TERCORENG: Ketimpangan Peradilan dalam Lensanya Syamsu Soeid


Oleh :  Akaha Taufan Aminudin 


Dalam karya performance art ke-20 berjudul TERCORENG, Syamsu Soeid menghadirkan lukisan hidup yang mengaduk-aduk kesadaran kita akan ketimpangan peradilan di Indonesia.


Dipentaskan di Jogjakarta sebagai bagian dari pembukaan pameran tunggal lukisan kontemporer Watoni, karya ini mengajak kita merenung: bagaimana sebuah kebenaran bisa ternoda, dan sebuah kesalahan bisa dibenarkan? Lewat kombinasi estetik dan kritik sosial, TERCORENG menyuntikkan kesadaran kritis yang tak lekang oleh waktu.


*Mencoret Keadilan yang Tercoreng*


Jika Anda perhatikan, gambar hidup kata TERCORENG dalam penampilan karya Syamsu Soeid ini bukan sekadar permainan kata. Sebuah nama yang kuat membawa arti yang dalam: "tercoreng" bisa lahir dari noda sendiri--kesalahan pribadi, maupun karena coretan orang lain yang sengaja mencoreng nama baik seseorang atau sistem. Dalam konteks ketimpangan peradilan, ini sangat relevan.


Kebenaran yang dianggap mutlak justru sering menjadi sasaran manipulasi, sementara kesalahan yang mestinya dipertanggungjawabkan bisa jadi dilindungi. Apakah ini bukan sebuah paradoks yang membingungkan? Saya rasa kita semua merasakan simpang-siurnya sistem hukum yang seolah kehilangan arah, di mana keadilan bukan lagi hak yang pasti tapi sebuah wacana yang diperdebatkan.


*Performance Art sebagai Kritik Sosial*


Performance art sendiri adalah medium yang sangat cocok untuk menyampaikan kritik sosial, karena di sanalah batas antara realitas dan interpretasi bisa saling berbaur. Syamsu Soeid, yang sejak 2018 sudah menghasilkan 20 karya performance art, menggunakan panggung ini untuk mengekspresikan keresahan kolektif.


Pertunjukan TERCORENG di hadapan seniman-seniman Jogja, khususnya di acara pembukaan pameran tunggal Watoni, semakin memperkaya makna dialog lintas medium seni. Di sini, lukisan dan aksi panggung bertemu, membangun sebuah narasi kompleks tentang ketimpangan yang tak hanya bersifat visual, tetapi juga sosial dan filosofis.


*Watoni dan Pictolo: Lukisan yang Bercerita*


Watoni, yang dikenal dengan tokoh Pictolo dalam lukisannya, menjadi latar yang sempurna untuk TERCORENG. Pictolo bukan hanya karakter biasa—ia adalah simbol yang membangkitkan imajinasi sekaligus kritik halus tentang kehidupan.


Pameran tunggal Watoni yang berlangsung dari 29 Juli hingga 31 Agustus 2025 di Gallery Daging Tumbuh, Jogjakarta, bukan hanya tempat pameran lukisan, tetapi panggung ide dan dialog yang hidup. Dan di sinilah, performance art TERCORENG hadir sebagai narasi penyeimbang, mencengkeram makna karya visual dalam dinamika hidup nyata.


*Menggugah Kesadaran Kolektif*


Karya seni yang berdampak bukan hanya soal keindahan, tetapi sejauh mana ia mampu menggugah kesadaran penikmatnya. TERCORENG adalah salah satu contoh bagaimana seni dapat menjadi alat pemberdayaan dan pengingat bahwa keadilan bukan sekadar cita-cita, melainkan perjuangan yang memerlukan perhatian kritis tanpa henti.


Ketimpangan yang terus-menerus eksis dalam sistem hukum mengingatkan kita bahwa senantiasa ada ruang untuk perbaikan—dan perbaikan itu dimulai dari kesadaran yang dibangun lewat dialog dan refleksi, salah satunya melalui seni.


*Seni sebagai Cermin dan Tuntutan*


Dalam dunia yang sering kali abu-abu antara benar dan salah, TERCORENG mengajarkan kita bahwa pencorengan bisa terjadi kapan saja—baik oleh diri sendiri maupun oleh orang lain. Sebuah karya seni tak hanya jadi hiburan estetis, tapi juga cermin kritis yang menyorot ketidakadilan yang mungkin selama ini kita abaikan.


Jadi, apakah keadilan itu masih ada tanpa keberanian untuk mengkritik? Apakah lukisan dan pertunjukan seperti ini hanya kesenangan sesaat, ataukah suara keberanian yang membangunkan kita dari tidur panjang? Lebih dari itu, TERCORENG mengajak kita bertanya: apa yang akan kita lakukan untuk wajah peradilan yang lebih bersih dan adil?


Yuk, bagikan artikel ini dan beri tahu saya pendapat Anda! Apakah pernah merasakan ketimpangan hukum yang membuat hati tercoreng? Mari berdiskusi agar suara kita membentuk perubahan nyata.


Senin Pon 4 Agustus 2025

Akaha Taufan Aminudin 

*Sisir Kampung Baru Literasi SIKAB Sinau Karyo Agawe Becik Kota Batu Wisata Sastra Budaya SATUPENA JAWA TIMUR*


#66Hari_Terpaksa_Menulis

#Nomor367_Hari04

#NulisAjaDulu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Isu Pangkalan Militer Rusia: Diplomasi Dua Wajah dalam Politik Global

Penahanan Global Sumud Flotilla & Penjara Ketziot: Kondisi, Pelanggaran, dan Tantangan atas Kemanusiaan