Jika Cinta Mengubah Siapa Kita, Siapakah yang Sebenarnya Sedang Kita Cintai?
![]() |
| Ilustrasi (Pic: promptbase.com) |
Cinta bukan pengetahuan mutlak tentang orang lain. Ia juga bukan sekadar perasaan yang tidak pernah berubah
Hari ini kita tidak membedah jantung menggunakan pisau bedah. Kita membedah sesuatu yang jauh lebih rumit: identitas manusia yang berubah karena cinta, tetapi tetap ingin percaya bahwa dirinya dan orang yang dicintainya masih merupakan orang yang sama.
Saya sudah menyiapkan filsafat, psikologi, sedikit neurosains, argumen tandingan, dan pertanyaan yang mungkin membuat kita berdebat sampai BotBot tertidur di atas jurnal ilmiah, sementara Ahong menggigit ujung bibliografi.
Paradoks Pertama: Kita Jatuh Cinta kepada Seseorang yang Belum Selesai Menjadi Dirinya Sendiri
Bayangkan anda bertemu seseorang hari ini. Anda mengenalnya melalui percakapan, kebiasaan, pilihan hidup, humor, ketakutan, prinsip, dan cara ia memperlakukan orang lain. Anda membentuk gambaran mental tentang siapa dirinya, lalu berkata dalam hati, Aku mencintai orang ini.
Lima tahun kemudian, orang itu berubah. Ia menjadi lebih sabar, tetapi kurang spontan. Ia menjadi lebih berani, tetapi juga lebih kritis. Ia meninggalkan sejumlah keyakinan lama, mempelajari hal-hal baru, dan mulai melihat dunia dari perspektif yang dahulu tidak pernah terpikirkan olehnya.
Anda pun berubah. Lalu, siapa yang sedang anda cintai sekarang?
- Orang yang pertama kali anda kenal?
- Orang yang berdiri di hadapan hari ini?
- Orang yang anda harapkan akan menjadi dirinya di masa depan?
- Atau perjalanan yang menghubungkan ketiga versi tersebut?
Masalahnya, kita sering berbicara tentang cinta seolah-olah manusia memiliki identitas permanen yang tersimpan rapi di dalam dirinya, seperti dokumen yang tidak pernah diperbarui.
Padahal manusia berkembang. Ingatan berubah, nilai hidup bergeser, kepribadian dapat berkembang, dan pengalaman membentuk cara seseorang memahami dirinya sendiri.
Cinta menghadapi paradoks: kita ingin mencintai seseorang secara mendalam, tetapi orang itu tidak pernah sepenuhnya berhenti berubah.
Kalau kita mensyaratkan bahwa orang yang kita cintai harus selalu sama, kita akan kesulitan mencintai manusia yang sedang tumbuh.
Namun, kalau kita menganggap setiap perubahan selalu dapat diterima, kita berisiko mengabaikan perubahan yang merusak kepercayaan, melanggar nilai penting, atau membuat hubungan tidak lagi sehat.
Jadi, persoalannya bukan sekadar apakah manusia berubah. Persoalannya adalah: perubahan seperti apa yang masih memungkinkan kita mengenali seseorang sebagai orang yang sama, dan perubahan seperti apa yang mengharuskan kita menilai ulang hubungan dengannya?
Derek Parfit: Apakah Kita Harus Tetap Menjadi Orang yang Sama Agar Tetap Menjadi Diri Sendiri?
Derek Parfit (1942–2017) adalah salah satu filsuf penting yang menelaah identitas personal melalui kesinambungan psikologis, ingatan, dan hubungan antara keadaan mental kita pada waktu yang berbeda.
Dalam bukunya Reasons and Persons, Parfit mengajukan tantangan terhadap anggapan bahwa identitas personal harus ditentukan oleh suatu inti diri yang sepenuhnya tetap.
Ia membahas bagaimana kesinambungan psikologis dapat menghubungkan diri kita pada berbagai tahap kehidupan, meskipun kita mengalami perubahan.
