Dwikaton Singoyudo: Merayakan Merdeka melalui Puisi dan Gitar di Usia 83 Tahun

 


Oleh : Akaha Taufan Aminudin 


Dalam webinar MERDEKA Berpuisi SATUPENA pada 28 Agustus 2025, Dwikaton Singoyudo tampil memukau dengan membacakan puisinya yang sarat makna diiringi alunan gitar akustik yang menyentuh hati. 


Meski telah berusia 83 tahun, semangat dan kreativitasnya tak pernah pudar. Sebagai paman sekaligus mentor bagi diva Indonesia Yuni Shara dan Krisdayanti, Dwikaton mengajarkan kita bahwa kemerdekaan sesungguhnya adalah perjalanan jiwa penuh rasa syukur, cinta, dan pengharapan. Artikel ini menggali keindahan karya dan kehidupan seorang maestro yang menginspirasi lintas generasi.


Ketika Usia Tak Menghalangi Semangat Berkarya


Umur 83 tahun mungkin mengejutkan bagi banyak orang jika mengetahui bahwa Dwikaton Singoyudo masih aktif tampil dengan performa yang penuh energi dan jiwa seni yang membara. Kegiatan yang ia jalani dalam webinar MERDEKA Berpuisi SATUPENA di tanggal 28 Agustus 2025 Zoom Bersama di Taman Siswa di pandu Ingit Mreta Claritas di   adalah bukti nyata bahwa kreativitas dan passion tidak mengenal batas usia.


Dari kota Batu, Jawa Timur, Dwikaton membuktikan bahwa seni adalah obat dan napas hidup yang selalu bisa memperbaharui jiwa kita. Dengan guitar akustik yang mengalun lembut sebagai pengiring, pembacaan puisi karya beliau bukan sekadar kegiatan seni biasa, melainkan sebuah bentuk perayaan kemerdekaan batin. Karya-karyanya mengingatkan kita bahwa merdeka bukan hanya soal bebas secara fisik, tapi juga bebas dari belenggu ketakutan dan putus asa.


Menilik Karya dan Filosofi Dwikaton Singoyudo


Puisi Dwikaton seperti “Kasih Karunia” dan “Lembut berhembus angin timur” tidak saja indah secara bahasa, tetapi juga mengandung pesan dalam tentang kehidupan dan spiritualitas. Ia menulis:


“Kita sudah menimba banyak pelajaran / Yang berkualitas dan bernilai tinggi / Lewat perjuangan dan prestasi / Dalam kelelahan dan kesakitan.”


Ini menegaskan bahwa hidup adalah guru terbaik yang mengajarkan kita lewat suka dan duka. Tak jarang, kemerdekaan jiwa baru bisa kita capai setelah melewati tantangan berat, kegagalan, dan perenungan mendalam.


Lebih jauh, puisi “Lembut berhembus angin timur” menggambarkan bagaimana keindahan alam menjadi metafora dari kasih Tuhan yang tak berkesudahan. Ia mengajak kita menggantungkan harapan dan doa, serta menjadi pribadi yang pengasih—karakter yang menurutnya sangat penting agar karunia Tuhan terus mengalir dalam hidup kita.


Paman Para Diva: Sosok Inspiratif di Balik Layar


Selain sebagai penyair dan musisi, Dwikaton Singoyudo dikenal sebagai paklik atau paman sekaligus pembimbing menyanyi bagi dua diva ternama Indonesia, Yuni Shara dan Krisdayanti. Peran ini menambah kekayaan cerita hidupnya, di mana ia tidak hanya berkarya sendiri namun juga mentransfer ilmu dan semangat kepada generasi muda.


Hal ini menunjukkan bahwa kemerdekaan berkarya dan berkreativitas juga bisa diwujudkan dalam bentuk membimbing dan menginspirasi orang lain. Meski telah mencapai usia lanjut, semangat mengabdi untuk seni dan budaya terus mengalir deras dalam dirinya.


Merayakan Hidup dengan Syukur dan Puisi


Kata sambutan yang ia sampaikan dalam webinar itu mengajarkan hal sederhana namun mendalam:


“Kita berterima kasih dan bersyukur atas satu hari pemberian Tuhan yang begitu spesial dan istimewa.”


Sebuah ajakan untuk mengingatkan kita bahwa setiap hari adalah anugerah untuk disyukuri dan dijalani dengan penuh makna. Melalui puisi dan musiknya, Dwikaton menyampaikan bahwa merdeka adalah kebebasan yang lahir dari rasa syukur, dan rasa syukur itu sendiri adalah gerbang menuju kebahagiaan yang hakiki.


Kesimpulan: Legasi yang Menginspirasi


Dwikaton Singoyudo bukan hanya seorang seniman dan musisi, tetapi juga guru kehidupan dan legenda hidup yang memberikan contoh bahwa usia hanyalah angka. Ia mengingatkan kita bahwa semangat berkarya, cinta pada seni, dan syukur pada kehidupan mampu mengantarkan kita pada kemerdekaan yang sesungguhnya—merdeka dalam jiwa dan raga.


Bagi kita yang membaca dan menyimak kisah beliau, mari kita terus semarakkan passion kita, berkarya tanpa batas usia, dan selalu memaknai hidup dengan rasa syukur yang tulus. Seperti kata-kata Dwikaton, “Semuanya rahasia ilahi,” dan dalam rahasia itulah letak keindahan merdeka itu sendiri.


Referensi:

Webinar MERDEKA Berpuisi SATUPENA, 28 Agustus 2025


Biodata dan karya Dwikaton Singoyudo


Dokumentasi praktik seni dan mentoring Yuni Shara & Krisdayanti


Merdeka adalah hak setiap jiwa—tidak peduli usia maupun latar belakang. Teruslah berkarya dan berbagi inspirasi, seperti yang telah ditunjukkan oleh Dwikaton Singoyudo.

Salam merdeka dan puisi!


Jum'at Legi 29 Agustus 2025

Drs. Akaha Taufan Aminudin 

Sisir Gemilang Kampung Baru Literasi SIKAB Himpunan Penulis Pengarang Penyair Nusantara HP3N Kota Batu Wisata Sastra Budaya SATUPENA JAWA TIMUR 


#SatuPenaJawaTimur

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Isu Pangkalan Militer Rusia: Diplomasi Dua Wajah dalam Politik Global

Penahanan Global Sumud Flotilla & Penjara Ketziot: Kondisi, Pelanggaran, dan Tantangan atas Kemanusiaan