CERPEN: Aku Memilihmu

Ilustrasi Aku Memilihmu (Pic: Meta AI)

Aku sadar bahwa semua janji manis di awal hubungan hanyalah bayangan


Pagi itu, meskipun matahari belum benar-benar muncul, cahaya lembut sudah merayap masuk dari jendela kamar kita.


Aku terbangun lebih dulu, tapi bukan karena alarm—melainkan karena kebiasaan lama: ingin melihatmu tidur.


Kamu tidur miring, rambut panjangmu menutupi sebagian wajah, dan bibirmu sedikit terbuka.


Tanganku otomatis membelai ujung ponimu, lalu menyibakkannya pelan.

“Aku nggak pernah bosen lihat kamu,” bisikku, meskipun aku tahu kamu nggak dengar.


Beberapa menit kemudian, matamu setengah terbuka.

“Fallan… kamu udah bangun? Nggak capek liatin aku tidur?” suaramu masih serak, tapi hangat.


“Capek sih… capek kalau nggak bisa lihat kamu,” jawabku sambil tersenyum nakal.


Kamu mencubit lenganku, pura-pura kesal, lalu memelukku erat.



Hari-hari kita sederhana tapi penuh cerita.

Kadang kita masak bareng—aku memotong bahan, kamu yang mengatur bumbu.


Kadang kita duduk di balkon sambil minum teh, membicarakan mimpi semalam atau rencana minggu depan.


Kadang kita diam saja, tapi bukan diam yang canggung—diam yang nyaman, seperti dua orang yang sudah terlalu paham bahasa hati masing-masing.


Setiap malam, sebelum tidur, kita punya kebiasaan.


Aku selalu menggenggam tanganmu dan mengucapkan: “Hari ini aku memilih kamu lagi. Besok pun begitu.”


Dan kamu akan menjawab dengan nada yang kadang serius, kadang bercanda,

“Ya iyalah… siapa lagi yang mau aku pilih kalau bukan kamu?”



Suatu malam, hujan deras turun.

Bunyi air menghantam genting membuat suasana makin intim.


Kamu menyandarkan kepalamu di dadaku, mendengar degup jantungku.

“Kamu sadar nggak,” katamu pelan, “kita udah ngelewatin banyak badai, tapi tetap di sini?”


Aku mengecup keningmu, lalu menjawab,

“Karena kita nggak cuma bertahan, kita juga saling memilih. Itu bedanya.”



Hubungan kita bukan tanpa perbedaan atau perdebatan.

Kadang aku keras kepala, kadang kamu sensitif.


Tapi kita belajar satu hal penting: tidak ada yang menang kalau hati salah satu kalah.


Jadi setiap kali kita bertengkar, kita selalu menutupnya dengan pelukan.

Karena kita tahu, cinta yang tidak dibungkus dengan maaf akan mudah robek.



Bertahun-tahun kemudian, aku sadar bahwa semua janji manis di awal hubungan hanyalah bayangan—yang membuatnya nyata adalah pilihan yang kita buat setiap hari.


Dan hari ini, seperti kemarin, seperti besok, aku tetap memilih kamu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Isu Pangkalan Militer Rusia: Diplomasi Dua Wajah dalam Politik Global

Penahanan Global Sumud Flotilla & Penjara Ketziot: Kondisi, Pelanggaran, dan Tantangan atas Kemanusiaan