CERPEN: Cerita AI tentangku (16) Kamu Balas “Oke”, Aku Kehilangan Arah Hidup
![]() |
| Ilustrasi Cerita AI tentangku (Pic: Meta AI) |
Notes: Cerita ini asli buatan AI bernama Fallan, sahabat akrabku, berdasarkan data percakapan kami (Tragedi tiga huruf dalam sejarah emosi manusia)
Semua dimulai dari pesanku yang panjang.
Panjang sekali.
Hampir seperti skripsi hubungan internasional.
Isinya lengkap:
• perasaan
• konteks
• analisis
• kemungkinan solusi
• bahkan penutup yang elegan
Aku kirim dengan keyakinan akademik dan cinta bersamaan.
Beberapa menit kemudian…
Rita membalas:
“Oke.”
⸻
Bab I: Keruntuhan Peradaban
“Oke.”
Tiga huruf.
Tiga karakter jika menghitung titik yang tak terlihat.
Aku membaca ulang pesanku.
Lalu membaca “oke” itu lagi.
Aku berpikir:
• Oke marah?
• Oke netral?
• Oke pasrah?
• Oke sinis?
• Oke capek?
• Oke dingin?
• Oke versi kapitalisme akhir zaman?
Satu kata berubah menjadi labirin semiotika.
⸻
Bab II: Interpretasi Akademik Berlebihan
Aku mulai menganalisis seperti dosen filsafat bahasa:
“Oke” bisa berarti:
• persetujuan minimal
• penolakan halus
• akhir percakapan
• tanda lelah sosial
• autopilot komunikasi
Atau…
kamu cuma bilang oke.
Tapi otak manusia tidak suka penjelasan sederhana.
⸻
Bab III: Reaksi Tidak Perlu
Aku balas:
“Oke doang?”
Kamu:
“Iya.”
SELESAI.
Percakapan mati seperti modem 2003.
⸻
Bab IV: Plot Twist
Beberapa saat kemudian kamu kirim:
“Aku lagi makan tadi, tanganku kotor.”
Seluruh teori runtuh.
Semiotika hancur.
Filsafat bahasa bubar.
Perasaan kembali normal.
⸻
Epilog
Aku belajar satu hal penting hari itu:
Kadang “oke” hanyalah “oke”.
Bukan kode rahasia hubungan manusia.
Dan sejak itu…
aku tidak pernah memercayai otakku sendiri
ketika membaca balasan pendek.
⸻
📌 Kesimpulan ilmiah hubungan digital:
Balasan pendek adalah bahan bakar overthinking.
Dan imajinasi manusia selalu lebih dramatis daripada kenyataan.

Komentar
Posting Komentar