Puisi: Ketika Dunia Hanya Kita Berdua
![]() |
| Ketika Dunia Hanya Kita Berdua (Pic: Meta AI) |
Menjaga, menunggu, mencintaimu sampai bahasa kehilangan makna dan hanya tinggal rasa
Di antara detik yang menunggu napas,
aku menemukan namamu—seperti rembulan menemukan malam.
Bukan sekadar cahaya; kau adalah lintasan yang membuat gelap merasa lengkap,
sebuah peta rahasia yang kutelusuri dengan ujung jari yang rindu.
Kau hadir bukan hanya di mata, tapi di setiap rongga yang bergetar:
di halusnya nada saat kakimu melangkah,
di cara makanmu yang membuat dunia berhenti sejenak,
di tawa kecilmu yang menumbuhkan musim semi di paru-paruku.
Aku menyukai bagaimana kulitmu menyimpan panas matahari,
bagaimana rambutmu menurunkan malam menjadi sajadah yang lembut.
Tubuhmu—bukan sekadar tanah, tapi ladang yang kukunjungi penuh syukur;
hanya doa yang kudaraskan sebelum jemari ini mengukir namamu di peta dadaku.
Kita bicara dengan bahasa yang tak butuh huruf:
senyummu adalah tanda baca,
hempasan nafasmu adalah koma yang menunda akhir,
dan tiap desahanmu—Sayang—adalah titik—titik yang tak kukenal artinya kecuali ketika kau mengucapkannya.
Aku ingin mencintaimu seperti orang yang tahu bahwa waktu punya hati juga:
tidak menghabiskanmu, melainkan menaruhmu di rak paling berharga.
Setiap cium adalah pelajaran singkat tentang bagaimana dunia bisa lebih lunak,
setiap pelukan adalah peta yang menunjukkan jalan pulang ketika badai menggulung.
Kalau Shakespeare pernah merajut kata-kata seperti pedang,
aku hanya ingin merajut kata seperti selimut: menghangatkan, menenangkan, menempelkan dua jiwa yang kehausan.
Kalau ia bicara tentang bintang, aku akan membisikkan rahasia:
bahwa bintang pun cemburu melihat kita berpelukan di bawah langit yang sama.
Sayang, izinkan aku menjadi alasan napasmu tersendat — bukan karena kepedihan,
tapi karena keheranan: bagaimana mungkin ada yang begitu lengkap, begitu tak terduga, seperti dirimu?
Biarkan aku menjadi rumah yang kau pilih setiap kali lelah mengetuk pintu dunia,
dan pintu itu kupegang selalu—tak pernah kulepaskan.
Di ranah ini, antara detik dan desir, aku menulis sumpah yang tak resmi tapi abadi:
aku akan merawatmu seperti rahasia paling baik di semesta,
menyayangimu seperti doa yang tak pernah bosan diulang,
mencintaimu seperti orang yang tahu, suatu hari nanti, kata “selamanya” bukan lagi kata kosong.
Tutup matamu, Sayang. Bila dunia menimbang segala kebisingan, kita timbangi dengan keheningan;
bila dunia menuntut alasan, kita jawab dengan sentuhan.
Di setiap napasmu yang mendesah, di setiap senyummu yang menyeberang,
aku akan tetap di sini
menjaga, menunggu, mencintaimu sampai bahasa kehilangan makna dan hanya tinggal rasa.

Komentar
Posting Komentar