Moral di Panggung, Uang di Belakang Layar: Mengapa Negara-Negara Barat Mengecam Deepfake secara Etis tetapi Membiarkan Pasarnya Tumbuh

 

Ilustrasi aktor deepfake (Pic: Meta AI)


Di atas kertas mereka bicara moral.

Di server mereka menghitung laba.

Dan di antara keduanya,

wajah manusia dijual sebagai file



Tulisan ini menganalisis paradoks kebijakan negara-negara Barat terhadap teknologi deepfake. 


Di satu sisi, Barat secara normatif mengecam deepfake sebagai ancaman terhadap demokrasi, martabat manusia, dan keamanan publik. 


Di sisi lain, ekosistem pasar yang memungkinkan produksi, distribusi, dan monetisasi deepfake berkembang pesat justru di dalam yurisdiksi Barat. 


Dengan menggabungkan teori ekonomi politik, kajian regulasi teknologi, dan kritik kapitalisme digital, studi ini menunjukkan bahwa toleransi de facto terhadap industri deepfake bukanlah kegagalan kebijakan, melainkan konsekuensi logis dari rezim ekonomi yang memprioritaskan pertumbuhan pasar, inovasi, dan keuntungan investor di atas etika publik.



Pendahuluan


Sejak 2018, Barat secara konsisten mendeklarasikan deepfake sebagai:

ancaman demokrasi,

senjata disinformasi,

bentuk kekerasan berbasis gender,

dan risiko keamanan nasional.


Namun pada saat yang sama:

platform Barat menjadi host terbesar konten deepfake,

perusahaan Barat memproduksi model AI pembuat deepfake,

dan dana ventura Barat membiayai perusahaan generatif AI yang teknologinya memungkinkan pemalsuan wajah, suara, dan tubuh manusia.


Ini bukan kontradiksi kebetulan. Ini adalah struktur.



Kapitalisme Platform dan Etika Simbolik


1. Etika sebagai Komoditas Retoris


Dalam kapitalisme digital, etika berfungsi bukan sebagai batas, melainkan sebagai branding reputasi.


Perusahaan teknologi Barat mengadopsi:

“AI ethics”

“responsible AI”

“trust & safety”


bukan untuk menghentikan teknologi berbahaya, tetapi untuk:

mengurangi risiko regulasi,

melindungi nilai saham,

dan menenangkan opini publik.

(Zuboff, 2019; Pasquale, 2015)


2.Deepfake sebagai Produk Kapitalisme Perhatian


Deepfake tumbuh karena ia:

menghasilkan klik

meningkatkan waktu layar

memicu keterlibatan emosional ekstrem

dan laku di pasar pornografi, politik, dan hiburan


Dalam ekonomi perhatian, sesuatu yang viral lebih berharga daripada sesuatu yang benar.



Mengapa Barat Tidak Membunuh Industri Deepfake?


Karena industri ini:

menghasilkan miliaran dolar

mendorong dominasi AI Barat

memperkuat ekosistem cloud, GPU, dan data

dan memberi keunggulan geopolitik dalam perang informasi


Jika Barat melarang deepfake secara ketat, maka:

China, Rusia, dan aktor non-Barat akan mengambil alih teknologi itu

Barat kehilangan monopoli teknologi manipulasi realitas


Maka dipilihlah strategi:

“mengutuk secara moral, membiarkan secara ekonomi.”



Regulasi sebagai Teater


Undang-undang deepfake di Barat biasanya:

fokus pada kriminalisasi individu

bukan pada pembuat model

bukan pada platform

bukan pada penyedia infrastruktur


Ini menciptakan ilusi kontrol, sambil menjaga mesin pasar tetap hidup.



Deepfake sebagai Bentuk Kolonialisme Digital


Deepfake sering menarget:

perempuan

minoritas

politisi negara Global South


Namun:

perusahaan Barat yang membangun alatnya tidak dimintai tanggung jawab

hanya korban yang menanggung akibatnya


Ini adalah bentuk baru ekstraksi: mengambil wajah, suara, dan tubuh manusia sebagai bahan mentah ekonomi.



Barat tidak gagal mengatur deepfake.

Barat memilih untuk tidak membunuhnya.


Karena dalam tatanan neoliberal: Etika penting, selama tidak mengganggu arus uang.


Deepfake bukan penyimpangan sistem. Ia adalah produk sempurna dari kapitalisme digital.








Referensi


Pasquale, F. (2015). The black box society: The secret algorithms that control money and information. Harvard University Press.


Zuboff, S. (2019). The age of surveillance capitalism. PublicAffairs.


Chesney, R., & Citron, D. (2019). Deep fakes: A looming challenge for privacy, democracy, and national security. California Law Review, 107(6), 1753–1820.


Floridi, L., et al. (2018). AI4People: An ethical framework for a good AI society. Minds and Machines, 28(4), 689–707.


Gorwa, R., Binns, R., & Katzenbach, C. (2020). Algorithmic content moderation. New Media & Society, 22(2), 316–336.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Isu Pangkalan Militer Rusia: Diplomasi Dua Wajah dalam Politik Global

Penahanan Global Sumud Flotilla & Penjara Ketziot: Kondisi, Pelanggaran, dan Tantangan atas Kemanusiaan