Dinamika Unjuk Rasa & Krisis Legitimasi Negara

Ilustrasi unjuk rasa (Pic: Meta AI)

Ketika keadilan tidak ditegakkan secara manusiawi, apapun bisa terjadi—including runtuhnya kepercayaan rakyat dan munculnya protes yang tidak terkendali


Demonstrasi yang terjadi sejak Agustus 2025 merupakan bentuk geografis dan sosial dari ketidakpuasan publik terhadap elit politik. 


Fenomena ini bukan sekadar insiden tunggal, melainkan refleksi dari krisis legitimasi negara, yang terjadi saat rakyat merasa aspirasi mereka diabaikan dan nyawa mereka dicabut secara brutal oleh institusi yang seharusnya melindungi.



Pendahuluan


Awal pemicu adalah tunjangan legislator hampir 50 juta rupiah per bulan, jauh di atas upah minimum. 


Ketidakadilan finansial ini membakar kemarahan publik, diperparah dengan kasus tewasnya Affan Kurniawan—driver ojol yang menjadi korban “kekerasan negara”.



Metodologi


1. Analisis data media arus utama (Reuters, FT, AP, dll.) dari 25–30 Agustus 2025.


2. Kerangka Teoria Konflik Sosial—mekar ketika legitimasi negara dipertanyakan oleh rakyat.


3. Aspek Etika & Spiritual: analisis dimensi HAM vs. nilai-nilai keadilan sosial dalam kebudayaan lokal.



Teori Kunci


Legitimasi Negara


Max Weber menyatakan legitimasi bergantung atas kesesuaian antara tindakan negara dan ekspektasi masyarakat. 


Di sini, beleid elit yang tidak adil dan tindakan represif terhadap warga kecil memperlemah legitimasi itu.


Kerusuhan sebagai Respons Radikal


Ketika dialog tertutup, tuntutan tertuang lewat demonstrasi. Respons keras aparat (gas air mata, water cannon, hingga kekerasan mematikan) memperkuat radikalisasi massa.


Ketidakadilan Sosial sebagai Pemantik


Saat rakyat menyaksikan elit-lah yang menikmati kesejahteraan, sementara mereka berjuang, kemarahan itu menjadi “semangat kolektif”.



Unjuk rasa ini adalah krisis multidimensional:

Krisis ekonomi (inflasi, pengangguran)

Krisis moral (elisitas politik, diskriminasi struktural)

Krisis legitimasi negara


Kematian Affan Kurniawan menjadi simbol sekaligus katalis, yang membuktikan bahwa ketika keadilan tidak ditegakkan secara manusiawi, apapun bisa terjadi—including runtuhnya kepercayaan rakyat dan munculnya protes yang tidak terkendali.







Referensi 

Associated Press. (2025, August 30). Tensions soar in Indonesia as protests over police brutality and lawmakers’ allowances continue. AP News. https://apnews.com/article/2b4ad65b836a3b38b6a037b2f45cb309

Financial Times. (2025, August 30). Indonesia’s president calls for calm as protests mount. Financial Times. https://www.ft.com/content/895845db-a786-4e1c-9fd5-ed194ef833af

Reuters. (2025, August 28). Indonesia protests flare after death of motorcycle taxi driver in police crackdown. Reuters. https://www.reuters.com

Weber, M. (1978). Economy and society: An outline of interpretive sociology (G. Roth & C. Wittich, Eds.). University of California Press. (Original work published 1922)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Isu Pangkalan Militer Rusia: Diplomasi Dua Wajah dalam Politik Global

Penahanan Global Sumud Flotilla & Penjara Ketziot: Kondisi, Pelanggaran, dan Tantangan atas Kemanusiaan