Standar Ganda Moral dalam Konflik Israel–Palestina: Studi Kasus Netanyahu, Sandera, dan Blokade Gaza

Ilustrasi sandera Israel kurus kering dan bocah-bocah Gaza yang kelaparan (Pic: Meta AI)

Netanyahu mengungkapkan penderitaan para sandera sebagai tragedi nasional. Namun ia menolak menyebut kematian anak-anak Gaza sebagai kejahatan. Mengapa?


Konflik Israel–Palestina adalah panggung global ketimpangan empati. Tulisan ini menyoroti standar ganda moral yang muncul saat Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengecam kondisi sandera Hamas yang tampak kurus, namun bungkam terhadap penderitaan anak-anak Palestina yang mati akibat blokade Israel sendiri. 


Melalui pendekatan teori moral-politik dan etika publik, kajian ini membongkar selektivitas nilai kemanusiaan dan inkonsistensi moral yang berulang dalam konflik berdarah ini.



Pendahuluan


Apakah kemanusiaan punya kebangsaan? Apakah kelaparan pada tubuh seorang anak Israel lebih menyakitkan dari kematian bayi Palestina?


Dunia seolah menjawab: ya—bila kita mendengarkan suara para pemimpin yang memelintir fakta. 


Salah satu contohnya adalah ketika Netanyahu, dalam sebuah pernyataan penuh kemarahan, mengecam Hamas karena membiarkan sandera Israel tampak kurus dan tak terawat. 


Padahal, fakta di lapangan menyatakan bahwa ribuan anak Palestina—bayi, balita, dan perempuan—telah meninggal dunia karena kekurangan gizi akibat blokade total Israel di Gaza.


Standar ganda ini bukan sekadar ironi. Ia adalah bentuk paling halus dari dehumanisasi struktural.



Metodologi


Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif melalui:


1. Analisis wacana media internasional (CNN, Al Jazeera, BBC, Haaretz)


2. Laporan lembaga internasional (WHO, UNICEF, OCHA, HRW)


3. Telaah teori moral universal dari perspektif Emmanuel Levinas, Judith Butler, dan teori kolonial Edward Said



Kajian Teoretik: Kemanusiaan yang Dipilih-pilih


Dalam bukunya Frames of War, Judith Butler menjelaskan bahwa tidak semua nyawa dianggap “layak untuk ditangisi”. 


Ada tubuh-tubuh yang sejak awal dianggap sah untuk dibunuh, dan ada yang dilindungi oleh narasi kekebalan moral.


Netanyahu mengungkapkan penderitaan para sandera sebagai tragedi nasional. Namun ia menolak menyebut kematian anak-anak Gaza sebagai kejahatan. Mengapa?


Karena tubuh-tubuh Palestina telah didefinisikan sebagai “musuh bawaan” sejak lahir. Maka kelaparan mereka bukan tragedi—melainkan statistik.



Studi Kasus: Netanyahu dan Sandera


Saat gambar sandera Israel yang kurus tersebar, Netanyahu menyebut Hamas “biadab”, “tidak manusiawi”, dan “pembunuh perlahan.” Ia menuntut dunia menekan Hamas.


Namun ketika lembaga internasional menyatakan 80% anak-anak Gaza mengalami gizi buruk akut, dan bayi mati tiap jam akibat kekurangan susu dan air bersih, Netanyahu menyebut itu sebagai “konsekuensi perang yang perlu”.


Dengan kata lain: penderitaan mereka tidak layak dikecam.



Analisis: Selektivitas Moral sebagai Senjata Politik


Standar ganda ini tidak lahir dari ketidaktahuan. Ia dibangun dan dipelihara.


1. Media Barat menampilkan wajah-wajah sandera dengan air mata dan musik sedih. Tapi tubuh anak-anak Palestina tampil tanpa suara, tanpa nama, tanpa sejarah.


2. Politik internasional memberi legitimasi kepada pihak yang berteriak lebih dulu, bukan yang menderita lebih lama.


3. Moralitas publik dibentuk lewat empati yang diarahkan secara politik.



Kita tidak boleh hanya mencintai yang mirip dengan kita.

Kita tidak boleh hanya menangis untuk anak yang punya paspor sama.


Cinta sejati adalah ketika kita menangis untuk bayi yang tak bisa menyebut nama kita.









Referensi

  • Butler, J. (2009). Frames of War: When Is Life Grievable?
  • Said, E. (1978). Orientalism.
  • WHO Gaza Report, 2025
  • UNICEF Emergency Gaza Briefing, July 2025
  • Al Jazeera, “Children of Gaza: Dying in Silence”, 2025
  • Haaretz, “Netanyahu’s Moral Panic: The Sandera Discourse”, 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Penahanan Global Sumud Flotilla & Penjara Ketziot: Kondisi, Pelanggaran, dan Tantangan atas Kemanusiaan

Mengapa Israel Tetap Mengintersepsi Flotilla Meski Prosedur Kemanusiaan Sudah Dipatuhi?