Analisis Klaim “Dokumen Epstein” yang Menyebut Indonesia dan Prabowo 902 Kali: Disinformasi Transnasional dan Politik Nama Besar
![]() |
| Ilustrasi Epstein (Pic: Grok AI) |
Ini lebih tepat dikategorikan sebagai rumor digital, narasi politis oportunistik atau disinformasi transnasional
Klaim bahwa dokumen terkait Jeffrey Epstein menyebut Indonesia dan seorang pejabat tinggi Indonesia hingga 902 kali merupakan contoh tipikal disinformasi berbasis angka sensasional.
Tulisan ini menganalisis dinamika produksi rumor politik transnasional, karakter dokumen Epstein yang sebenarnya tersedia publik, serta mekanisme amplifikasi digital.
Temuan menunjukkan tidak ada bukti kredibel yang mendukung klaim tersebut dalam arsip pengadilan yang telah dipublikasikan.
Pendahuluan
Kasus Epstein memang melibatkan ribuan halaman dokumen pengadilan, daftar kontak, dan kesaksian. Namun penting dibedakan antara:
• dokumen pengadilan resmi (court filings)
• daftar kontak lama
• narasi konspiratif internet
Setiap kali dokumen dirilis, internet cenderung melakukan:
1. pencarian nama besar
2. pencarian negara tertentu
3. penyusunan narasi politik baru
Klaim “902 kali” masuk kategori statistik dramatis yang memancing emosi.
Metodologi
Analisis dilakukan melalui:
• penelusuran arsip pengadilan federal AS yang dipublikasikan
• pemeriksaan rilis resmi terkait dokumen Epstein
• evaluasi laporan media arus utama internasional
• kajian teori disinformasi digital
Hasil Analisis
1. Tidak ada bukti publik kredibel
Dalam dokumen Epstein yang dirilis publik hingga kini:
• tidak ada laporan resmi bahwa Indonesia disebut ratusan kali
• tidak ada laporan kredibel bahwa Prabowo disebut ratusan kali
• media internasional besar tidak memuat klaim tersebut
Jika benar disebut 902 kali, itu akan menjadi headline global, bukan hanya rumor regional.
2. Pola “angka hiperbolik”
Dalam studi disinformasi, angka spesifik dan besar seperti “902” sering digunakan untuk:
• memberi kesan riset mendalam
• menciptakan urgensi
• memicu kemarahan politik
Padahal angka itu jarang disertai sumber dokumen terverifikasi.
3. Mekanisme Viral
Biasanya pola viralnya begini:
• satu akun anonim mengklaim menemukan sesuatu
• disebarkan ulang tanpa tautan dokumen
• dikaitkan dengan dinamika politik domestik
Lalu orang menganggapnya “dokumen rahasia”.
Diskusi
Epstein adalah figur yang memang dikelilingi jaringan elite global. Banyak nama muncul dalam daftar kontaknya. Namun: Muncul dalam daftar kontak bukan berarti terlibat kejahatan.
Dan dalam kasus klaim 902 kali, bahkan kemunculan itu sendiri tidak terbukti.
Ini menunjukkan fenomena yang disebut: reputational contamination through associative rumor
Nama seseorang dikaitkan dengan skandal global untuk efek politik domestik.
Klaim bahwa dokumen Epstein menyebut Indonesia dan Prabowo 902 kali tidak memiliki dasar bukti dalam arsip publik yang tersedia saat ini.
Secara akademik, ini lebih tepat dikategorikan sebagai:
• rumor digital
• narasi politis oportunistik
• atau disinformasi transnasional
Bukan temuan hukum.
Referensi
United States District Court for the Southern District of New York. (2024). In re: Epstein-related document releases.
BBC News. (2024). What the Epstein court documents actually show.
The Guardian. (2024). Epstein files: What was released and what it means.
Vosoughi, S., Roy, D., & Aral, S. (2018). The spread of true and false news online. Science, 359(6380), 1146–1151.

Komentar
Posting Komentar