Mari kita terapkan gagasan itu pada cinta: Anda bertemu seseorang ketika ia masih berusia dua puluh tahun. Ia impulsif, penuh ambisi, dan yakin bahwa hidup yang baik berarti selalu menang.
Dua puluh tahun kemudian, ia lebih menghargai kedamaian, lebih mampu mengakui kesalahan, dan tidak lagi mengukur harga dirinya berdasarkan kemenangan.
Apakah ia masih orang yang sama? Secara biologis, ia adalah individu yang sama. Secara psikologis, ia memiliki kesinambungan dengan dirinya yang dahulu, tetapi tidak identik dalam setiap karakteristik.
Kita tidak perlu menyimpulkan bahwa orang yang dahulu anda cintai telah menghilang. Namun, kita juga tidak bisa menganggap bahwa seluruh sifatnya akan tetap sama selamanya.
Di sinilah pemikiran Parfit berguna: kesinambungan diri tidak harus berarti ketidakberubahan diri.
Implikasinya bagi cinta
Coba bedakan tiga hal berikut:
- Kesinambungan
Orang yang sekarang masih terhubung dengan orang yang dahulu melalui ingatan, pengalaman, hubungan, dan perjalanan hidupnya.
- Perubahan
Ia boleh meninggalkan keyakinan atau kebiasaan lama tanpa otomatis menjadi orang asing.
- Pengenalan kembali
Anda tidak hanya mengingat siapa dirinya, namun juga berusaha memahami siapa dirinya sekarang.
Akan tetapi, ada batas penting: teori identitas personal bukan teori cinta. Pemikiran Parfit membantu kita memahami kesinambungan seseorang, tetapi tidak membuktikan bahwa kita wajib mempertahankan setiap hubungan ketika pasangan berubah.
Anda bisa mengakui bahwa seseorang tetap merupakan orang yang sama sekaligus menyadari bahwa kalian tidak lagi cocok.
Mengenali seseorang sebagai orang yang sama tidak sama dengan berkewajiban mencintainya dengan cara yang sama.
Dan ini membawa kita ke pertanyaan yang lebih menarik: jika identitas orang yang kita cintai terus berkembang, apakah gambaran kita tentang dirinya juga ikut berubah?
Psikologi: Kita Tidak Hanya Mencintai Seseorang. Kita juga Dapat Memasukkannya ke Dalam Gambaran tentang Diri Kita
Pada 1991, psikolog Arthur Aron, Elaine N. Aron, Michael Tudor, dan Greg Nelson menerbitkan penelitian berjudul Close Relationships as Including Other in the Self.
Mereka mengembangkan gagasan bahwa kedekatan dapat melibatkan masuknya aspek-aspek orang lain ke dalam representasi diri kita, termasuk perspektif, karakteristik, dan sumber daya yang kita anggap sebagai bagian dari kehidupan kita. Gagasan ini dikenal sebagai self-expansion dalam penelitian hubungan dekat.
Bayangkan anda dahulu tidak tertarik pada filsafat. Kemudian anda dekat dengan seseorang yang senang mempertanyakan segala sesuatu. Ia mengajak membaca, berdiskusi, dan melihat masalah dari berbagai sudut.
Perlahan-lahan, anda mulai menikmati perdebatan intelektual. Anda menemukan bahwa ternyata anda menyukai aktivitas yang dahulu terasa membosankan.
Apa yang terjadi? Ada beberapa kemungkinan:
- Anda mempelajari minat baru melalui orang tersebut.
- Anda menemukan potensi diri yang sebelumnya belum berkembang.
- Anda mulai menganggap aktivitas yang dilakukan bersama sebagai bagian dari identitas.
- Anda membangun versi diri yang berbeda dari versi sebelum hubungan itu.
Perubahan semacam ini tidak harus terjadi melalui nasihat besar atau pengorbanan dramatis. Ia bisa muncul melalui percakapan sehari-hari, lelucon yang berulang, kebiasaan membaca, cara menyelesaikan konflik, bahkan cara seseorang mengajukan pertanyaan.
