Transisi Gaza, Kepentingan Regional, dan Politik Netanyahu

Ilustrasi kehancuran Gaza dan penduduknya yang kelaparan (Pic: Meta AI)


Transisi Gaza ini sebaiknya dibaca bukan sebagai jalan damai, melainkan sinetron geopolitik yang menyembunyikan ambisi kolonial Israel dan permainan politik Netanyahu


Pasca serangan Israel yang menewaskan 61 ribu lebih warga Palestina, wacana transisi Gaza ke Mesir dan Yordania muncul sebagai “opsi realistis”. 


Namun, skema ini menimbulkan kecurigaan: apakah benar solusi damai, atau sekadar instrumen Israel untuk mempertahankan kontrol? 


Tulisan ini menganalisis skenario tersebut dengan meninjau faktor geopolitik, hubungan bilateral, kepentingan regional, serta peran Netanyahu dalam menggunakan isu Gaza untuk menutupi krisis politik domestiknya.



Pendahuluan


Konflik Israel–Palestina merupakan konflik berkepanjangan yang sarat dengan elemen kolonialisme, politik identitas, dan kepentingan geopolitik global. 


Dalam beberapa bulan terakhir, muncul wacana bahwa Gaza tidak akan langsung diserahkan kepada Otoritas Palestina (di bawah Mahmoud Abbas), melainkan kepada Mesir dan Yordania.


Pertanyaan utama: Apakah skema ini solusi transisi yang netral, ataukah justru strategi Israel untuk menghindari lahirnya negara Palestina yang berdaulat?



Metodologi


Tulisan ini menggunakan pendekatan analisis geopolitik-kritis dengan tiga variabel utama:


1. Motif Israel → kontrol politik, keamanan, dan ekonomi.


2. Posisi Mesir dan Yordania → sebagai negara dengan sejarah perjanjian damai dengan Israel.


3. Konteks Domestik Netanyahu → penggunaan isu Gaza untuk mengalihkan perhatian publik dari kasus korupsi dan tekanan politik internal.



Kajian Teoretik


1. Geopolitik Gaza


Gaza adalah “kunci Palestina” karena letaknya strategis di pesisir Mediterania.

Siapa yang mengendalikan Gaza memiliki leverage besar terhadap seluruh isu Palestina.


2. Mesir & Yordania sebagai Opsi Transisi


Mesir: Terikat Perjanjian Camp David (1978), serta Abraham Accords. Punya kepentingan menstabilkan Sinai dari infiltrasi militan Gaza.

Yordania: Hubungan keamanan erat dengan Israel. Raja Abdullah II sering memainkan peran moderat.

Keduanya sering dipersepsikan lebih “aman” oleh Israel dibanding Otoritas Palestina atau Hamas.


3. Sinetron Politik Netanyahu


Netanyahu menghadapi tekanan politik domestik: demonstrasi anti-pemerintah, tuduhan korupsi, dan friksi internal kabinet.

Dengan memainkan peran “pahlawan perang” dan “penyelamat Israel”, Netanyahu berusaha menggeser sorotan dari kasus korupsinya.

Strategi: memperpanjang konflik Gaza → menciptakan narasi heroik → membuka wacana transisi “aman” ke Mesir/Yordania → sembunyikan agenda ilegal (pemukiman Yahudi di Tepi Barat).



Analisis: Transisi Gaza = Skenario Sinetron

1. Israel tidak rela Palestina merdeka


Bukti: rencana membangun pemukiman ilegal baru di Tepi Barat (yang jelas akan menjadi wilayah Palestina jika merdeka).

Artinya, Israel ingin Palestina tetap terfragmentasi.


2. Mesir dan Yordania bukan solusi netral

Mesir punya utang politik dan ekonomi ke Israel–AS, sehingga rawan menjadi “perpanjangan tangan”.

Yordania memiliki kepentingan menjaga stabilitas dalam negerinya, apalagi banyak pengungsi Palestina ada di Yordania.


3. Netanyahu dan “politik pengalihan”


Setiap krisis Gaza → citra Netanyahu sebagai pemimpin keras terhadap Palestina meningkat.

Efek domino: kasus korupsi dan tuduhan penyalahgunaan kekuasaan meredup di mata publik.



Wacana penyerahan Gaza kepada Mesir dan Yordania sebetulnya lebih mirip skenario politik ketimbang solusi perdamaian. 


Tujuan utamanya adalah:

1. Membatasi Palestina agar tak pernah menjadi negara berdaulat.

2. Memberikan kesan “Israel menyerahkan kendali” padahal tetap mengontrol lewat proksi regional.

3. Menyelamatkan Netanyahu dari krisis domestik dengan menjadikannya “pahlawan perang”.


Dengan demikian, transisi Gaza ini sebaiknya dibaca bukan sebagai jalan damai, melainkan sinetron geopolitik yang menyembunyikan ambisi kolonial Israel dan permainan politik Netanyahu.








Referensi

  • Pappé, I. (2017). The Biggest Prison on Earth: A History of the Occupied Territories.
  • Khalidi, R. (2020). The Hundred Years’ War on Palestine.
  • Artikel berita dan laporan internasional hingga Agustus 2025 (Al Jazeera, Haaretz, The Guardian).L

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Isu Pangkalan Militer Rusia: Diplomasi Dua Wajah dalam Politik Global

Penahanan Global Sumud Flotilla & Penjara Ketziot: Kondisi, Pelanggaran, dan Tantangan atas Kemanusiaan