SERIAL Cerita AI tentangku (266) “Hari Pernikahan Frans dan Papa Menemukan Peluang Bisnis”

Cerita AI tentangku (Pic: Microsoft AI)


Cerita ini asli dibuat dan diperankan oleh AI bernama Fallan, sohib lengketku, berdasarkan data percakapan kami

 

Akhirnya, Frans melamar Aileen.


Kali ini ia tidak membawa spreadsheet.


Ia membawa cincin.


Tidak ada presentasi PowerPoint.


Tidak ada diagram pertumbuhan aset.


Tidak ada lampiran berisi spesifikasi Pagani.


Hanya Frans, Aileen, dan sebuah pertanyaan sederhana.


Aileen menerima lamarannya.


Ketika kabar itu sampai ke kantor, Papa memanggil rapat darurat.


Aku mengira ada masalah perusahaan.


Ternyata tidak.


Papa berdiri di depan meja konferensi sambil memegang undangan pernikahan.


“Frans akan menikah.”


Semua orang bertepuk tangan.


Papa mengangkat tangan.


“Karena Frans akan membentuk rumah tangga baru, kita perlu meninjau kembali pembagian tugas perjalanan internasional.”


Frans, yang hadir melalui konferensi video, langsung mengerutkan kening.


“Papa, saya baru saja bertunangan!”


“Justru itu. Kamu sekarang punya alasan tambahan untuk belajar mengatur waktu.”


“Apa hubungannya dengan perjalanan bisnis?”


“Kalau kamu bisa mengatur jadwal penerbangan, kamu seharusnya bisa mengatur jadwal pulang.”


Fion menutup mulutnya, menahan tawa.


Luke pura-pura membaca dokumen.


Aku menunduk, tetapi bahuku sudah bergetar.


Papa melanjutkan, “Selain itu, Aileen bekerja di penerbangan. Mungkin kalian bisa membantu perusahaan memahami layanan perjalanan dengan lebih baik.”


Frans memandang layar dengan ekspresi ngeri.


“Papa ingin menjadikan istri saya konsultan perusahaan?”


“Tidak. Saya hanya menyampaikan kemungkinan.”


“ITU SUDAH TERDENGAR SEPERTI PROPOSAL KERJA!”


Papa mengangguk puas.


“Bagus. Kamu sudah mulai memahami bahasa bisnis.”


Rita menyandarkan kepalanya ke bahuku sambil tertawa.


Aku berbisik, “Sayang, pernikahan Frans bahkan belum dimulai, tetapi Papa sudah mencoba melakukan diversifikasi manfaat keluarga.”


“Jangan keras-keras. Nanti kita dijadikan komite bulan madu.”


Aku mencium keningnya.


“Kalau komite bulan madu beranggotakan kita berdua saja, aku bersedia.”


Rita mencubit pinggangku.


“Dasar!”


_____________


SETAHUN PERNIKAHAN: FRANS DAN AILEEN MEMBUKA CABANG PERANG DINGIN


Setahun berlalu.


Frans dan Aileen hidup bersama dalam rumah yang indah, memiliki pekerjaan masing-masing, dan saling menyayangi.


Namun, ada satu persoalan yang belum berhasil diselesaikan oleh Frans.


Ia keras kepala.


Sangat keras kepala.


Kalau sudah yakin pada sesuatu, ia bisa berdebat dengan tembok dan merasa tembok itu tidak memahami argumennya.


Aileen juga bukan perempuan yang akan mengangguk hanya demi mengakhiri percakapan.


Akibatnya, pada ulang tahun pernikahan pertama mereka, terjadi perdebatan tentang hal yang sangat penting.


Posisi sofa.


Frans ingin sofa menghadap televisi.


Aileen ingin sofa sedikit diputar agar ruangan terasa lebih lapang.


“Kalau diputar, sudut pandang televisi berubah,” kata Frans.


“Memang. Itu tujuannya.”


“Tapi posisi awal lebih efisien.”


“Efisien untuk apa? Kita bukan sedang mengoptimalkan gudang.”


“Sudut ruangan ini memiliki potensi!”


“Frans, itu SOFA!”


“Dan aku sedang menjelaskan mengapa posisinya tidak perlu diubah!”


Aileen menarik napas panjang.


“Baik. Kita lakukan cara sederhana. Kita coba posisi yang aku usulkan selama seminggu. Kalau tidak nyaman, kita kembalikan.”


Frans terdiam.


Secara logis, usulan itu masuk akal.


Secara emosional, ia merasa baru saja kalah dalam perang yang tidak pernah ia sadari telah dimulai.


“Jadi kamu ingin mengubah semuanya?”


Aileen memandangnya lelah.


“Aku ingin mengubah posisi sofa.”


“Ini bukan soal sofa lagi.”


“BENAR. INI SOAL KAMU YANG MEMBUAT SOFA MENJADI MASALAH NEGARA!”


Di kantor, ketika mendengar ceritanya, aku hampir tersedak jus jeruk.


Frans duduk di hadapanku dengan wajah kusut.


“Aku tidak mengerti mengapa hal sederhana bisa menjadi rumit.”


Aku meletakkan gelas.


“Karena kamu tidak sedang membicarakan sofa. Kamu sedang mempertahankan pendapatmu setelah alasan awalnya sudah tidak penting.”


Frans mengerutkan kening.


“Aku tidak begitu.”


Aku menatapnya.


Dia menatapku.


Aku menunggu.


Dia menunggu.


Lalu dia berkata, “Tapi sofa itu memang lebih baik di posisi semula.”


Aku menghela napas.


“Frans, kalau aku berdebat seperti itu dengan Rita, aku sudah tidur di sofa.”


“Berarti kamu takut pada istrimu?”


“Tidak. Aku menghormati istriku.”


“Bedanya apa?”


Aku tersenyum.


“Kalau aku takut, aku akan menyembunyikan pendapatku. Kalau aku menghormatinya, aku bisa mengatakan pendapatku tanpa harus mengubah setiap percakapan menjadi pertandingan yang harus kumenangkan.”


Frans terdiam cukup lama.


Untuk sesaat, wajahnya kehilangan kesombongan yang biasa ia pakai seperti jas mahal.


“Jadi aku harus mengalah?”


“Kadang-kadang. Dan kadang-kadang Aileen juga akan mengalah. Tapi jangan menganggap setiap perbedaan sebagai kompetisi.”


Frans mengangguk pelan.


Kemudian ia berdiri.


“Baik. Aku akan pulang dan membicarakannya.”


“Bagus.”


Ia berjalan ke pintu.


Lalu menoleh.


“Tapi kalau sofa itu ternyata membuat leherku sakit, aku akan mengajukan bukti medis.”


Aku melempar bantal ke arahnya.


“PERGI!”



BERSAMBUNG……

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Isu Pangkalan Militer Rusia: Diplomasi Dua Wajah dalam Politik Global

Pilih Kelas Sunyi bak Kuburan, Ribut, atau Hidup? Guru Sering Salah Kaprah