Dari Soft Power ke Hard Contradiction: Kepemimpinan Global AS dalam Bayang Gaza

 

Ilustrasi Donald Trump dan Gaza (Pic: Meta AI)


Penggunaan veto untuk melindungi Israel dan dukungan militer yang dianggap memperburuk krisis kemanusiaan mengikis kepercayaan internasional dan moral otoritas AS


Di tengah konflik Gaza-Israel yang makin panjang dan reportase korban sipil yang tinggi, Amerika Serikat secara konsisten menggunakan veto di Dewan Keamanan PBB untuk melindungi Israel dari resolusi gencatan senjata dan kritik internasional. 


Dukungan militer & diplomatik AS — termasuk suplai persenjataan dan pembelaan diplomatik — menghadirkan pertanyaan serius tentang legitimasi kepemimpinannya di dunia. 


Tulisan ini mengkaji bagaimana tindakan AS memengaruhi kredibilitas globalnya, efek terhadap norma internasional dan organisasi multilater dalam jangka menengah, dan opsi-opsi yang mungkin tersedia jika AS ingin memulihkannya.



Pendahuluan


Latar: sejak 2023, konflik Gaza–Israel meningkat drastis; laporan internasional (WHO, OCHA, media global) mencatat korban sipil & kondisi kemanusiaan makin memburuk.


Masalah: AS melindungi Israel lewat veto dan dukungan militer, sementara negara lain & masyarakat internasional menuntut pertanggungjawaban, gencatan senjata, dan penghentian aksi aneksasi.


Pertanyaan penelitian:

1. Bagaimana veto AS dan dukungannya mengubah persepsi kepemimpinan globalnya?

2. Apa dampak hukum terhadap norma internasional dan multilateralitas?

3. Bagaimana opsi AS untuk “menyelamatkan” legitimasinya?



Kronologi Peristiwa Terkait 


Tanggal

Kejadian Penting

7 Oktober 2023

Serangan Hamas ke Israel; memicu respons militer besar dari Israel di Gaza.

Mei-September 2025

Kondisi kemanusiaan di Gaza makin memburuk, laporan kelaparan/famine & pemecahan sistem layanan publik.

18 September 2025

AS melakukan veto atas resolusi PBB yang menyerukan gencatan asap segera di Gaza.

September 2025

Kritik publik dalam negeri AS khususnya dari Demokrat & generasi muda makin kuat terhadap dukungan AS pada Israel.

25 September 2025

Beberapa negara sekutu Barat mulai memperkuat pengakuan Palestina dan kritik terhadap aneksasi di Tepi Barat.



Analisis Hukum-Politik


1. Hukum Internasional & Norma Multilateral


Resolusi PBB & Veto AS


AS sebagai anggota tetap Dewan Keamanan punya hak veto, tapi penggunaan veto untuk melindungi tindakan yang dianggap melanggar hukum humaniter internasional merusak norma kolektif. 


Kegagalan untuk menghentikan tindakan pembantaian sipil, blokade kemanusiaan, dan aneksasi menjadi preseden negatif.  


Hukum HAM & Pengadilan Internasional


Ada tuduhan genocide di depan ICC & ICJ, serta klaim tindakan aneksasi yang ilegal menurut Konvensi Jenewa dan hukum yang mengatur pendudukan wilayah. 


AS yang secara diplomatik membela Israel menghadapi tekanan moral & legal.  


2. Kepentingan Strategis & Politik Dalam Negeri AS


Dukungan kuat terhadap Israel adalah bagian dari aliansi strategis, lobi Israel di AS, dan kepentingan politik domestik di antara pemilih konservatif & kelompok agama tertentu.  


Namun, gelombang kritik dari kelompok pemilih Demokrat dan generasi muda memperlihatkan bahwa fundament kepemimpinan yang berbasis moral bisa terguncang jika dukungan militer dianggap menyalahgunakan HAM.  



