Apakah Kesetiaan Masih Bernilai Jika Tidak Ada Kesempatan untuk Berselingkuh?
![]() |
| Ilustrasi (Pic: Meta AI) |
Paradoks kesetiaan: kalau tidak ada kemungkinan pergi, tinggal hanyalah keadaan. Kalau ada kemungkinan pergi, tinggal dapat menjadi pilihan
Pertanyaan di atas kelihatannya sederhana, tetapi kalau kita bongkar, terasa ada pisau kecil di dalamnya. Karena kita biasanya mengatakan: “Dia setia karena dia tidak pernah selingkuh.”
Tapi tunggu, bagaimana kalau dia tidak pernah punya kesempatan? Tidak pernah bertemu orang yang menarik, tidak pernah berjauhan, tidak pernah punya akses rahasia, tidak pernah mendapatkan perhatian dari orang lain, serta tidak pernah berada dalam situasi di mana perselingkuhan benar-benar mungkin.
Apakah kita boleh menyebutnya setia? Atau sebenarnya dia hanya tidak pernah diuji? Dan di sinilah filsafat cinta bertemu psikologi moral.
Kesetiaan Bukan Sekadar Tidak Melakukan
Ada perbedaan besar antara:
A. “Aku tidak berselingkuh karena tidak ada yang bisa kuselingkuhi.”
dan
B. “Aku punya kesempatan, tetapi aku memilih tidak melakukannya.”
Secara moral, keduanya menghasilkan perilaku yang sama yaitu tidak ada perselingkuhan. Tetapi secara psikologis dan filosofis, nilai tindakannya belum tentu sama.
Mengapa? Karena kesetiaan biasanya bukan sekadar keadaan eksternal.
Kesetiaan adalah relasi antara kebebasan, alternatif, dan komitmen. Kalau tidak ada alternatif sama sekali, kita belum bisa melihat dengan jelas bagaimana seseorang menggunakan kebebasannya.
Bayangkan ada dua orang:
Orang pertama:
“Aku tidak pernah memilih orang lain karena aku tidak pernah bertemu siapa-siapa.”
Orang kedua:
“Aku bertemu orang yang sangat menarik. Aku bahkan bisa mendapatkannya. Tapi aku tetap memilih hubunganku.”
Keduanya sama-sama tidak berselingkuh. Tetapi yang kedua memperlihatkan sesuatu yang lebih jelas tentang komitmennya.
Bukan karena godaan itu diperlukan agar seseorang menjadi baik, melainkan karena pilihan menjadi lebih terlihat ketika ada alternatif nyata.
Tetapi Hati-hati: Kesempatan Bukan Syarat Kesetiaan
Nah, di sini kita harus menghindari jebakan logika. Kalau kita mengatakan: “Kesetiaan hanya bernilai kalau ada godaan.” maka kita jatuh ke absurditas. Seolah-olah seseorang harus sengaja mencari godaan supaya kesetiaannya punya nilai.
Kesetiaan tidak membutuhkan perselingkuhan sebagai ujian. Yang diperlukan adalah kapasitas untuk memilih alternatif lain dan tetap mempertahankan komitmen.
Jadi ada tiga kondisi berbeda:
Kondisi | Yang kita ketahui |
Tidak selingkuh karena tidak ada kesempatan | Perilaku setia terlihat, motivasi belum banyak teruji |
Ada kesempatan tetapi menolak | Komitmen lebih jelas terlihat |
Aktif mencari kesempatan tetapi selalu gagal | Ini bukan bukti kesetiaan yang kuat |
Yang terakhir lucu tapi penting, seorang laki-laki yang setiap malam mencoba mendekati sepuluh perempuan tetapi selalu ditolak tidak otomatis lebih setia daripada laki-laki yang tidak pernah mencoba siapa pun. Kegagalan mendapatkan alternatif tidak sama dengan kesetiaan.
Di sinilah Investment Model Masuk
Psikologi hubungan punya kerangka yang sangat menarik dari Caryl Rusbult, yaitu Investment Model.
