Dunia sebagai “Den of Robbers”: Erosi Tatanan Global, Hegemoni Amerika, dan Kembalinya Politik Kekuasaan di Abad XXI
![]() |
| Ilustrasi sarang perampok (Pic: Meta AI) |
Ketika hegemon menanggalkan hukum, maka yang tersisa hanyalah siapa bisa mengambil apa
Sejak awal 2026, sistem internasional mengalami percepatan disintegrasi yang tajam.
Keputusan Amerika Serikat untuk menarik diri dari puluhan organisasi internasional, dikombinasikan dengan penggunaan kekuatan koersif lintas batas, menandai pergeseran struktural dari tatanan berbasis hukum menuju tatanan berbasis kekuasaan.
Artikel ini menganalisis transformasi tersebut melalui kerangka realisme struktural, ekonomi politik global, dan teori hegemonic transition.
Dengan memanfaatkan data kebijakan AS, respons Eropa, serta dinamika pasar global, studi ini menunjukkan bahwa dunia tengah bergerak menuju kondisi yang oleh Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier disebut sebagai “den of robbers”: sistem internasional di mana norma, hukum, dan kedaulatan dilebur oleh logika dominasi.
Pendahuluan
Tatanan dunia pasca-1945 dibangun di atas dua pilar:
(1) institusi multilateral, dan
(2) norma hukum internasional.
Amerika Serikat adalah arsitek utama sistem ini, melalui PBB, Bretton Woods, WTO, WHO, dan jaringan perjanjian keamanan. Namun, sejak 2025–2026, AS secara sistematis menarik diri dari struktur yang ia bangun sendiri.
Ini bukan sekadar kebijakan isolasionisme, melainkan restrukturisasi radikal atas sistem internasional.
Pernyataan Presiden Jerman bahwa dunia sedang berubah menjadi “den of robbers” bukan metafora emosional, melainkan diagnosis politik: ketika negara kuat menolak hukum, sistem global berubah menjadi arena perampokan legal oleh aktor hegemonik.
Kerangka Teoretik
Artikel ini menggunakan tiga lensa utama:
1. Realisme Struktural (Waltz)
Negara bertindak untuk memaksimalkan keamanan dan kekuasaan ketika sistem anarkis kehilangan aturan.
2. Teori Transisi Hegemonik
Ketika hegemon lama merasa posisinya terancam, ia akan menghancurkan institusi yang membatasi kekuatannya sendiri.
3. Ekonomi Politik Global
Pasar global tidak membenci kekacauan. Perang, embargo, dan ketegangan menciptakan profit bagi sektor energi, senjata, dan spekulasi finansial.
Penarikan AS dari Sistem Multilateral
Penarikan AS dari lebih dari 60 organisasi internasional bukan tindakan administratif, melainkan pembongkaran arsitektur tatanan global.
Ini menghasilkan tiga efek:
1. Delegitimasi hukum internasional
Jika pembuat hukum meninggalkannya, maka hukum menjadi dekorasi.
2. Normalisasi tindakan sepihak
Negara lain mulai meniru: sanksi sepihak, operasi lintas batas, pemaksaan ekonomi.
3. Privatisasi konflik
Keamanan dunia tidak lagi dikelola institusi, tetapi oleh kekuatan dan kontrak militer.
“Raw Power” sebagai Doktrin Baru
Pergeseran AS menuju penggunaan kekuatan mentah menunjukkan transisi dari soft power ke coercive imperial management. Ini terlihat dalam:
• penangkapan pemimpin negara asing,
• ancaman ekonomi terhadap mitra,
• pembenaran operasi militer sebagai penegakan hukum domestik.
Ini melanggar prinsip utama hukum internasional: kedaulatan dan non-intervensi.
Kapitalisme Global dan Ekonomi Kekacauan
Davos 2026 menunjukkan bahwa elite ekonomi memahami satu hal: dunia stabil tidak lagi dijamin.
Konsekuensinya:
• Dana mengalir ke industri senjata.
• Harga energi naik.
• Negara lemah menjadi zona ekstraksi.
Perang bukan lagi kegagalan sistem. Ia menjadi mekanisme bisnis.
Palestina sebagai Studi Kasus
Di tengah kekacauan global yang disengaja, Palestina kehilangan visibilitas.
Israel diuntungkan oleh:
• lemahnya hukum internasional,
• fokus dunia yang terpecah,
• dan absennya penegakan norma.
Pendudukan tidak lagi membutuhkan pembenaran moral. Ia cukup memanfaatkan kebisingan dunia.
Dari Orde ke Perampokan
“Den of robbers” bukan sekadar dunia yang brutal. Ia adalah dunia di mana:
• kekuatan menggantikan hukum,
• pasar menggantikan etika,
• dan penderitaan menjadi eksternalitas.
Ini bukan anomali. Ini adalah fase baru kapitalisme geopolitik.
Sistem internasional 2026 telah memasuki era pasca-norma.
Ketika hegemon menanggalkan hukum, maka yang tersisa hanyalah siapa bisa mengambil apa.
Dalam dunia seperti ini, penjajahan tidak perlu disembunyikan. Ia hanya perlu dilakukan saat semua orang sibuk bertengkar di tempat lain.
Dan Palestina…
menjadi korban paling sunyi dari dunia yang berubah menjadi sarang perampok.
Referensi
Associated Press. (2026, January 7). The Latest: Trump exits 66 international organizations in latest retreat from global cooperation. AP News. https://apnews.com/article/68bba4bc1ae8730a98f50a704f6dfe70
Maddox, B. (2026, January 13). This does mark the end of the Western alliance. Chatham House. https://www.chathamhouse.org/2026/01/chatham-house-director-bronwen-maddox-warns-does-mark-end-western-alliance

Komentar
Posting Komentar