Jendela Petualangan dari Ruang Baca
Oleh: Arief Rahzen
Di suatu siang yang terik pada pertengahan era 1990-an, di sebuah perpustakaan daerah di Sumbawa Besar yang hening, udara terasa gerah dan pekat oleh aroma khas paduan buku baru dan kertas-kertas tua.
Bagi seorang remaja seperti saya, tempat itu adalah surga sekaligus penjara. Surga karena di sanalah satu-satunya akses meninjau dunia lain, dan penjara karena koleksinya yang terbatas.
Rak-raknya dipenuhi buku-buku yang seragam: Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap (RPUL), deretan kamus, atlas, dan beberapa novel terjemahan populer seperti Lima Sekawan atau Goosebumps. Di tengah lanskap literasi yang terbatas itulah, mata saya tertumbuk pada sebuah sampul buku berseri yang berbeda. Itulah perkenalan pertama saya dengan jagat petualangan yang diciptakan oleh Dwianto Setyawan. Sebelumnya, saya lebih mengenal Wiro Sableng, Dewa Arak, dan Pendekar Pulau Neraka.
Menemukan karyanya di perpustakaan daerah Sumbawa saat itu terasa seperti menemukan sebuah oase di kerumunan bebatuan. Secara nasional, era 80-an hingga 90-an mungkin disebut sebagai "masa keemasan" sastra anak Indonesia, tetapi kemeriahan itu terasa jauh, gaungnya nyaris tak terdengar hingga ke pelosok timur Indonesia.
Distribusi buku yang tidak merata membuat kami, kadang disebut anak daerah, lebih akrab dengan buku pelajaran daripada karya-karya fiksi lokal. Dalam kondisi seperti itu, buku-buku Dwianto Setyawan bukan sekadar bacaan; ia adalah sebuah anugerah.
Ia menawarkan petualangan yang akarnya menancap kuat pada tanah air sendiri, sebuah narasi yang terasa dekat dan relevan.
Keterbatasan akses itu malah menempa pengalaman membaca menjadi sesuatu yang berharga dan menarik. Setiap buku yang ditemui menjadi mercusuar imajinasi, membuka jendela ke dunia baru.
Dwianto Setyawan adalah seorang maestro pencerita. Dengan lebih dari 60 judul yang telah ditulisnya, ia membuktikan dirinya sebagai penulis yang produktif dan memahami denyut nadi pembaca muda.
Serial-serial legendaris seperti Sersan Grung Grung, Kelompok 2 & 1, dan yang paling membekas, Seri Sandi, adalah gerbang menuju petualangan baru. Gaya penulisannya memiliki daya pikat tersendiri. Ia mampu meramu misteri, petualangan, dan fakta sejarah serta budaya Indonesia menjadi sebuah jalinan cerita yang utuh dan mengalir, tanpa terasa menggurui.
Petualangannya bukan sekadar fantasi pelarian. Dalam Seri Sandi, para tokohnya tak hanya sibuk memecahkan misteri pencurian artefak, tetapi dibawa juga menyusuri renik-renik sejarah. Pembaca diajak membayangkan Bromo untuk mengenal adat Tengger; pembaca dibawa ke Trowulan untuk mengetahui jejak kebesaran Majapahit. Kita juga diajak menyusuri Mahakam untuk memahami perjalanan Kerajaan Kutai.
Cara ini mengubah novel-novelnya menjadi sebuah perjalanan budaya yang edukatif nan menarik. Sejarah tidak lagi menjadi hafalan yang membosankan di buku pelajaran, melainkan menjadi hidup dan relevan dalam sebuah misteri yang mendebarkan.
Selain penulis, Dwianto Setyawan juga seorang "pembangun karakter". Ia secara sadar membentuk fondasi moral dan intelektual para pembacanya. Ia memilih tokoh protagonis berusia sekitar 12 tahun, karena pada usia ini memasuki Periode Robinson Crusoe, fase dimana rasa ingin tahu, hasrat menyelidiki, dan jiwa petualang sedang memuncak. Dengan tokoh-tokoh yang cerdas, mandiri, dan cerdik, ia menanamkan keyakinan bahwa anak-anak pun mampu berpikir kritis dan menuntaskan masalah.
Melalui narasi-narasinya, Dwianto Setyawan juga menanamkan pesan moral yang progresif. Ia menyajikan konsep gender yang fleksibel, di mana perempuan dan laki-laki memiliki peran yang setara dalam petualangan. Ia mengajarkan untuk tidak menilai orang dari penampilan luarnya dan, pembaca muda didorong berani mempertanyakan otoritas orang dewasa yang keliru.
Tidak ada dunia hitam-putih, melainkan pembaca muda diajak mengembangkan pandangan dunia yang lebih bernuansa, kritis, dan adil.
Kini, puluhan tahun telah berlalu sejak pertemuan pertama saya dengan karyanya di perpustakaan Sumbawa. Dunia telah berubah. Lanskap media didominasi oleh layar digital yang riuh, menawarkan hiburan instan.
Namun, warisan Dwianto Setyawan menolak pudar. Fakta bahwa karya-karyanya terus beredar: di Palasari Bandung karyanya masih beredar, begitu juga di toko buku Jogja.
Narasinya memiliki nilai budaya yang membuatnya tetap relevan melintasi zaman.
Dwianto Setyawan lebih dari sekadar penulis cerita anak. Ia pembentuk imajinasi sebuah generasi.
Bagi anak-anak yang tumbuh di daerah dengan akses terbatas, bagi remaja yang tinggal di pelosok negeri, ia adalah pahlawan yang membukakan pintu menuju dunia petualangan.
Warisannya bukanlah sekadar himpunan buku, juga pengaruh hidup yang terus membentuk cara memandang dunia. Oleh sebab itu, jadi tugas kita selanjutnya untuk terus memastikan generasi mendatang berkesempatan untuk memulai petualangan mendebarkannya sendiri.
17 Agustus 2025
Arief Rahzen, pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital.
Sesekali menulis esai, belajar bercerita, kurasi aktivitas budaya, berdiskusi, dan mengelola media daring.
Saat ini bolakbalik di Sumbawa Besar, Gianyar, Mataram, dan Jakarta. Surel: dewa01api@gmail.com. FB:@AriefRahzen Kontak: 0818421298

Komentar
Posting Komentar