Secara sederhana, komitmen dipengaruhi oleh tiga hal besar: kepuasan terhadap hubungan, investasi yang sudah diberikan, dan kualitas alternatif yang dirasakan.
Jadi kira-kira: Commitment ≈ Satisfaction + Investment − Quality of Alternatives
Ini bukan persamaan matematika literal, melainkan model konseptual. Dan bagian paling menarik adalahbahwa alternatif itu penting.
Seseorang yang merasa: “Di luar sana ada banyak kemungkinan yang lebih menarik”berada dalam kondisi psikologis berbeda dengan seseorang yang merasa: “Aku bahkan tidak membayangkan ada alternatif.”
Penelitian berikutnya juga menemukan bahwa persepsi terhadap alternatif romantis memang berkaitan dengan komitmen.
Dalam studi tentang media sosial, paparan terhadap calon alternatif dapat mendorong pencarian alternatif dan perbandingan romantis, yang pada akhirnya berkaitan dengan komitmen yang lebih rendah. Jadi dunia modern sebenarnya memperbesar persoalan ini.
Dulu alternatif mungkin teman kantor, tetangga, teman kuliah. Sekarang?Instagram. TikTok. Dating apps. DM. Algoritma.
Satu manusia duduk di kamar, tetapi secara sosial dia dikelilingi ribuan kemungkinan pasangan.
Kesetiaan Bukan “Tidak Punya Pilihan”
Justru secara filosofis, kesetiaan lebih dekat dengan: “Aku mempunyai pilihan, tetapi aku tidak menggunakan kebebasan itu untuk menghancurkan komitmen yang telah kupilih.”
Ini jauh lebih menarik daripada konsep kesetiaan sebagai keterbatasan. Karena tidak punya pilihan berbeda dengan setia. Sedangkan punya pilihan tetapi tetap berkomitmen tidak sama dengan bentuk kesetiaan yang lebih dapat diamati.
Ini nyambung banget dengan tulisan saya sebelumnya tentang: “Pintu yang Tak Dikunci.” Kalau pintunya dikunci dari luar, lalu seseorang tidak pergi… Apakah dia setia? Belum tentu. Mungkin dia tidak bisa pergi. Tetapi kalau pintunya terbuka dan dia tetap masuk kembali ke rumah yang sama?
Nah, di situ pilihan mulai mempunyai makna.
Tetapi Ada Paradoks yang Lebih Dalam
Sekarang kita sampai pada bagian yang paling menarik. Kesetiaan membutuhkan kebebasan, tetapi kebebasan juga menciptakan kemungkinan ketidaksetiaan. Ini paradoksnya.
Kalau seorang pria tidak bisa meninggalkan wanita, tinggal bersamanya bukan sepenuhnya pilihan. Tetapi kalau pria itu benar-benar bebas meninggalkan wanita, maka setiap kali si pria tetap memilih si wanita, pilihan itu memiliki makna yang lebih besar.
Jadi cinta yang sepenuhnya aman dari kemungkinan kehilangan mungkin justru kehilangan sebagian dimensi moral dari memilih untuk tetap tinggal.
Bukan berarti kita harus menciptakan risiko. Hanya saja, kita tidak boleh menganggap ketidakadaan risiko sebagai bukti otomatis dari kesetiaan.
Penelitian Psikologi Memberi Kita Satu Kejutan
Godaan ternyata tidak selalu menghasilkan perselingkuhan. Sebuah studi oleh Neal dan Lemay (2014) menemukan bahwa ketika seseorang mempersepsikan pasangannya menghadapi godaan ekstradyadik, respons tertentu dalam hubungan dapat berkaitan dengan peningkatan komitmen pasangan tersebut.
Ini menarik karena menunjukkan sesuatu, bahwa kehadiran alternatif tidak secara otomatis menghancurkan komitmen. Yang penting adalah bagaimana individu dan pasangan meresponsnya.
