Puisi Akaha Taufan Aminudin: JEJAK ARANG & GEDUNG DPRD 70 MILIAR

  


Puisi Akaha Taufan Aminudin


*JEJAK ARANG & GEDUNG DPRD 70 MILIAR*


(Puisi untuk Wakil Rakyat)


Di dinding kota

asap menempel jadi arang,

bekas perlawanan buruh

dan doa mahasiswa yang pecah di jalan.


Namun di balik pagar megah

gedung 70 miliar berdiri congkak,

lampunya menyala sepanjang malam

sementara kampung-kampung padam

oleh tagihan listrik yang mencekik.


Jejak arang itu tak hilang,

ia menempel di langit,

ia menghitamkan jendela kaca gedung rapat

tempat janji dijual,

tempat tawa riang diperdagangkan

dengan harga subsidi yang dipangkas.


Wahai wakil rakyat—

dengar!

Jejak arang ini adalah suara

yang tak bisa kalian sapu dengan karpet merah,

tak bisa kalian sembunyikan

di balik laporan pembangunan.


Sebab arang adalah saksi:

tangan rakyat terbakar,

punggung petani hangus,

perut anak-anak perih oleh lapar—

sementara kursi empuk DPRD

dibayar tujuh puluh miliar.


Jejak arang terus menulis

di udara yang kalian hirup:

“Keadilan bukan pesta,

keadilan adalah api kecil

yang harus kalian jaga

agar tidak padam

di tengah malam rakyat.”


Di dinding kota

asap menempel jadi arang,

bekas perlawanan buruh

dan doa mahasiswa yang pecah di jalan.


Namun di balik pagar megah

gedung 70 miliar berdiri congkak,

lampunya menyala sepanjang malam

sementara kampung-kampung padam

oleh tagihan listrik yang mencekik.


Jejak arang itu tak hilang,

ia menempel di langit,

ia menghitamkan jendela kaca gedung rapat

tempat janji dijual,

tempat tawa riang diperdagangkan

dengan harga subsidi yang dipangkas.


Wahai wakil rakyat—

dengar!

Jejak arang ini adalah suara

yang tak bisa kalian sapu dengan karpet merah,

tak bisa kalian sembunyikan

di balik laporan pembangunan.


Sebab arang adalah saksi:

tangan rakyat terbakar,

punggung petani hangus,

perut anak-anak perih oleh lapar—

sementara kursi empuk DPRD

dibayar tujuh puluh miliar.


Jejak arang terus menulis

di udara yang kalian hirup:


“Keadilan bukan pesta,

keadilan adalah api kecil

yang harus kalian jaga

agar tidak padam

di tengah malam rakyat.”


Senin Pahing 22 September 2025

Akaha Taufan Aminudin 

https://youtu.be/LYkQPzvkHT0?si=TSlKijcMvxS6jihL

Sisir Gemilang Kampung Baru Literasi SIKAB Himpunan Penulis Pengarang Penyair Nusantara HP3N Kota Batu Wisata Sastra Budaya SATUPENA JAWA TIMUR

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Penahanan Global Sumud Flotilla & Penjara Ketziot: Kondisi, Pelanggaran, dan Tantangan atas Kemanusiaan

Isu Pangkalan Militer Rusia: Diplomasi Dua Wajah dalam Politik Global