Kekerasan, Media & Motif Politik: Kasus Gaza–Israel 2025
![]() |
| Ilustrasi jurnalis menjadi incaran di medan pertempuran (Pic: Meta AI) |
Penargetan media dan narasi mengindikasikan kegelisahan Israel atas kebenaran bebas yang muncul ke publik
Tulisan ini mengkaji tiga dimensi utama:
1. Pola kekerasan terhadap wanita, anak-anak, dan jurnalis di Gaza.
2. Strategi pembungkam media dan penargetan jurnalis oleh Israel.
3. Motif politik di balik rencana aneksasi dan stabilisasi kendali atas Gaza.
Hasil menunjukkan bahwa kekerasan ini mengindikasikan niat untuk membungkam pengamatan independen dan memperkuat narasi Israel dengan cara kontroversial.
Kekerasan terhadap Sipil & Jurnalis
Konflik di Gaza merupakan salah satu zona paling mematikan bagi pekerja media: lebih dari 200 jurnalis dan pekerja media tewas sejak Oktober 2023.
Banyak yang tewas saat sedang menjalankan tugas jurnalistik, termasuk di rumah, kamp pengungsi, atau saat liputan (RSF, CPJ).
Serangan terhadap keluarga jurnalis, seperti pada kasus Adel Zorob dan Mohammed Abu Hatab, menunjukkan bahwa jurnalis yang kritis—apalagi ketika menjangkau isu anak, ibu, atau warga rentan—rentan menjadi sasaran.
Penargetan Media & Hapus Narasi
Jurnalis Al Jazeera, seperti Hossam Shabat, Anas al-Sharif, Ismail al-Ghoul, ditewaskan meskipun klaim keterlibatan atau afiliasi dengan Hamas oleh IDF seringkali tidak memiliki bukti kuat.
LSM seperti RSF mengecam ini sebagai pola berbahaya untuk membungkam kritik.
Laporan RSF menyebut Israel melakukan “media blackout”, menghancurkan infrastruktur media, menarget wartawan saat peliputan—yang dianggap untuk menekan laporan independen dan mengendalikan narasi perang.
Aneksasi Gaza: Motif & Risiko
Israel baru-baru ini menyetujui rencana militer merebut kontrol atas Gaza City dan memperluas operasi, dengan dalih melawan Hamas dan menciptakan “zona aman”.
Namun rencana ini menuai kecaman internasional atas potensi pelanggaran hukum humaniter.
Analisis kritis dari New York Magazine menyoroti bahwa tujuan aneksasi bukan hanya menghancurkan Hamas, tapi juga melanggengkan kontrol Israel—yang bisa berarti bentuk baru pendudukan dan pembersihan demografis.
Pola kekerasan terhadap warga sipil dan jurnalis di Gaza bukan hanya menginjak-injak nilai kemanusiaan—tetapi juga instrumen kontrol informasi.
Penargetan media dan narasi mengindikasikan kegelisahan Israel atas kebenaran bebas yang muncul ke publik.
Upaya untuk menguasai politik, ruang, dan informasi di Gaza menunjukkan konflik bukan sekadar militer, tapi juga perang narasi dan identitas.
Referensi
- Associated Press. (2025, August 8). Israel plans to take over Gaza City as it intensifies war with Hamas. AP News.
- Associated Press. (2025, August 8). The latest: Israel plans to take control of Gaza City, drawing international condemnation. AP News.
- Politico. (2025, August 9). Israel faces growing global condemnation over military expansion in Gaza.
- GuárdiaN. (2025, August 11). Sultany, N. Netanyahu’s Gaza City outrage fulfils his messianic fantasy of a Greater Israel. The Guardian.
- Reuters. (2025, August 10). Israel faces growing calls to scrap new Gaza offensive plans.
- Wikipedia contributors. (n.d.). Options for a policy regarding Gaza’s civilian population. Wikipedia.

Komentar
Posting Komentar