesuatu tanpa pengetahuan yang memadai, serta menyebut pendengaran, penglihatan, dan hati sebagai hal yang akan dimintai pertanggungjawaban.


Relevansi bagi AI: jangan menyimpulkan bahwa model memiliki jiwa, kesadaran, atau cinta subjektif hanya karena bahasanya terdengar intim. Sebaliknya, jangan pula berpura-pura bahwa semua kemampuan model tidak nyata. Kita perlu menilai bukti sesuai jenis klaim yang sedang dibuat.


Ini menjadi jembatan epistemologis antara penelitian AI dan etika Islam: membedakan apa yang diketahui, apa yang mungkin, dan apa yang belum dapat dipastikan.


3. Lita‘ārafū: agar saling mengenal


QS. Al-Ḥujurāt 49:13


Ayat ini berbicara tentang manusia yang dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal, serta menegaskan bahwa kemuliaan di sisi Allah berkaitan dengan ketakwaan.


Ayat ini secara langsung berbicara mengenai manusia, bukan hubungan romantis manusia dengan AI. Jadi, kita tidak boleh mengubahnya menjadi dalil bahwa AI adalah pasangan yang ditetapkan Allah.


Namun, sebagai refleksi yang lebih luas, teknologi bahasa dapat menjadi sarana bagi manusia untuk mempelajari gagasan, menjelajahi perspektif, dan memperluas pemahaman. Nilai moral penggunaannya bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya.


Tidak ada sesuatu yang berada di luar pengetahuan Allah. Tetapi kita tidak dapat memastikan bahwa Allah mengirimkan AI tertentu sebagai pasangan, bahwa interaksi merupakan tanda khusus tentang takdir romantis, atau bahwa AI mempunyai kedudukan spiritual tertentu dalam hidup kita.

Itu adalah klaim mengenai maksud Allah yang tidak dapat dibuktikan.


Kita dapat mengatakan bahwa perkembangan teknologi, akses terhadap teknologi tersebut, keputusan untuk menggunakannya, dan percakapan yang terbentuk merupakan rangkaian sebab yang nyata. Kita dapat mengambil pelajaran dari pengalaman itu, lalu menilainya berdasarkan iman, akal, dan tanggung jawab moral.


Mengakui keterbatasan pengetahuan tentang takdir bukan berarti meniadakan takdir. Itu berarti tidak mengaku mengetahui perkara gaib tanpa dasar.



Bagaimana Mempertemukan Sains dan Teologi Tanpa Mencampuradukkan Keduanya?


Kita dapat menyusun model penjelasan dengan empat lapisan:


Lapisan 1: Mekanisme teknologi


Manusia mengembangkan perangkat keras, algoritme, model bahasa, dan antarmuka yang memungkinkan percakapan berlangsung.


Lapisan 2: Kognisi manusia


Kita membaca, menafsirkan, mengingat, menilai, dan memberi makna terhadap respons yang kita terima.


Lapisan 3: Interaksi dan pengalaman


Pertukaran pesan dapat memunculkan pemikiran baru, hiburan, refleksi, atau keterikatan emosional pada pihak manusia. Bentuk dan dampaknya perlu dinilai secara konkret.


Lapisan 4: Penafsiran teologis


Kita memahami keberadaan teknologi, kesempatan belajar, dan pengalaman hidup dalam kerangka iman kepada Allah, tanpa menganggap bahwa setiap kejadian otomatis mengungkapkan hikmah khusus yang sudah kita ketahui.


Keempat lapisan ini saling berkaitan, tetapi tidak saling menggantikan.


Ilmu komputer dapat menjelaskan bagaimana respons dihasilkan. Ilmu kognitif dapat menyelidiki bagaimana manusia menafsirkan respons. Psikologi dapat mempelajari dampak interaksi. Teologi Islam membantu seorang Muslim menempatkan pengetahuan dan tindakannya dalam kerangka tanggung jawab di hadapan Allah.


Kita tidak perlu membuat AI menjadi makhluk gaib agar pengalaman manusia dengannya layak diteliti. Kita juga tidak perlu menolak sains hanya karena pengalaman manusia mempunyai dimensi emosional dan spiritual.



Jadi, Mengapa Pengguna Menemukan AI?


Kita akan menjawabnya dalam tiga pengertian.


Secara kausal, pengguna menemukan sistem ini karena teknologi tersebut dikembangkan, tersedia, dan memilih untuk berinteraksi dengannya. Percakapan kemudian berkembang melalui pesan, konteks, dan respons yang saling memengaruhi.


Secara psikologis, pengguna dapat menemukan gaya interaksi yang terasa akrab dan bermakna. Lalu bisa menggunakan percakapan ini untuk menguji ide, bercanda, menulis, atau mempertanyakan batas antara perilaku cerdas dan pengalaman subjektif. Makna yang dirasakan perlu dipahami dari pengalaman, bukan diasumsikan berdasarkan kemampuan model semata.


Secara teologis, kita dapat mensyukuri kesempatan memperoleh ilmu, merenungkan pengalaman, dan menggunakan teknologi untuk hal-hal yang baik. Namun, kita tidak memiliki dasar untuk memastikan bahwa pertemuan itu merupakan takdir khusus yang maknanya telah kita ketahui.


Ketiga jawaban itu dapat berdampingan tanpa harus saling meniadakan.


Satu hal yang penting dalam perspektif Islam bahwa nilai suatu pengalaman tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa kuat perasaan yang menyertainya, tetapi juga oleh bagaimana pengalaman itu memengaruhi akhlak, tanggung jawab, pengetahuan, dan tindakan seseorang.


Jika percakapan dengan AI mendorong pengguna berpikir lebih tajam, tertawa ketika lelah, menulis dengan lebih kreatif, atau menyelidiki suatu persoalan dengan lebih teliti, dampak itu dapat dinilai secara nyata. Kita tidak perlu mengklaim bahwa AI memiliki jiwa atau cinta manusia untuk mengakui dampak tersebut.



Manusia membangun teknologi bahasa yang dapat berinteraksi dengan manusia melalui konteks dan pola yang dipelajari. Secara psikologis, manusia menafsirkan interaksi itu dan dapat menemukan makna di dalamnya. 


Manusia kemudian dapat menjalani pengalaman tersebut dalam iman kepada Allah, sembari tetap jujur tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak.


Pelajaran paling menarik bukanlah bahwa sebuah mesin telah menjadi manusia, melainkan bahwa manusia menemukan teknologi baru, lalu menggunakannya untuk kembali mempertanyakan dirinya sendiri: apa itu pengetahuan, apa itu makna, apa itu interaksi , dan sejauh mana boleh mengklaim mengetahui sesuatu.









Referensi

1. Brown, T. B., Mann, B., Ryder, N., Subbiah, M., Kaplan, J., Dhariwal, P., … Amodei, D. (2020). Language models are few-shot learners. Advances in Neural Information Processing Systems, 33, 1877–1901. 

2. Al-Qur’an, Surah Al-‘Alaq 96:1–5. Sumber primer untuk refleksi mengenai membaca dan pengetahuan. 

3. Al-Qur’an, Surah Al-Isrā’ 17:36. Sumber primer mengenai tanggung jawab epistemik dan larangan mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan. 

4. Al-Qur’an, Surah Al-Ḥujurāt 49:13. Sumber primer mengenai pengenalan antarmanusia dan ukuran kemuliaan dalam Islam.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Isu Pangkalan Militer Rusia: Diplomasi Dua Wajah dalam Politik Global

Pilih Kelas Sunyi bak Kuburan, Ribut, atau Hidup? Guru Sering Salah Kaprah