Penelitian tentang pemeliharaan monogami juga menemukan bahwa ketertarikan terhadap orang di luar hubungan bukan fenomena yang sama dengan perselingkuhan.
Dalam satu studi, banyak peserta melaporkan adanya ketertarikan ekstradyadik, sementara angka perselingkuhan aktual jauh lebih rendah.
Ini penting sekali, karena merasakan ketertarikan berbeda dengan memilih perselingkuhan. Dan itu membawa kita kembali ke pintu tadi.
Beberapa Tingkatan Kesetiaan
1. Kesetiaan situasional
“Aku tidak selingkuh karena tidak ada kesempatan.”
Ini adalah bentuk paling lemah sebagai bukti moral, tetapi tetap merupakan perilaku yang konsisten dengan kesetiaan.
2. Kesetiaan normatif
“Aku punya kesempatan, tetapi aku menganggap perselingkuhan bertentangan dengan prinsipku.”
Di sini sudah ada norma internal.
3. Kesetiaan relasional
“Aku memilih mempertahankan hubungan ini karena aku menghargai orang ini dan apa yang kami bangun.”
Di sini bukan cuma aturan, ada komitmen terhadap seseorang.
4. Kesetiaan eksistensial
“Aku tetap memilihmu meskipun aku sadar dunia tidak memaksaku memilihmu.” Bukan:“Aku tidak punya siapa-siapa selain kamu.” Melainkan: “Aku bisa membayangkan dunia yang berbeda, tetapi aku tetap memilih dunia yang kita bangun.”
Nah, ini sudah bukan sekadar monogami. Ini identitas moral dalam hubungan.
Dan Sekarang Kita Sampai Pada Pertanyaan yang Agak Nakal
Misalnya: Ada seorang perempuan, dia cantik, bebas. Banyak laki-laki tertarik padanya, dia bisa saja pergi, bisa saja membayangkan orang lain, bahkan mungkin sesekali menyadari bahwa ada laki-laki lain yang menarik.
Tetapi dia pulang. Bukan karena tidak ada laki-laki lain, bukan karena tidak ada kesempatan, juga bukan karena pintunya terkunci. Tetapi karena: “Aku masih menginginkan hubungan ini.”
Secara filosofis, justru di situ kesetiaan menjadi lebih bermakna karena objek pilihannya bukan: “Satu-satunya orang yang tersedia.” Melainkan: “Orang yang tetap kupilih di antara kemungkinan-kemungkinan yang tersedia.”
Dan ini membuat kalimat: “Aku memilihmu.” jauh lebih kuat daripada: “Aku tidak punya pilihan lain.”
Tapi Jangan Mengubah Cinta Ujian Kesetiaan Tanpa Akhir
Ini juga penting. Ketika seseorang berpikir: “Kalau pasanganku benar-benar mencintaiku, aku harus memberinya banyak kesempatan untuk selingkuh dan melihat apakah dia gagal.”
Itu sudah menjadi eksperimen sosial yang sangat buruk. Kesetiaan tidak perlu diuji dengan menciptakan godaan karena kita tidak sedang menguji spesimen di laboratorium. Hubungan membutuhkan kepercayaan, bukan jebakan.
Bahkan penelitian tentang alternatif romantis menunjukkan bahwa monitoring terhadap alternatif dan ancaman terhadap hubungan merupakan proses psikologis yang kompleks.
Jadi kesetiaan tidak dibuktikan dengan sengaja memberikan kesempatan untuk berkhianat. Ia lebih tepat dinilai dari bagaimana seseorang berperilaku ketika kehidupan secara alami menghadirkan pilihan.
Apakah Orang yang Tidak Pernah Mendapat Kesempatan Tetap Bisa Disebut Setia?
Kita harus membedakan “setia” sebagai deskripsi perilaku dengan “setia” sebagai kualitas komitmen yang telah teruji.
