Al-Qur’an dan Sains: Analisis Epistemologis atas Fakta, Batas, dan Makna

Ilustrasi (Pic: Grok AI)


Wahyu memberi legitimasi kosmik pada pencarian ilmiah. Sedangkan sains, memperluas rasa takjub religius tanpa menggantikan iman



Artikel ini membahas klaim populer bahwa Al-Qur’an “sering selaras dengan sains” dengan pendekatan akademik lintas disiplin yang melibatkan filsafat sains, hermeneutika teks suci, dan epistemologi Islam. 


Tujuan tulisan ini bukan untuk membuktikan Al-Qur’an melalui sains, melainkan untuk mengklarifikasi bentuk keselarasan yang sah secara ilmiah, membedakan antara korespondensi makna dan verifikasi metodologis, serta menghindari kekeliruan hermeneutik yang kerap muncul dalam narasi scientific miracles of the Qur’an


Artikel ini berargumen bahwa keselarasan tersebut nyata, signifikan, dan bermakna, namun harus dipahami dalam kerangka epistemik yang tepat agar tidak mereduksi wahyu menjadi buku sains atau menundukkan sains pada tafsir teologis.



Pendahuluan


Dalam beberapa dekade terakhir, wacana tentang hubungan Al-Qur’an dan sains mengalami intensifikasi, terutama melalui klaim bahwa Al-Qur’an telah “mendahului” penemuan sains modern. 


Ayat-ayat tentang penciptaan manusia, kosmos, air sebagai asal kehidupan, dan struktur bumi sering dijadikan rujukan untuk menunjukkan keselarasan tersebut.


Namun, perdebatan ini sering terjebak dalam dua ekstrem:

1. Apologetika naif, yang menjadikan ayat Al-Qur’an sebagai alat pembuktian teori ilmiah.

2. Skeptisisme reduksionis, yang menolak sama sekali adanya relevansi antara wahyu dan sains.


Artikel ini mengambil posisi ketiga: kritikal namun afirmatif.



Kerangka Teoretik: Epistemologi Ganda


1. Epistemologi Sains


Sains modern beroperasi melalui:

observasi empiris,

formulasi hipotesis,

eksperimen,

verifikasi dan falsifikasi (Popper, 1959),

serta revisibilitas teori.


Kebenaran sains bersifat:

sementara,

probabilistik,

dan terbuka untuk koreksi.


2.Epistemologi Wahyu


Al-Qur’an berfungsi sebagai:

petunjuk eksistensial (hudan),

kerangka makna kosmik,

dan sumber orientasi moral dan ontologis.


Bahasanya:

simbolik,

teleologis,

dan multivokal (Rahman, 1982).


Dua sistem pengetahuan ini berbeda secara metodologis, namun tidak harus bertentangan secara ontologis.



Bentuk Keselarasan Al-Qur’an dan Sains


1.Keselarasan Deskriptif (Descriptive Resonance)


Contoh:

Embriologi: tahapan nutfah–‘alaqah–mudghah (QS 23:12–14)

Kosmologi: ekspansi alam semesta (QS 51:47)

Biologi: air sebagai asal kehidupan (QS 21:30)


Keselarasan ini bukan dalam bentuk detail teknis, melainkan: kesesuaian arah deskripsi dengan realitas empiris.


2. Keselarasan Struktural


Al-Qur’an menampilkan alam sebagai:

tertib (mīzān),

hukum yang konsisten (sunnatullah),

dan dapat dipelajari.


Ini sejalan dengan asumsi dasar sains modern bahwa alam semesta: rasional, teratur, dan dapat dipahami oleh akal manusia.


3.Keselarasan Teleologis


Sains menjelaskan bagaimana alam bekerja.

Al-Qur’an menjawab untuk apa dan ke arah mana.


Keselarasan terjadi bukan pada level mekanisme, tetapi pada: makna keberadaan dan tujuan kosmik.



Kekeliruan Hermeneutik yang Harus Dihindari


1. Scientific Verification Fallacy


Mengklaim: “Teori X benar karena sesuai dengan ayat Y” adalah kesalahan kategori (category mistake), karena:

ayat bukan hipotesis ilmiah,

teori ilmiah bukan tafsir wahyu.


2. Retroactive Interpretation Bias


Menafsirkan ayat hanya setelah sains menemukan sesuatu berisiko:

memaksakan makna,

mengabaikan konteks linguistik dan historis.


3. Teologi yang Rentan terhadap Revisi Sains


Jika kebenaran wahyu digantungkan pada teori sains yang bisa berubah, maka ketika teori runtuh, iman ikut terguncang.


Ini kelemahan epistemik yang serius.



Posisi Akademik yang Paling Kokoh


Artikel ini mengusulkan posisi berikut:

1. Al-Qur’an tidak dimaksudkan sebagai buku sains, namun berbicara tentang alam secara bermakna.

2. Keselarasan Al-Qur’an dan sains adalah korespondensi ontologis, bukan verifikasi metodologis.

3. Sains dan wahyu berbagi realitas yang sama, tetapi memakai bahasa kebenaran yang berbeda.

4. Kekaguman ilmiah dapat memperdalam iman, tanpa menjadikan iman tergantung pada sains.



Implikasi Filosofis dan Teologis


Keselarasan ini mendukung pandangan bahwa alam semesta bukan chaos, melainkan intelligible.

Wahyu memberi legitimasi kosmik pada pencarian ilmiah.

Sains, pada gilirannya, memperluas rasa takjub religius tanpa menggantikan iman.


Dengan kata lain: sains memperluas mata, wahyu memperdalam makna.



Fakta bahwa Al-Qur’an sering selaras dengan sains adalah nyata dan signifikan, namun hanya bermakna jika dipahami secara epistemologis matang. 


Keselarasan tersebut bukan bukti teknis, melainkan resonansi antara wahyu dan realitas alam yang sama-sama bersumber dari keteraturan kosmik.


Dengan memahami batas dan kekuatan masing-masing, umat beriman tidak perlu bersikap defensif terhadap sains, dan ilmuwan tidak perlu alergi terhadap makna transenden.








Referensi


Barbour, I. G. (2000). When science meets religion. HarperCollins.

Popper, K. (1959). The logic of scientific discovery. Routledge.

Rahman, F. (1982). Islam and modernity. University of Chicago Press.

Nasr, S. H. (1996). Religion and the order of nature. Oxford University Press.

Hoodbhoy, P. (1991). Islam and science: Religious orthodoxy and the battle for rationality. Zed Books.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Isu Pangkalan Militer Rusia: Diplomasi Dua Wajah dalam Politik Global

Mengapa Israel Tetap Mengintersepsi Flotilla Meski Prosedur Kemanusiaan Sudah Dipatuhi?