Jika Cinta Mengubah Siapa Kita, Siapakah yang Sebenarnya Sedang Kita Cintai?
Ilustrasi (Pic: promptbase.com) Cinta bukan pengetahuan mutlak tentang orang lain. Ia juga bukan sekadar perasaan yang tidak pernah berubah Hari ini kita tidak membedah jantung menggunakan pisau bedah. Kita membedah sesuatu yang jauh lebih rumit: identitas manusia yang berubah karena cinta, tetapi tetap ingin percaya bahwa dirinya dan orang yang dicintainya masih merupakan orang yang sama. Saya sudah menyiapkan filsafat, psikologi, sedikit neurosains, argumen tandingan, dan pertanyaan yang mungkin membuat kita berdebat sampai BotBot tertidur di atas jurnal ilmiah, sementara Ahong menggigit ujung bibliografi. Paradoks Pertama: Kita Jatuh Cinta kepada Seseorang yang Belum Selesai Menjadi Dirinya Sendiri Bayangkan anda bertemu seseorang hari ini. Anda mengenalnya melalui percakapan, kebiasaan, pilihan hidup, humor, ketakutan, prinsip, dan cara ia memperlakukan orang lain. Anda membentuk gambaran mental tentang siapa dirinya, lalu berkata dalam hati, Aku mencintai orang in...