Isra Mi’raj sebagai Etika Kekuasaan: Spirit Transendensi vs Kejahatan Modern

Ilustrasi spirit transendensi vs kejahatan modern (Pic: Meta AI)


Negara, AI, teknologi, dan pasar tidak kebal dari etika langit. Isra Mi’raj adalah peringatan bahwa kemajuan tanpa moral adalah bentuk iblis modern



Isra Mi’raj adalah peristiwa metafisik yang dalam epistemologi Islam berfungsi sebagai legitimasi moral bagi hukum dan kekuasaan manusia


Tulisan ini menganalisis Isra Mi’raj bukan sebagai narasi mukjizat belaka, melainkan sebagai arsitektur etikayang menantang bentuk-bentuk kejahatan modern seperti aneksasi wilayah, deepfake, perampokan sistemik, dan kolonialisme digital. 


Argumen utama: masyarakat religius yang melakukan kejahatan struktural sedang melakukan “Mi’raj palsu”, yaitu naik dalam kekuasaan tetapi jatuh dalam kemanusiaan.



Pendahuluan


Isra Mi’raj terjadi pada saat Nabi Muhammad berada di titik terendah secara sosial dan politis: kehilangan Khadijah, ditolak Thaif, dikejar oleh elite Quraisy. 


Dalam situasi itulah, wahyu tidak datang sebagai strategi politik, tetapi sebagai revolusi moral.


Hari ini, dunia justru terbalik:

negara-negara mengaku beragama, tetapi melakukan:

aneksasi wilayah

perampokan ekonomi

pemalsuan realitas melalui deepfake

penghancuran populasi sipil


Ini bukan sekadar hipokrisi. Ini adalah pengkhianatan terhadap struktur etika Isra Mi’raj.



Isra Mi’raj sebagai Teori Etika Vertikal


Isra Mi’raj terdiri dari dua gerak:

1. Isra’: perjalanan horizontal (dari Mekah ke Baitul Maqdis)

2. Mi’raj: perjalanan vertikal (dari bumi ke Sidratul Muntaha)


Dalam filsafat moral Islam, ini berarti: kekuasaan di bumi harus tunduk pada hukum langit


Artinya:

Teknologi tunduk pada etika

Negara tunduk pada kemanusiaan

Kekuatan tunduk pada kebenaran


Jika tidak, maka manusia sedang membangun menara Babel digital.



Aneksasi, Deepfake, dan Robbery sebagai Dosa Mi’raj


a. Aneksasi


Dalam hukum Islam, tanah bukan milik yang kuat, melainkan amanah dari Tuhan.


Aneksasi wilayah melanggar maqāṣid al-sharī‘ah (perlindungan jiwa, kehormatan, dan keadilan)


Negara yang mengklaim Tuhan tetapi merampas tanah orang lain sedang berkata: “Kami lebih tinggi dari langit.” Itu definisi syirik politik.


b. Deepfake


Deepfake adalah pemalsuan wajah dan suara manusia, yaitu serangan terhadap:

kehormatan (ʿird)

kebenaran (ṣidq)


Dalam etika Isra Mi’raj, manusia dibawa ke hadapan Tuhan tanpa topeng. Deepfake justru membangun alam semu di mana dusta terlihat nyata.


Itu bukan teknologi netral.

Itu adalah senjata epistemik.


c. Robbery sistemik


Ketika:

bank,

negara,

atau korporasi

menguras sumber daya orang miskin melalui sistem legal tapi tak adil, itu adalah pencurian berjas hukum.


Dalam Mi’raj, Nabi melihat orang-orang yang perutnya besar karena memakan harta orang lain secara zalim (Hadis sahih tentang azab pemakan riba)



Mengapa Orang Beragama Bisa Jahat?


Karena mereka memisahkan:

ritual dari moral

doa dari keadilan

Tuhan dari korban


Mereka shalat, tetapi:

membiarkan genosida

membenarkan penjajahan

menutup mata pada penipuan digital


Ini dalam Al-Qur’an disebut:v“Mereka mengambil agama sebagai permainan.” (QS. Al-A‘raf: 51)



Isra Mi’raj sebagai Pengadilan Global


Isra Mi’raj bukan nostalgia.

Ia adalah prototipe pengadilan kosmik.


Pesannya sederhana: Siapa pun yang naik ke atas dunia dengan menindas sesama, akan jatuh di hadapan Tuhan.


Negara, AI, teknologi, dan pasar tidak kebal dari etika langit.



Isra Mi’raj adalah peringatan bahwa kemajuan tanpa moral adalah bentuk iblis modern.


Hari ini kita bisa:

terbang ke luar angkasa

memalsukan wajah manusia

memindahkan batas negara


Tapi jika itu semua dilakukan tanpa keadilan, maka kita sedang turun ke neraka sambil mengira sedang naik ke surga.







Referensi


Assmann, J. (2011). Cultural memory and early civilization: Writing, remembrance, and political imagination. Cambridge University Press.


Ehrman, B. D. (2005). Misquoting Jesus: The story behind who changed the Bible and why. HarperOne.


Esposito, J. L. (2011). What everyone needs to know about Islam. Oxford University Press.


The Holy Bible, New Revised Standard Version. (1989). National Council of Churches.

(Genesis 11:1–9).


The Qur’an. (n.d.).

(QS Al-Baqarah 2:79; QS Al-Ma’idah 5:13; QS Ali ‘Imran 3:78).


Walton, J. H. (2009). The lost world of Genesis one: Ancient cosmology and the origins debate. IVP Academic.

Komentar

  1. materi yang sangat bagus untuk realisasi di zaman sekarang, mksh sudah memberikan materinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Luar biasa atas komentar dan apresiasinya yang mengesankan , salam jabat erat selalu!

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Isu Pangkalan Militer Rusia: Diplomasi Dua Wajah dalam Politik Global

Penahanan Global Sumud Flotilla & Penjara Ketziot: Kondisi, Pelanggaran, dan Tantangan atas Kemanusiaan