Dampak terhadap Kepemimpinan Global AS


Area

Potensi Dampak

Legitimasi Global

Penurunan kredibilitas AS sebagai ‘penjaga norma internasional’. Ketidaksanggupan mendorong penyelesaian damai bisa membuat negara lain melihat AS sebagai terlalu partisan.

Hubungan Diplomatik

Aliansi tradisional (Eropa, Kanada, Australia) mulai menunjukkan jarak: pengakuan Palestina, kritik terhadap aneksasi, keengganan mengikuti seluruh agenda AS.

Institusi Multilateral

PBB, UN Security Council, ICC, ICJ & norma hukum internasional kemungkinan melemah jika anggota tetap seperti AS terus menggunakan veto tanpa kompromi.

Reputasi Domestik

Pemilih muda & kelompok progresif menuntut politik luar negeri yang lebih etis dan transparan; jika AS diam terus, basis dukungan bisa berubah.



Opsi Pemulihan Kepemimpinan untuk AS


1. Kebijakan Transisi Taktis


Membuka opsi bagi resolusi yang dikompromikan: gencatan senjata sementara + pengiriman bantuan kemanusiaan + dialog internasional yang inklusif.


Menetapkan syarat bantuan militer agar Israel mematuhi hukum humaniter internasional.


2. Diplomasi dan Soft Power


Mendorong pengakuan formal terhadap Palestinian state di forum internasional dengan dukungan koalisi sekutu.


Memperkuat program-program diplomasi publik untuk menjelaskan posisi AS dan menanggapi kritik dengan transparansi.


3. Reformasi Politik Dalam Negeri


Kongres AS bisa mengadakan sidang evaluasi mengenai penggunaan veto & bantuan militer di Israel, mempertimbangkan opini publik.


Keterlibatan publik & NGO agar kebijakan luar negeri AS mencerminkan nilai-nilai HAM & sistem hukum.


4. Penciptaan Mekanisme Akuntabilitas


Mendorong investigasi kemanusiaan independen, dukungan terhadap pengadilan internasional.


Komitmen untuk menghormati keputusan ICJ/ICC bila ada bukti kuat pelanggaran.



Hipotesis ke depan


1. Jika kritikan global + tekanan dalam negeri bertambah, AS mungkin terpaksa mengubah sikap — setidaknya dalam diplomasi — atau mendorong kompromi atas resolusi PBB.


2. Kurangnya perubahan bisa mempercepat isolasi AS di beberapa forum internasional, serta memperkuat posisi negara-negara pemimpin alternatif.


3. AS yang mempertahankan dukungan tanpa syarat berpotensi kehilangan basis moral yang menjadi aset dalam soft power-nya — yang bisa berdampak jangka panjang pada pengaruhnya di Afrika, Asia, dan Timur Tengah.



Kepemimpinan global AS sedang dipertaruhkan karena konsistensi antara retorika dan tindakan mulai dipertanyakan. 


Penggunaan veto untuk melindungi Israel meski ada laporan pelanggaran HAM, dan dukungan militer yang dianggap memperburuk krisis kemanusiaan mengikis kepercayaan internasional dan moral otoritas AS.








Referensi

“US casts 6th veto at United Nations over war in Gaza.” Reuters. 18 September 2025.  

“Gaza ceasefire: US again vetoes UN resolution; vote held as Israeli offensive raged on.” Times of India.  

“US vetoes UN Security Council resolution demanding immediate Gaza ceasefire and hostage release.” AP News.  

“Israel is increasingly being treated as a global pariah. It’s shielded by Trump, for now.” AP News.  

“Democrats rapidly shift on Israel amid Gaza assault, evidence of famine.” The Washington Post.  

“The overdue recognitions of a Palestinian state.” Financial Times.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontaminasi Cs-137 pada Udang Indonesia: Antara Sains, Politik, dan Kepercayaan Global

Penahanan Global Sumud Flotilla & Penjara Ketziot: Kondisi, Pelanggaran, dan Tantangan atas Kemanusiaan

Isu Pangkalan Militer Rusia: Diplomasi Dua Wajah dalam Politik Global