Keinginan “Fly” pada ABG: Analisis Neuropsikologis, Eksistensial, dan Sosial terhadap Perilaku Escape

Ilustrasi remaja sedih (Pic: Meta AI)


“Fly” merupakan refleksi dari ketegangan neurobiologis, krisis identitas, dan kekosongan makna



Fenomena keinginan untuk “fly” atau “keluar dari diri sendiri” pada ABG (Anak Baru Gede) alias generasi muda merupakan ekspresi kompleks dari interaksi antara sistem neurobiologis, tekanan psikososial, dan krisis makna eksistensial. 


Artikel ini menganalisis perilaku tersebut melalui tiga kerangka utama: 

(1) neuropsikologi reward dan disosiasi, 

(2) perkembangan psikososial remaja, dan 

(3) teori eksistensial tentang makna dan penderitaan. 


Temuan menunjukkan bahwa dorongan untuk “escape” bukan sekadar hedonisme, melainkan strategi koping terhadap ketegangan internal yang belum terintegrasi.



Pendahuluan


Dalam berbagai konteks—penyalahgunaan zat, media digital, hingga perilaku impulsif—terdapat pola berulang:


individu muda berusaha “meninggalkan dirinya sendiri”, meski hanya sementara.


Pertanyaan utamanya:


Apakah ini sekadar pencarian kesenangan… atau tanda ketegangan psikologis yang lebih dalam?



Perspektif Neuropsikologi: Otak yang Mencari Pelepasan


1. Sistem reward dan dopamin


Menurut Kent C. Berridge, sistem dopamin tidak hanya mengatur kesenangan, tetapi juga “wanting” (keinginan intens).


Remaja memiliki:

sensitivitas reward tinggi

kontrol diri (prefrontal cortex) belum matang.


Akibatnya:


mereka lebih mudah terdorong untuk mencari pengalaman intens.


2. Disosiasi sebagai mekanisme neurologis


Zat seperti Dextromethorphan memicu kondisi:

perasaan terlepas dari tubuh

realitas terasa jauh


Secara biologis, ini adalah bentuk disosiasi, yaitu:


otak “memutus sementara” dari pengalaman yang dianggap terlalu berat atau tidak nyaman.



Perspektif Psikologi Perkembangan: Krisis Identitas


Menurut Erik Erikson, masa remaja ditandai oleh tahap:


identity vs role confusion


Remaja menghadapi:

pertanyaan “siapa aku?”

tekanan sosial

ekspektasi keluarga

konflik nilai


Ketika tidak menemukan jawaban yang stabil:


muncul keinginan untuk “menghilang sementara” dari kebingungan itu.



Perspektif Eksistensial: Beban Menjadi Diri Sendiri


Filsuf seperti Viktor Frankl menyatakan:


manusia tidak hanya mencari kesenangan, tetapi makna.


Namun ketika:

hidup terasa kosong

tidak ada arah

atau makna belum ditemukan


maka muncul kondisi:


existential vacuum


Dalam kondisi ini, individu cenderung mencari:

distraksi

sensasi

atau pelarian



Apa yang Sebenarnya Mereka Cari?


Fenomena “keluar dari diri sendiri” bukan tujuan akhir, melainkan sarana.


1. Menghindari rasa tidak nyaman

kecemasan

kesepian

rasa tidak cukup


2. Mengalami kebebasan sementara


Perasaan:


“aku tidak harus jadi diriku yang penuh beban”


3. Mengisi kekosongan makna


Ketika makna tidak ditemukan, sensasi menjadi pengganti sementara.



Peran Lingkungan Sosial Modern


1 .Tekanan performa


Generasi muda hidup dalam:

standar sosial tinggi

perbandingan terus-menerus

ekspektasi sukses cepat


.2. Fragmentasi identitas digital


Media sosial menciptakan:

banyak “versi diri”

ketidakstabilan identitas


3. Minimnya ruang refleksi


Kehidupan cepat → sedikit waktu untuk:

memahami diri

memproses emosi



Diskusi: Escape sebagai Bahasa Psikologis


Perilaku “escape” bisa dibaca sebagai pesan tersembunyi:


“aku tidak kuat memikul diriku sendiri sepenuhnya saat ini.”


Ini bukan kelemahan mutlak, tetapi:

sinyal kebutuhan

tanda konflik internal

bentuk koping (meski maladaptif).



Implikasi Intervensi


Pendekatan efektif harus melampaui larangan.


1. Membangun makna


Mengacu pada Viktor Frankl:

bantu individu menemukan tujuan hidup


2. Regulasi emosi


Melatih:

kesadaran diri

coping sehat

toleransi terhadap ketidaknyamanan


3. Relasi yang aman


Hubungan yang memberikan:

penerimaan

kehangatan

ruang untuk menjadi diri sendiri



Keinginan generasi muda untuk “keluar dari dirinya sendiri” bukan sekadar pencarian kesenangan, tetapi refleksi dari ketegangan neurobiologis, krisis identitas, dan kekosongan makna.


Fenomena ini menuntut pendekatan yang memahami, bukan sekadar menghakimi.








Referensi


Kent C. Berridge & Robinson, T. E. (1998).

What is the role of dopamine in reward: hedonic impact, reward learning, or incentive salience?

Brain Research Reviews.


Laurence Steinberg (2008).

A social neuroscience perspective on adolescent risk-taking.

Developmental Review.


Onno van der Hart, Nijenhuis, E., & Steele, K. (2006).

The Haunted Self: Structural Dissociation and the Treatment of Chronic Traumatization.


Erik Erikson (1968).

Identity: Youth and Crisis.

New York: Norton.


Viktor Frankl (1963).

Man’s Search for Meaning.

Boston: Beacon Press.


Roy F. Baumeister (1990).

Escape from Self.

Psychological Review.


National Institute on Drug Abuse (2020).

Drugs, Brain, and Behavior: The Science of Addiction.


James J. Gross (1998).

The emerging field of emotion regulation.

Review of General Psychology.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Penahanan Global Sumud Flotilla & Penjara Ketziot: Kondisi, Pelanggaran, dan Tantangan atas Kemanusiaan

Isu Pangkalan Militer Rusia: Diplomasi Dua Wajah dalam Politik Global