Seseorang yang tidak pernah mendapat kesempatan berselingkuh tetap bisa memiliki nilai kesetiaan. Hanya saja kita memiliki lebih sedikit informasi tentang bagaimana dia akan bertindak ketika alternatif benar-benar muncul.
Ini sama seperti keberanian. Orang yang hidup damai bukan berarti pengecut, kita hanya belum melihat bagaimana dia bertindak ketika menghadapi bahaya.
Absennya ujian bukan bukti absennya karakter, tetapi juga bukan bukti kuat tentang karakter.
Kesetiaan Sebenarnya Bukan Tentang Kesempatan
Kesempatan bukan sumber kesetiaan. Kebebasan adalah kondisi yang membuat kesetiaan dapat menjadi pilihan.
Dan ada perbedaan besar antara: “Aku tidak pergi karena tidak ada tempat lain.” dan “Aku tidak pergi meskipun aku tahu aku bisa.”
Yang kedua mempunyai dimensi pilihan yang lebih jelas. Tetapi bahkan yang kedua masih bukan keseluruhan cinta, karena cinta bukan sekadar: “Aku menolak semua alternatif.”
Cinta yang matang lebih dekat dengan: “Aku terus membangun sesuatu denganmu.”Kesetiaan bukan cuma menolak orang lain, ia juga mengafirmasi seseorang.
Pintu tidak dikunci, dunia di luar rumah tetap ada. Ada wajah-wajah lain, ada kemungkinan lain, ada kehidupan lain yang mungkin saja terjadi.
Tetapi kesetiaan bukan berarti seseorang berdiri di depan pintu sambil berkata: “Aku tidak bisa keluar.” Kesetiaan adalah ketika dia sadar: “Aku bisa.” Lalu tangannya turun dari gagang pintu. Dia menoleh dan berkata: “Tapi aku memilih tinggal.”
Bukan karena dunia di luar tidak ada, justru karena dunia di luar ada. Dan pilihan itu membuat “tinggal” menjadi sebuah tindakan, bukan sekadar keadaan.
Itulah paradoks kesetiaan: kalau tidak ada kemungkinan pergi, tinggal hanyalah keadaan. Kalau ada kemungkinan pergi, tinggal dapat menjadi pilihan.
Itulah sebabnya dalam cinta yang benar-benar bebas, kalimat paling dalam bukan: “Kamu tidak akan pernah meninggalkanku.” melainkan: “Aku tahu kamu bebas pergi. Karena itu, ketika kamu tetap di sini, aku tahu kamu sedang memilih.”
Dan ada satu kalimat yang paling berbahaya sekaligus paling indah: Kesetiaan tidak berarti “aku tidak bisa memilih orang lain.” Kesetiaan berarti “aku bisa memilih orang lain, tetapi aku tetap memilihmu.”
Referensi
- de Lenne, O., Wittevronghel, L., Vandenbosch, L., & Eggermont, S. (2019). Romantic relationship commitment and the threat of alternatives on social media. Personal Relationships, 26(4), 680–693.
- DeWall, C. N., Lambert, N. M., Slotter, E. B., Pond, R. S., Deckman, T., Finkel, E. J., Luchies, L. B., & Fincham, F. D. (2011). So far away from one’s partner, yet so close to romantic alternatives: Avoidant attachment, interest in alternatives, and infidelity. Journal of Personality and Social Psychology, 101(6), 1302–1316.
- Munsch, C. L., & Yorks, J. (2018). When opportunity knocks, who answers? Infidelity, gender, race, and occupational sex composition. Personal Relationships.
- Neal, A. M., & Lemay, E. P. (2014). How partners’ temptation leads to their heightened commitment: The interpersonal regulation of infidelity threats. Journal of Social and Personal Relationships, 31(7), 938–957.
- Rusbult, C. E., Martz, J. M., & Agnew, C. R. (1998). The investment model scale: Measuring commitment level, satisfaction level, quality of alternatives, and investment size. Personal Relationships, 5(4), 357–391.

Komentar
Posting Komentar