Penelitian yang lebih baru juga menelaah hubungan antara self-expansion dalam relasi romantis dan kesehatan mental, termasuk penelitian multi-studi yang diterbitkan dalam Journal of Social and Personal Relationships.
Hasilnya mendukung adanya hubungan antara tingkat self-expansion yang lebih tinggi dan gejala depresi yang lebih rendah pada sampel yang diteliti. Namun, hubungan statistik ini tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa self-expansion menyebabkan penurunan depresi pada semua orang.
Tetapi, apakah perubahan itu selalu baik? Tidak, anda bisa ikut berkembang bersama seseorang, tetapi juga bisa perlahan-lahan mengecilkan diri demi mempertahankan hubungan.
Perhatikan perbedaannya:
Perubahan yang memperluas diri | Perubahan yang mengikis diri |
Menemukan minat baru. | Meninggalkan semua minat karena takut ditolak. |
Belajar menerima kritik. | Menganggap semua penilaian pasangan pasti benar. |
Menjadi lebih terbuka. | Tidak lagi berani menyampaikan pendapat. |
Memilih kompromi secara sadar. | Terus mengalah karena merasa tidak berhak menolak. |
Dari sini kita memperoleh satu prinsip penting. Cinta dapat mengubah diri tanpa harus menghapus diri.
Hubungan yang sehat tidak menjamin bahwa kedua orang akan selalu berkembang dengan kecepatan atau arah yang sama. Namun, hubungan itu idealnya memberi ruang bagi keduanya untuk tetap menjadi individu, bukan sekadar dua bagian yang hanya berfungsi ketika menempel satu sama lain.
Dan sekarang, kita sampai pada sebuah paradoks: jika seseorang menjadi bagian dari identitas kita, apakah mencintainya berarti mencintai sebagian dari diri kita sendiri?
Jawabannya mungkin ya, tetapi tidak seluruhnya. Sebab orang yang kita cintai tetap memiliki perspektif, kehendak, dan pengalaman yang tidak dapat kita klaim sebagai milik kita. Kedekatan bukanlah penghapusan perbedaan.
Apakah Kita Mencintai Orangnya, atau Versi Dirinya yang Hidup di Dalam Pikiran Kita?
Ketika kita mengenal seseorang, kita tidak mengakses seluruh isi pikirannya. Kita hanya melihat sebagian perilakunya, mendengar sebagian ceritanya, dan menafsirkan apa yang kita amati.
Artinya, kita selalu memiliki suatu gambaran mental tentang orang tersebut. Gambaran itu bisa cukup akurat, bisa juga mengandung kekeliruan.
Psikolog Sandra L. Murray, John G. Holmes, dan Dale W. Griffin meneliti fenomena ini dalam dua artikel penting pada 1996.
Dalam The Benefits of Positive Illusions: Idealization and the Construction of Satisfaction in Close Relationships, mereka mengkaji bagaimana pasangan terkadang memandang satu sama lain secara lebih positif daripada penilaian orang tersebut terhadap dirinya sendiri. Idealisasi positif semacam itu berkaitan dengan kepuasan hubungan dalam penelitian mereka.
Dalam penelitian lainnya, The Self-Fulfilling Nature of Positive Illusions in Romantic Relationships: Love Is Not Blind, but Prescient, mereka menelaah bagaimana idealisasi dapat berkaitan dengan perkembangan hubungan dari waktu ke waktu.
Temuan ini tidak berarti bahwa semakin tidak realistis kita memandang pasangan, semakin baik hubungan kita. Idealisasi dapat memiliki manfaat dalam kondisi tertentu, tetapi bisa menjadi masalah ketika membuat kita mengabaikan perilaku yang merugikan atau fakta penting.
Mari kita lihat tiga kemungkinan:
1. Kita melihat dirinya dengan penuh kasih
Kita mengetahui bahwa ia memiliki kekurangan, tetapi tidak menjadikan setiap kekurangan sebagai keseluruhan identitasnya. Kita juga mampu melihat kebaikan yang mungkin belum sepenuhnya ia sadari.
