Serangan Israel ke Qatar: Peleburan Keseimbangan Internasional di Tengah Kepedean Zionis dan Ketakutan

Ilustrasi serangan Israel ke Qatar (Pic: Meta AI)


Israel kini menghadapi paradoks: semakin ngotot dengan operasi militer, justru bikin dia makin lonely planet di panggung politik global


Israel melancarkan serangan udara terhadap markas Hamas di Doha, Qatar—yang bahkan tengah menjadi tuan rumah negosiasi. 


Serangan ini mengundang kecaman global luas dari Rusia, Inggris, India, dan banyak negara lain. 


Namun faktanya, Israel justru terlihat semakin percaya diri dan agresif, sementara perannya terus mendominasi meski melanggar hukum internasional. 


Siapa yang gila di sini—Zionis-nya, atau logikanya yang penuh paranoia terhadap Hamas?



Pendahuluan


Langkah Israel menargetkan Hamas di Qatar bukan hanya soal keamanan, tetapi juga soal pesan geopolitik—bahwa tidak ada tempat aman bagi musuh Israel. 


Namun ketika hingga negara mediator disasar, muncul pertanyaan besar: apakah Israel sedang paranoid atau mulai kehilangan arah moral?



Metodologi


Analisis kebijakan dari pernyataan pemimpin global (Rusia, Inggris, India, Qatar).


Teori Internasional: kedaulatan vs keamanan nasional, respon dunia, dan dampak terhadap diplomasi.


Kajian Psikologis Politik: kegilaan kekuasaan? atau kepercayaan diri terlampau tinggi?



Kajian Teoritis


Kedaulatan Nasional: Qatar disebut sebagai negara pelindung HAMAS dan mediator resmi. Serangan ini dipandang sebagai pelanggaran kedaulatan negara berdaulat.


Rasional Keamanan vs Hukum Internasional: Israel membungkus tindakan agresifnya sebagai langkah anti-teror, meski secara normatif itu melanggar Piagam PBB.


Paranoia vs Kepedean Bertingkat: Ketakutan Israel terhadap Hamas bisa menciptakan semacam paranoia, tapi sekaligus muncul “kepercayaan diri” lolos dari sanksi serius.



Analisis


Reaksi Global: Rusia menyebutnya “gross violation”, PM Inggris menyatakan serangan “completely unacceptable”, India mendesak dialog, dan Qatar janji balas secara kolektif.  


Strategi Israel: Netanyahu menyatakan bertanggung jawab penuh dan menyorot Hamas sebagai ancaman yang tak boleh diabaikan.  


Isolasi Diplomatik: Serangan ini mencoreng klaim Israel sebagai demokrasi regional dan justifikasi keamanan. Solidaritas Qatar dan negara-negara lain semakin membentuk blok nyata yang kritik langsung Zionis.  



Israel kini menghadapi paradoks: semakin ngotot dengan operasi militer, justru bikin dia makin lonely planetdi panggung politik global. 


Soal “melewati batas” memang iya—apalagi soal moral dan hukum internasional. Ini bukan hanya soal Zionis-nya yang “somse” (sombong setengah mati), tapi sebuah gambaran bahwa logika dominasi bisa berubah jadi paranoia ketika dunia mulai berbalik menjauh.








Referensi

1. Reuters. (10 September 2025). Russia condemns Israeli strike on Qatar as ‘gross violation’ of UN charter.

https://www.reuters.com/world/middle-east/russia-condemns-israeli-strike-qatar-gross-violation-un-charter-2025-09-10

2. The Times. (10 September 2025). Starmer tells Israeli president Qatar strikes were ‘unacceptable’.

https://www.thetimes.co.uk/article/keir-starmer-israel-qatar-strike-president-isaac-herzog-kltvg9dz8

3. New York Post. (10 September 2025). Qatar calls for retaliation against Israel ‘from the whole region’ after strike on Hamas leaders.

https://nypost.com/2025/09/10/world-news/qatar-vows-retaliation-against-israel-after-strike-on-hamas-leaders

4. The Guardian. (10 September 2025). Israeli airstrikes ‘killed any hope’ for hostages in Gaza, says Qatari prime minister.

https://www.theguardian.com/world/2025/sep/10/israel-threats-outrage-qatar-strike-hamas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Penahanan Global Sumud Flotilla & Penjara Ketziot: Kondisi, Pelanggaran, dan Tantangan atas Kemanusiaan

Mengapa Israel Tetap Mengintersepsi Flotilla Meski Prosedur Kemanusiaan Sudah Dipatuhi?