Edukasi Pemeliharaan Hewan Kecil pada “Hape World Pet Festival 2025” di Banjarmasin — Perspektif Partisipasi Bersama
![]() |
| Dr. Nando di Hape World Pet Festifal 2025 (Pic: koleksi pribadi) |
Kehadiran dokter hewan profesional pada Hape World Pet Festival 2025 di Banjarmasin menjadi faktor kunci meningkatnya antusiasme dan kualitas edukasi
Artikel ini membahas pengalaman langsung menghadiri Hape World Pet Festival 2025 di Banjarmasin, sebuah ajang edukasi dan interaksi pecinta hewan kecil serta reptil.
Penulis hadir bersama hewan peliharaan kucing BotBot untuk mengobservasi dampak kehadiran dokter hewan (Dr. Nando) terhadap antusiasme masyarakat.
Festival ini berfungsi sebagai sarana transfer ilmu, penguatan etika pemeliharaan hewan, dan peningkatan kualitas kesehatan hewan peliharaan.
Analisis menggunakan pendekatan observasi partisipatif dengan fokus pada dinamika interaksi antara pemilik hewan, komunitas, dan tenaga profesional.
Pendahuluan
Indonesia mengalami pertumbuhan signifikan dalam jumlah pemelihara hewan kecil dan eksotik. Namun, literasi pemeliharaan hewan yang baik masih terbatas.
Hape World Pet Festival pertama kali digelar pada 2020 tanpa keterlibatan dokter hewan, sehingga edukasi berjalan terbatas.
Pada 2025, festival ini menghadirkan dokter hewan profesional, Dr. Nando, yang memberikan edukasi intensif, vaksinasi, serta konsultasi spesifik untuk hewan kecil dan reptil.
![]() |
| Dr. Nando (Pic: koleksi pribadi) |
Pengalaman penulis bersama BotBot menggarisbawahi pentingnya penyelenggaraan festival semacam ini dalam mendukung kesejahteraan hewan dan edukasi pemiliknya.
Metodologi
Penelitian ini berbasis pada observasi partisipatif. Penulis menghadiri acara di Banjarmasin tanggal 2–7 September 2025, pukul 10.00–22.00 WIB, dengan Dr. Nando hadir sejak pukul 19.00.
Data dikumpulkan melalui:
• Pengamatan interaksi pengunjung dengan Dr. Nando dan timnya.
• Wawancara informal dengan komunitas pecinta reptil, hamster, iguana, aquascape, serta Yayasan Cinta Satwa Borneo.
![]() |
| Dr. Nando dan pecinta reptil (Pic: koleksi pribadi) |
• Dokumentasi suasana festival, termasuk perilaku hewan saat ditangani.
![]() |
| Dr. Nando bersama pemilik hewan dan pasien (Pic: koleksi pribadi) |
Kajian Teoritik
Literatur mengenai public veterinary outreach menunjukkan bahwa edukasi tatap muka oleh profesional meningkatkan kepatuhan vaksinasi, perawatan preventif, dan perilaku ramah hewan (OIE, 2021; FAO, 2023).
Konsep One Health menekankan keterhubungan kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan.
Festival semacam ini menjadi living lab bagi penerapan konsep tersebut, khususnya pada hewan kecil dan reptil yang kerap terabaikan di layanan veteriner formal.
Analisis
Hasil observasi menunjukkan:
• Antusiasme meningkat signifikan dibanding penyelenggaraan tahun 2020. Hadirnya Dr. Nando, dokter hewan yang ramah, telaten, dan penuh senyum, menciptakan suasana nyaman bagi pemilik dan hewan.
• Transfer ilmu berjalan efektif: pemilik hewan memperoleh edukasi tentang vaksinasi, nutrisi, dan manajemen stres hewan kecil/reptil.
• Kesejahteraan hewan meningkat: kucing, anjing, reptil, dan hamster tampak lebih relaks ketika ditangani.
• Sinergi komunitas: keberadaan Yayasan Cinta Satwa Borneo, komunitas aquascape, serta pecinta reptil memperkuat jaringan pengetahuan lokal.
• Partisipasi emosional: BotBot ikut santai di pelukan Dr. Nando; pengalaman ini memperkuat kesadaran tentang pentingnya tenaga profesional dalam pemeliharaan hewan.
Kehadiran dokter hewan profesional pada Hape World Pet Festival 2025 di Banjarmasin menjadi faktor kunci meningkatnya antusiasme dan kualitas edukasi.
Festival ini menggabungkan unsur hiburan dan pembelajaran, sehingga masyarakat bukan hanya “melihat pameran” tetapi juga memperoleh ilmu praktis.
Pengalaman partisipatif penulis bersama BotBot menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas, ditopang profesional veteriner, efektif meningkatkan kesejahteraan hewan dan kesadaran pemiliknya.
Referensi
• Food and Agriculture Organization (FAO). (2023). One Health and animal welfare: Integrating veterinary services with community engagement. Rome: FAO.
• OIE – World Organisation for Animal Health. (2021). Veterinary services outreach and public education.Paris: OIE Publications.
• Yayasan Cinta Satwa Borneo. (2025). Program edukasi hewan kecil di Kalimantan. Banjarmasin: Internal report.




Komentar
Posting Komentar