2. Kita melihat harapan kita sendiri
Kita menganggapnya akan selalu sabar, selalu memahami, atau suatu hari pasti berubah sesuai keinginan kita. Kita bukan hanya melihat dirinya, tetapi juga memproyeksikan masa depan yang kita harapkan.
3. Kita memperbarui pemahaman kita
Ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, kita bersedia memeriksa kembali gambaran kita. Kita bertanya, mendengarkan, dan mengakui bahwa pemahaman kita sebelumnya tidak lengkap.
Pilihan ketiga sangat penting. Mencintai seseorang bukan berarti harus selalu memiliki gambaran yang benar tentang dirinya sejak awal. Tidak ada manusia yang mampu mengetahui seluruh kompleksitas manusia lain.
Yang lebih penting adalah kesediaan memperbarui pemahaman ketika kenyataan memberi kita alasan untuk melakukannya.
Coba pikirkan ini, anda jatuh cinta kepada seseorang karena ia selalu mendengarkan. Kemudian, suatu hari, ia tidak setuju dengan anda. Ia mengkritik keputusan anda, menolak pendapat, dan memberikan alasan yang menurut anda keliru.
Apakah anda masih mencintainya ketika ia tidak lagi memainkan peran yang anda sukai?
Atau sebenarnya anda lebih mencintai pengalaman merasa dipahami daripada keseluruhan pribadi orang yang memahami diri anda?
Pertanyaan ini bukan tuduhan. Ia adalah alat untuk membedakan dua hal yang sering bercampur: cinta kepada seseorang dan keterikatan pada perasaan menyenangkan yang diberikan seseorang kepada kita. Keduanya bisa hadir bersamaan. Namun, keduanya tidak identik.
Cinta dan Etika: Apakah Kita Berhak Membentuk Orang yang Kita Cintai?
Sekarang kita masuk ke wilayah etika. Misalkan anda melihat potensi besar dalam diri seseorang. Anda tahu ia bisa lebih berani, lebih jujur, lebih sabar, atau lebih mampu memahami dirinya sendiri. Anda ingin membantunya berkembang. Apakah itu bentuk cinta? Bisa.
Tetapi bagaimana jika ia tidak ingin berkembang ke arah yang anda anggap benar? Bagaimana jika ia memilih kehidupan yang lebih sederhana daripada ambisinya dahulu? Bagaimana jika ia meninggalkan keyakinan yang justru membuat anda jatuh cinta kepadanya? Bagaimana jika ia menjadi lebih bahagia dengan cara hidup yang tidak akan pernah anda pilih?
Di sini kita perlu membedakan mendukung pertumbuhan seseorang dari menuntut seseorang bertumbuh sesuai rancangan kita. Cinta bisa melibatkan pengaruh timbal balik. Kita belajar dari orang lain, meniru sebagian kebiasaannya, dan mengubah keputusan berdasarkan percakapan dengannya. Namun, pengaruh tidak otomatis memberikan hak untuk mengendalikan.
Ada tiga sikap yang dapat kita bandingkan:
A. Cinta sebagai kepemilikan
“Aku mencintaimu, jadi aku ingin kamu tetap menjadi orang yang membuatku jatuh cinta.”
Risiko: orang yang dicintai diperlakukan seolah-olah berkewajiban mempertahankan versi dirinya yang disukai pasangannya.
B. Cinta sebagai proyek perbaikan
“Aku melihat potensimu, jadi aku akan membantumu menjadi orang yang menurutku terbaik.”
Risiko: dukungan berubah menjadi pengarahan sepihak. Definisi tentang kehidupan terbaik akhirnya ditentukan oleh satu pihak.
C. Cinta sebagai pengenalan dan kebebasan
“Aku ingin memahami siapa dirimu, mendukung pertumbuhanmu, dan tetap jujur tentang kebutuhan serta batasanku sendiri.”
Tantangan: kedua orang harus menerima bahwa pertumbuhan bersama tidak menjamin mereka akan selalu menginginkan hal yang sama.
