Yang Tak Terlihat Bukan Berarti Tak Ada: Epistemologi Neraka, Ketakterlihatan, dan Kekeliruan Rasionalisme Dangkal
Ilustrasi (Sumber gambar: Grok AI) Jika Tuhan, malaikat, dan akhirat tidak ada —mengapa manusia tak bisa menunda kematiannya satu detik pun? Penolakan terhadap konsep neraka, Tuhan, dan realitas gaib sering didasarkan pada argumen ketakterlihatan ( invisibility argument ): “yang tidak dapat diindra berarti tidak ada.” Tulisan ini menunjukkan bahwa argumen tersebut secara filosofis dan ilmiah cacat. Dengan menggabungkan filsafat ilmu, teologi Islam, dan analisis rasional tentang eksistensi manusia, artikel ini membuktikan bahwa ketakterlihatan bukan kriteria ketiadaan. Neraka—sebagaimana Tuhan dan akhirat—tidak tunduk pada verifikasi empiris langsung, tetapi tetap rasional, koheren, dan perlu secara ontologis dan etis. Pendahuluan Kaum ateis modern sering mengadopsi empirisme ekstrem : hanya yang terlihat, terukur, dan terindra yang dianggap nyata. Akibatnya: • Tuhan ditolak karena tak terlihat • Neraka dianggap fiksi • Al-Qur’an diposisikan sebagai m...