Sejarah Perjanjian Abraham Accords: Damai yang Membungkam Palestina

Ilustrasi Abraham Accord (Pic: Meta AI)
Meskipun diklaim sebagai langkah menuju perdamaian, tapi menyimpan agenda tersembunyi yang lebih mengedepankan kepentingan geopolitik dan ekonomi pihak-pihak tertentu, dengan mengabaikan perjuangan rakyat Palestina
Abraham Accords, ditandatangani pada September 2020, merupakan perjanjian normalisasi hubungan diplomatik antara Israel dan beberapa negara Arab, termasuk Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Sudan, dan Maroko.
Meskipun diklaim sebagai langkah menuju perdamaian di Timur Tengah, perjanjian ini menuai kritik karena dianggap mengabaikan perjuangan rakyat Palestina dan lebih mengedepankan kepentingan geopolitik serta ekonomi pihak-pihak tertentu.
Tujuan Tersembunyi dan Dampaknya
1. Mengabaikan Isu Palestina
Salah satu kritik utama terhadap Abraham Accords adalah pengabaian terhadap isu Palestina.
Perjanjian ini tidak mencantumkan solusi konkret bagi konflik Israel-Palestina, sehingga dianggap melemahkan posisi tawar Palestina dalam perjuangan mereka untuk merdeka.
Sebagaimana dikemukakan oleh Foreign Affairs, perjanjian ini “menghapus salah satu sumber tekanan terhadap Israel untuk mengakhiri pendudukannya atas wilayah Palestina” .
2. Keuntungan Ekonomi dan Militer bagi Israel dan AS
Abraham Accords membuka peluang besar bagi Israel dalam sektor ekonomi dan militer.
Menurut Arab Center Washington DC, perjanjian ini memfasilitasi penjualan senjata antara negara-negara penandatangan, dengan industri pertahanan Israel menjadi salah satu penerima manfaat utama.
Selain itu, AS juga mendapatkan keuntungan melalui penjualan senjata dan peningkatan pengaruh geopolitiknya di kawasan.
3. Pengaruh Geopolitik dan Aliansi Melawan Iran
Perjanjian ini juga dianggap sebagai strategi untuk membentuk aliansi melawan Iran. Dengan menggabungkan kekuatan Israel dan negara-negara Teluk, AS berupaya membendung pengaruh Iran di Timur Tengah.
Carnegie Endowment menyebutkan bahwa tujuan utama dari perjanjian ini adalah untuk mengurangi ketegangan di Timur Tengah melalui normalisasi hubungan antara Israel dan negara-negara Arab moderat, dengan pandangan bersama bahwa Iran merupakan ancaman strategis .
Kritik dan Kontroversi
1. Reaksi Negatif dari Masyarakat Arab
Meskipun pemerintah negara-negara Arab menandatangani perjanjian ini, banyak masyarakat di negara-negara tersebut yang menentangnya.
Al Jazeera melaporkan bahwa perjanjian ini gagal dalam mempromosikan perdamaian di Timur Tengah dan mengekang kebijakan ekspansionis Israel di Palestina .
2. Potensi Destabilisasi Kawasan
Beberapa analis berpendapat bahwa Abraham Accords dapat memicu ketegangan baru di kawasan, terutama jika dianggap sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan Palestina.
Foreign Policy menyatakan bahwa memisahkan pengakuan terhadap Israel dari pertanyaan Palestina telah memicu tindakan ekstrem dari pihak-pihak yang merasa diabaikan .
Abraham Accords, meskipun diklaim sebagai langkah menuju perdamaian, menyimpan agenda tersembunyi yang lebih mengedepankan kepentingan geopolitik dan ekonomi pihak-pihak tertentu, sambil mengabaikan perjuangan rakyat Palestina.
Perjanjian ini menunjukkan bagaimana diplomasi dapat digunakan untuk membungkam suara-suara yang menuntut keadilan, dan penting bagi komunitas internasional untuk tetap kritis terhadap narasi yang disampaikan.
Referensi
• Arab Center Washington DC. “Assessing the Abraham Accords, Three Years On.”
• Carnegie Endowment. “The Abraham Accords After Gaza: A Change of Context.”
• Foreign Affairs. “The Fallacy of the Abraham Accords.”
• Foreign Policy. “Two Years Later, the Abraham Accords Are Losing Their Luster.”
• Al Jazeera. “The Utter Failure of the Abraham Accords.”
Komentar
Posting Komentar