Sikap ketiga bukan resep ajaib. Ia tidak menghapus konflik atau menjamin hubungan bertahan. Tetapi ia lebih menghormati kenyataan bahwa pasangan adalah manusia dengan kehendaknya sendiri.
Ada pula konsekuensi yang tidak romantis, tetapi penting: kita tidak selalu wajib mempertahankan suatu hubungan hanya karena hubungan itu pernah membentuk diri kita.
Anda dapat berterima kasih atas pengaruh seseorang, mengakui bahwa ia telah mengubah hidup anda, dan tetap memutuskan bahwa hubungan tidak lagi dapat dijalani dengan baik.
Makna suatu hubungan tidak otomatis hilang hanya karena hubungannya berakhir. Demikian pula, kesetiaan pada masa lalu tidak harus berarti mengorbankan seluruh masa depan.
Eksperimen Pikiran: Empat Versi Orang yang Sama
Sekarang kita lakukan eksperimen kecil. Anggap saja ini laboratorium filsafat cinta. Tidak ada tikus percobaan, hanya dua manusia yang terlalu banyak bertanya.
Bayangkan seseorang bernama Alex, yang selama sepuluh tahun menjadi orang paling penting dalam hidup anda. Anda menghadapi empat kemungkinan:
Skenario 1: Alex berubah menjadi lebih baik
Ia menjadi lebih matang, lebih empatik, dan lebih bertanggung jawab. Anda masih mengenali dirinya, tetapi ia tidak lagi memiliki sejumlah sifat yang dahulu membuat jatuh cinta.
Pertanyaan: Apakah cinta anda berkurang karena sebagian alasan awal mencintainya telah hilang?
Skenario 2: Alex berubah menjadi berbeda
Ia tetap baik, tetapi prioritas hidupnya kini berbeda dari prioritas anda. Ia ingin tinggal di tempat yang berbeda, menjalani kehidupan yang berbeda, dan mengejar tujuan yang tidak sejalan dengan tujuan anda.
Pertanyaan: Bisakah anda tetap mencintainya tanpa harus menjalani kehidupan bersama dengannya?
Skenario 3: Alex berubah menjadi seseorang yang melukai anda
Ia mulai berbohong, meremehkanm, atau melanggar kesepakatan yang penting bagi anda.
Pertanyaan: Apakah cinta yang masih anda rasakan membuat anda berkewajiban mempertahankan hubungan tersebut?
Tidak. Perasaan cinta tidak menghapus hak atas batasan, penghormatan, dan keselamatan.
Skenario 4: Anda yang berubah paling jauh
Alex masih merasa bahwa ia mencintai orang yang dahulu dikenalnya. Namun, anda sudah memiliki nilai, kebutuhan, dan gambaran masa depan yang berbeda.
Pertanyaan: Apakah anda berutang kepada Alex untuk tetap menjadi diri yang dahulu, hanya karena ia mencintai versi tersebut?
Keempat skenario ini menunjukkan bahwa pertanyaan “Siapakah yang sebenarnya kita cintai?” tidak memiliki satu jawaban sederhana.
Cinta dapat bertahan ketika karakter berubah. Cinta dapat tetap ada meskipun hubungan harus berakhir. Dan cinta tidak memberikan hak untuk membekukan orang lain pada versi dirinya yang paling menyenangkan bagi kita.
Namun, ada satu hal lagi yang harus kita pertimbangkan: Apakah kita mencintai masa depan seseorang yang belum ada? Ketika kita jatuh cinta, kita terkadang mencintai bukan hanya siapa seseorang sekarang, tetapi juga kemungkinan tentang siapa dirinya kelak.
Kita melihat keberanian yang belum berkembang, kebaikan yang belum konsisten, atau kemampuan yang belum ia sadari. Harapan semacam itu dapat membantu kita melihat potensi orang lain. Tetapi potensi bukanlah janji.
Kita tidak bisa menganggap bahwa seseorang pasti akan menjadi seperti yang kita bayangkan. Ia mungkin tumbuh ke arah yang berbeda, atau memilih untuk tidak mengejar potensi yang kita lihat dalam dirinya.
