Maulid Nabi Muhammad SAW — Refleksi, Rahmat, dan Identitas Umat Islam

 

Ilustrasi keindahan masjid (Pic: Meta AI)


Meski beragam pandangan ulama menyertainya, penting untuk memahami makna Maulid sebagai momentum refleksi spiritual dan solidaritas sosial, tidak semata ritualis


Maulid Nabi adalah peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dirayakan setiap tahun oleh mayoritas komunitas Muslim, jatuh pada tanggal 12 Rabi’ al-Awwal — kali ini bertepatan dengan 5 September 2025. 


Peringatan ini memiliki makna spiritual, historis, dan sosial yang mendalam, sekaligus menjadi momen penguatan identitas Muslim di era global. 


Tulisan ini membahas asal-usulkontroversi teologis, dan peran sosial-kultural Maulid dalam kehidupan Muslim di Indonesia dan sekitarnya.



Pendahuluan


Maulid Nabi bukan cuma hari raya, tapi momen refleksi cinta, teladan, sekaligus mengevaluasi jejak perjuangan Rasulullah SAW. 


Untuk masyarakat yang luas, termasuk Indonesia, Maulid telah menjadi ruang pendidikan spiritual dan simbol kebersamaan.



Tujuan Penelitian


Mengidentifikasi asal-usul dan sejarah perkembangan perayaan Maulid.


Menelaah pendapat ulama antara mendukung dan menolak.


Mengeksplorasi fungsi sosial-kultural perayaan Maulid dalam masyarakat modern, khususnya Indonesia.



Metodologi


Kajian dilakukan melalui metode literatur-research akademik: hasil saksi sejarah (open edition), jurnal sosial-akademik Indonesia, serta referensi kontemporer seputar pelaksanaan Maulid dan pandangan ulama.



Kajian Teoritis & Hasil


a) Sejarah dan Perkembangan Maulid

Maulid mulai dirayakan secara formal pada abad ke-12, seperti oleh Gökböri di Irbil, dan dilanjutkan oleh pemerintahan Fatimid dan Ottoman   .

Pada 2025, mayoritas negara Muslim merayakan Maulid mulai sore 4 September hingga 5 September.


b) Kontroversi Teologis: Bid‘a vs Ekspresi Cinta

Pendukung: ulama seperti Ibn Hajar al-Asqalani dan syafi’iyah ulama menyatakan sah, selama tidak menyimpang dari syariat—dengan fokus pada muhasabah, salawat, amal saleh, dzikir, dan communal sharing.

Penentang: kalangan Salafi dan Deobandi melihat Maulid sebagai inovasi teologis (bid‘a) tanpa pijakan dalam sejarah Salaf.


c) Dimensi Sosial Budaya di Indonesia

Studi di pesantren dan masyarakat menunjukkan Maulid memupuk solidaritas sosialgotong royong, pelestarian nilai lokal (seperti Grebeg, Nyiram Gong, Ampyang, etc.), dan penguatan spiritual dan toleransi.



Perayaan Maulid tahun 2025 menjadi simbol continuity of love kepada Rasulullah, dan juga identitas Muslim dalam era modern. 


Meski beragam pandangan ulama menyertainya, penting untuk memahami makna Maulid sebagai momentum refleksi spiritual dan solidaritas sosial, tidak semata ritualis. 


Bagi mereka yang mencintai sunnah, Maulid adalah ajang memperbaharui komitmen sebagai umat yang mencintai Nabi Muhammad SAW.








Referensi

Times of India. (2025). Eid Milad-un-Nabi 2025: History, significance, and rituals.  

India Times. (2025). Eid-e-Milad-Un-Nabi 2025: Maulid, date & significance.  

“Mawlid”. Wikipedia.  

Bouchiba, F., & Laakili, M. (Year). Doctrinal debates around the mawlid…  

Heridianto et al. (2025). Celebration Maulid Nabi role in community solidarity. IJoIS.  

As’ ad, M. (2019). Prophet Muhammad’s birthday in Indonesia. Teosofi journal.  

Islam On Web. (2025). Commemorating 1500th Birthday of Prophet Muhammad.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Penahanan Global Sumud Flotilla & Penjara Ketziot: Kondisi, Pelanggaran, dan Tantangan atas Kemanusiaan

Isu Pangkalan Militer Rusia: Diplomasi Dua Wajah dalam Politik Global