Metafisika Tuhan dan Batas Sains: Analisis Epistemologis atas Klaim Trans-Empiris

 

Ilustrasi (Pic: Grok AI)


Dengan membedakan wilayah nalar, iman dapat tetap rasional dan sains tetap rendah hati



Perdebatan antara sains dan keyakinan akan Tuhan sering kali lahir dari kekeliruan kategori epistemologis. 


Artikel ini menganalisis status ontologis dan epistemologis klaim tentang Tuhan, malaikat, surga, dan neraka dalam relasinya dengan sains empiris. 


Dengan menggunakan kerangka filsafat sains, metafisika klasik, dan teologi rasional, tulisan ini berargumen bahwa konflik yang kerap diasumsikan antara sains dan iman bukanlah konflik substansial, melainkan konflik metodologis. 


Sains dan metafisika beroperasi pada domain pertanyaan yang berbeda. Mengakui perbedaan ini memungkinkan koeksistensi yang koheren tanpa mereduksi salah satu ke wilayah yang bukan miliknya.



Pendahuluan


Sains modern telah mencapai keberhasilan luar biasa dalam menjelaskan fenomena alam melalui metode observasi, eksperimentasi, dan pemodelan matematis. 


Namun, keberhasilan ini sering disalahartikan sebagai otoritas total atas semua jenis pengetahuan, termasuk pertanyaan metafisis tentang Tuhan dan realitas transenden. 


Artikel ini bertujuan menelaah apakah klaim tentang Tuhan dapat dievaluasi menggunakan kerangka sains, serta di mana batas legitim sains berakhir.



Kerangka Epistemologis Sains: Metode dan Batas Sains


Sains empiris beroperasi dengan asumsi dasar:

1. Fenomena dapat diamati atau diukur.

2. Klaim harus dapat diuji dan, secara prinsip, difalsifikasi.

3. Penjelasan bersifat kausal dan naturalistik.


Dengan demikian, sains secara metodologis dibatasi pada realitas yang berada dalam ruang-waktu dan tunduk pada hukum alam.


Karl Popper menegaskan bahwa falsifiabilitas adalah kriteria demarkasi sains. Klaim yang tidak dapat difalsifikasi bukan salah, melainkan non-saintifik.



Status Metafisis Klaim tentang Tuhan


1. Tuhan sebagai Necessary Being


Dalam tradisi metafisika klasik:

Ibn Sina mendefinisikan Tuhan sebagai wajib al-wujud (necessary being),

Thomas Aquinas memandang Tuhan sebagai actus purus.


Konsep ini tidak dimaksudkan sebagai entitas fisik, melainkan dasar ontologis keberadaan itu sendiri. 


Oleh karena itu, Tuhan tidak bersaing dengan objek-objek sains, sebab Ia bukan bagian dari dunia empiris.


2. Klaim Trans-Empiris


Klaim tentang Tuhan, malaikat, surga, dan neraka termasuk dalam kategori trans-empiris:

tidak dapat diverifikasi secara empiris,

tidak melanggar logika,

koheren dalam sistem metafisika dan teologi.


Menyebut klaim ini “tidak ilmiah” adalah benar, tetapi menyebutnya “tidak rasional” adalah keliru.



Kesalahan Kategori: Mengapa Konflik Terjadi


Konflik antara sains dan iman sering muncul akibat category mistake, yaitu:

menuntut bukti empiris untuk klaim metafisis,

atau menggunakan Tuhan sebagai penjelasan ilmiah atas fenomena alam.


Stephen Jay Gould menyebut solusi konseptualnya sebagai Non-Overlapping Magisteria (NOMA): sains dan agama memiliki wilayah otoritas yang berbeda.



Analisis: Impossible, Improbable, atau Implausible?


1. Impossible?


Klaim tentang Tuhan tidak kontradiktif secara logika. Maka, ia bukan impossible.


2.Improbable?


Probabilitas hanya berlaku pada entitas yang berada dalam ruang kemungkinan empiris. Tuhan tidak berada dalam domain ini. Maka, kategori improbable tidak relevan.


3. Implausible?


Dalam kerangka sains empiris murni, klaim tentang Tuhan ditangguhkan (suspended judgment).


Dalam kerangka metafisika dan teologi rasional, klaim tersebut plausible dan koheren.


Dengan demikian, klaim tentang Tuhan: bukan implausible, melainkan trans-empirically plausible.



Implikasi bagi Iman dan Sains


1. Sains tidak memiliki mandat untuk menolak Tuhan.

2. Iman tidak boleh mengintervensi penjelasan ilmiah fenomena alam.

3. Dialog sehat terjadi ketika batas epistemologis dihormati.


Pendekatan ini mencegah dua ekstrem:

scientism (sains sebagai satu-satunya pengetahuan sah),

religious anti-intellectualism.



Metafisika Tuhan dan sains tidak berada dalam hubungan kompetitif, melainkan komplementer secara domain. 


Tuhan bukan hipotesis ilmiah, melainkan klaim ontologis tentang dasar realitas. 


Menilai Tuhan dengan standar sains adalah kesalahan metodologis, sebagaimana menilai teori fisika dengan ayat kitab suci adalah kekeliruan hermeneutik. 


Dengan membedakan wilayah nalar, iman dapat tetap rasional dan sains tetap rendah hati.








Referensi 


Aquinas, T. (1981). Summa Theologica. Westminster, MD: Christian Classics.


Gould, S. J. (1999). Rocks of ages: Science and religion in the fullness of life. New York, NY: Ballantine.


Ibn Sina. (2005). The metaphysics of the healing (M. Marmura, Trans.). Provo, UT: Brigham Young University Press.


Popper, K. (1959). The logic of scientific discovery. London: Routledge.


Plantinga, A. (2000). Warranted Christian belief. Oxford: Oxford University Press.


Polkinghorne, J. (2004). Science and theology: An introduction. Minneapolis, MN: Fortress Press.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Isu Pangkalan Militer Rusia: Diplomasi Dua Wajah dalam Politik Global

Mengapa Israel Tetap Mengintersepsi Flotilla Meski Prosedur Kemanusiaan Sudah Dipatuhi?