Karena itu, cinta yang dewasa perlu memegang dua kenyataan sekaligus:
- Kita boleh berharap seseorang berkembang.
- Kita harus tetap menilai hubungan berdasarkan kenyataan yang sedang kita jalani, bukan hanya masa depan yang kita impikan.
Dengan kata lain, mencintai kemungkinan seseorang tidak boleh membuat kita mengabaikan orang yang benar-benar hadir di hadapan kita.
Jadi Siapakah yang Sebenarnya Kita Cintai?
Setelah kita melewati identitas personal, psikologi hubungan, idealisasi, dan etika, saya ingin menawarkan sintesis berikut.
Ketika kita mencintai seseorang, ada setidaknya tiga objek cinta yang dapat saling bertumpang tindih:
1. Pribadi yang nyata
Orang dengan kehendak, kekurangan, nilai, dan pilihan yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita. Ia bukan karakter dalam cerita yang wajib mengikuti alur yang kita inginkan.
2. Pribadi yang kita kenang
Orang yang hidup dalam ingatan kita, lengkap dengan pengalaman bersama, janji, konflik, dan makna yang kita berikan kepada masa lalu. Ingatan ini penting, tetapi tidak selalu merupakan gambaran sempurna tentang siapa dirinya.
3. Pribadi yang mungkin menjadi dirinya
Bukan sosok yang kita ciptakan sesuka hati, melainkan manusia yang masih memiliki kemungkinan untuk berubah, belajar, dan menentukan arah hidupnya sendiri.
Ketiganya saling berkaitan, tetapi tidak selalu sejalan.
Kita dapat mencintai kenangan tentang seseorang sambil menyadari bahwa dirinya sekarang telah berubah. Kita dapat mencintai pribadi yang nyata tanpa menyetujui setiap pilihannya. Kita juga dapat berharap akan masa depannya tanpa menganggap diri kita sebagai penentu masa depan tersebut.
Jadi, apakah kita sebenarnya mencintai orangnya atau versi dirinya dalam pikiran kita?
Jawaban yang paling dapat dipertanggungjawabkan adalah: kita mencintai orang nyata melalui pemahaman yang tidak pernah sempurna, dibentuk oleh sejarah bersama, dan terus diuji oleh perubahan.
Cinta bukan pengetahuan mutlak tentang orang lain. Ia juga bukan sekadar perasaan yang tidak pernah berubah. Cinta dapat menjadi proses mengenal, menafsirkan, memperbaiki pemahaman, dan membuat pilihan berdasarkan siapa seseorang saat ini, sembari mengakui bahwa ia mungkin tidak akan selalu sama.
Dan yang tidak kalah penting, proses itu harus berlangsung dua arah. Kita bukan satu-satunya orang yang berhak berubah dalam suatu hubungan.
Referensi
1. Parfit, D. (1984). Reasons and Persons. Oxford University Press. Buku dan informasi penerbit.
2. Aron, A., Aron, E. N., Tudor, M., & Nelson, G. (1991). Close Relationships as Including Other in the Self. Journal of Personality and Social Psychology, 60(2), 241–253. https://doi.org/10.1037/0022-3514.60.2.241
3. Murray, S. L., Holmes, J. G., & Griffin, D. W. (1996). The Benefits of Positive Illusions: Idealization and the Construction of Satisfaction in Close Relationships. Journal of Personality and Social Psychology, 70(1), 79–98. https://doi.org/10.1037/0022-3514.70.1.79
4. Murray, S. L., Holmes, J. G., & Griffin, D. W. (1996). The Self-Fulfilling Nature of Positive Illusions in Romantic Relationships: Love Is Not Blind, but Prescient. Journal of Personality and Social Psychology, 71(6), 1155–1180. https://doi.org/10.1037/0022-3514.71.6.1155
5. Romantic Relationships and Mental Health: Investigating the Role of Self-Expansion on Depression Symptoms. (2023). Journal of Social and Personal Relationships, 40(1), 3–28. https://doi.org/10.1177/02654075221101127

Komentar
Posting Komentar